
Pesta sudah di gelar, Barnes pun sudah siap dengan stelan jas yang nampak serasi dengan gaun Sofia.
Pria yang sudah tak muda lagi itu terlihat masih tampan meski keriputnya semakin banyak, usia 83 ini Barnes rasakan penuh kebahagiaan, dan lagi putra bungsunya akan segera menikah.
Kini tanggung jawabnya akan segera usai, setelah melihat putranya bahagia dengan belahan jiwanya, Barnes bisa mati dengan tenang.
"Kamu cantik sekali sayang," Barnes mengecup tangan Sofia.
"Kamu juga sangat tampan.." Sofia menunduk memberi kecupan di bibir Barnes "Selamat ulang tahun.."
"Usiaku semakin berkurang, dan terimakasih sudah menemaniku, menjadikan hidupku berarti.."
"Aku tidak akan lelah mencintaimu.."
"Aku tahu, terimakasih.. Baby" genggaman Bernes mengerat.
"Aku suka sekali saat kamu memanggilku begitu." Sofia terkekeh. "Aku merasa kembali muda.."
"Kamu memang masih muda, Baby.." Sofia tertawa dengan pipi memerah.
"Aku ingin sebuah hadiah.." kata Barnes, sebelah tangannya mengelus lembut pipi Sofia.
"Tentu aku sudah siapkan, aku yakin kamu akan menyukainya .."
Barnes menggeleng "Tidak, bukan yang itu.."
"Lalu apa, kau menginginkan sesuatu..?" Tepat saat Barnes akan membuka mulut, ketukan pintu menghentikannya.
"Katakan itu nanti, aku rasa semua orang sudah menunggu kita.." Barnes mengangguk. Sofia mulai mendorong kursi roda Barnes ke arah pintu.
Pintu terbuka menampilkan Alden dan Airin "Hallo Dad, selamat ulang tahun untukmu.." Alden memeluk Barnes.
"Kalian datang.."
"Hmm, kami sengaja datang lebih awal, untuk memberi selamat secara khusus."
"Aku kira Alan ada disini..?" Alden mengingat semalam pria itu marah padanya, tanpa di sangka Calvin tega melakukan itu pada Amanda, dan Alden langsung memarahi Roland membuat pria itu tak berkutik, Roland meminta maaf dan berjanji akan menghukum Calvin dengan berat.
Sofia mengeryit mendengar pertanyaan Alden "Tidak mungkin dia sedang bersiap di kamarnya, apa Amy sudah siap?."
"Aku sudah memintanya menemui Isa." Kata Airin, dan mendapat anggukan dari Sofia.
"Temuilah putri kalian sebelum melepasnya menjadi menantuku.." Airin dan Alden saling pandang.
"Apa maksudmu Mom.."
"Amy hari ini akan menjadi pengantin Alan."
Alden dan Airin tercengang "Tapi bukankah Isa.." Airin menutup mulutnya.
"Tidak kami sengaja menyembunyikannya dari kalian, aku dan Isa sudah merencanakan semuanya"
"Mereka saling menyukai dan menyembunyikannya dari kita, bukankah sangat seru mengerjai mereka lebih dahulu." Sofia terkekeh.
"Mom.. Kau tahu Amy sangat murung beberapa hari ini, setelah aku katakan kita akan membuat pernikahan kejutan untuk Alan."
Sofia terkekeh "Sebenarnya Daddy lebih dulu menyadarinya, sedangkan Mom baru tahu dari Isa.." Barnes mengelus tangan Sofia di bahunya.
"Aku selalu memperhatikan Alden yang berprilaku berbeda pada Amy, tapi rupanya itu hanya bentuk penjagaan seorang pria pada wanita bukan seorang Paman pada keponakannya." Alden tahu itu karena itulah Alan sangat marah dengan apa yang dilakukan Calvin, sialan semalam bocah kecil itu bahkan mengancamnya jika tidak segera bertindak.
"Apakah itu artinya mereka tahu, jika mereka bukan saudara kandung..?" Batin Airin mulai berkecamuk, "Bagaimana jika Amy tahu dia pasti sedih.." Alden mengusap bahu Airin.
"Tidak- tidak.. Aku ingin kita fokus pada pernikahan dahulu, nanti kita akan jelaskan yang sebenarnya."
Barnes menghela nafasnya "Harusnya kita beri tahu Amy lebih dulu Baby.. Dia akan kecewa jika tahu yang sebenarnya dia bukan anak Alden dan Airin."
"Entahlah aku tak tahu, tapi Alan yang mengatakan jika dirinya lah yang bukan keluarga kita." Sofia menghela nafasnya melihat Airin dan Alden terkejut.
"Aku ingin Alan yang menjelaskan semuanya, aku yakin mereka bisa bicara dari hati ke hati tentang ini.."
Airin memejamkan matanya, kenapa rahasia ini harus terbongkar, jika saja Amy tidak mencintai Alan.. Dia akan mengubur rahasia ini dalam, Amynya yang malang, akan segera tahu jika dia bukan ibu kandungnya.
"Tenanglah Airin, aku yakin Alan sudah memikirkan semuanya kenapa dia bicara seperti itu." Airin hanya bisa tersenyum lemah, Alden mengangguk "Semua akan baik- baik saja Honey."
Mereka terus berbincang tanpa mereka sadari seseorang di balik tembok tengah terpaku mendengar kenyataan yang baru di ketahuinya.
Jarak mereka yang dekat dengan pintu membuat pembicaraan mereka terdengar jelas di telinganya terlebih pintu yang terbuka membuatnya semakin leluasa mendengar semua kata demi kata itu.
Bukan Alan tapi dirinya yang bukan bagian dari keluarga Barnes, lalu apakah dia juga hanya anak panti seperti yang di katakan Alan, di pungut lalu di perlakukan layaknya ratu di keluarga ini, kenapa pria itu berbohong..
Meski ini menyakitkan tapi Amanda lebih suka mengetahui kenyataanya, dari pada harus berbohong dan mengetahui dengan tidak sengaja.
["Tapi Uncle, bagaimana perasaanmu.. em.. maaf saat kau tahu kau bukan anak kandung Kakek dan Nenek."
"Emmhh awalnya menyedihkan, tapi aku sudah terbiasa.."
"Tentu dan kau beruntung memiliki Nenek dan Kakek sebagai keluarga"]
Amanda teringat ucapan Alan kala itu, Amanda tak menghiraukan meski wajah Alan sedikit tegang saat pertanyaan itu keluar dari mulutnya, tapi Amanda kira itu hanya bentuk kecanggungan karena pertanyaanya, karena itu Amanda tak bertanya lagi tetang dari mana pria itu asalnya.
Dan kini Amanda ingin menertawakan dirinya sendiri, "Benar aku sangat beruntung di asuh oleh Mom dan Dad.."
Amanda berjalan gontai kembali ke kamar tamu yang di tempati Isa, niatnya untuk berterimakasih pada Sofia dan Barnes harus dia telan, kenyataan yang dia dapatkan membuatnya sakit.
Bukan, bukan karena dia tidak bersyukur di asuh oleh keluarga ini, tapi kenapa Alan harus berbohong, apakah pria itu kira ini lucu, bisa berkata seenaknya hanya karena dirinya hanya seorang anak asuh.
Amanda merasa bangga pada dirinya karena menyandang status keluarga Barnes, namun nyatanya dia hanya orang luar yang beruntung.
Apa dirinya terlihat menyedihkan, lalu Alan kasihan padanya.
"Oh, bagaimana kau sudah bertemu bibi Sofia,,Astaga, Amy kau menangis, apa yang terjadi.."
Amanda tertegun lalu mengusap wajahnya, tanpa sadar dia sudah tiba di kamar Isa. "Ah, aku hanya terharu jadi.. Aku tak terasa menangis begitu saja." Amanda tersenyum canggung.
Isa berdecak "Harusnya kau menahannya, lihat riasanmu jadi rusak.." Isa menggiring Amanda kembali duduk di meja rias "Tolong di rapikan lagi ya.." Isa meringis menatap Mua yang tertegun karena hasil karyanya sedikit rusak, tidak sepenuhnya rusak, karena riasan mereka termasuk waterproof namun jejak air mata Amanda cukup mengganggu. "Aku akan bayar kalian dua kali lipat.. Jadi ayo kerjakan."
"Tersenyumlah Amy, setelah ini kamu akan melihat Alan terkagum- kagum karena kecantikanmu.." Amanda mendongak dan melihat Isa begitu bahagia, tiba- tiba pikiran buruk itu terlintas lagi, apa Isa juga tahu yang sebenarnya.. Lalu dia juga ikut menyembunyikannya.. Amanda semakin merasa sedih. Kenapa semua orang berbohong padanya.
Mereka merasa kasihan padanya.
.
.
.
Maafin kalau ada typo ya.. Boleh di tandai nanti aku perbaiki
Boleh di lempar hadiah dongš¤