Make You Mine!

Make You Mine!
Tetap Tidak Bisa



"Bagaimana bisa dengan mudah kau melakukan itu Amy, aku sejak lama menahan perasaanku dan terus berusaha melupakanmu, lalu kemarin kau bilang menyukaiku membuatku berpikir keras dan kini dengan mudahnya kau bilang akan melupakanku!"


Amanda menegang dan berbalik "Uncle..?"


"Kau bahkan mungkin baru merasakan perasaan ini beberapa hari ini.. tentu saja kau bisa melupakanku dengan mudah."


"Tapi aku menahannya sejak dulu.. bahkan sejak kecil aku menyukaimu Amy.."


"Dan sulit bagiku untuk melupakanmu, meski segala cara sudah aku lakukan." Amanda menelan ludahnya kasar.


"Uncle.. k..au menyukaiku?"


"Ya, aku menyukaimu sejak usiaku 10 tahun, aku selalu mengkhawatirkanmu saat kau tak terlihat di pandanganku, aku rasa aku bisa gila jika tidak bisa memilikimu, aku sungguh egois aku bahkan cemburu saat melihatmu bersama pria lain."


Amanda menatap tak percaya, "Kau bercanda Uncle.. bagian mana yang kau bilang menyukaiku sejak kecil, kau bahkan terlihat sangat membenciku.."


"Coba katakan seperti apa yang kau bilang membencimu.."


"Kau mengekangku, kau selalu membentakku, kau bahkan tak pernah tersenyum padaku!" Alan mengangkat alisnya.


"Aku hanya berusaha menjagamu, aku membentakmu jika kau melakukan kesalahan dan itu karena mengkhawatirkanmu, aku selalu berusaha menahan perasaanku untuk itulah aku tak pernah tersenyum. kau ingat aku adalah pamanmu..?" Amanda tertegun.


Amanda masih berdiam dan menelan ludahnya kasar "Kau benar Uncle kita ini adalah saudara, jadi tidak sepantasnya ada perasaan diantara kita.. maka itu aku berusaha melupakanmu.." Amanda tertunduk, setetes air matanya menetes. Betapa sakitnya mencintai tapi tak bisa memiliki.


Alan mendekat dan menangkup pipi Amanda "Kita bisa berjuang bersama, kau memang keponakanku tapi.." Alan ingin mengatakan jika Amanda bukan keponakan kandungnya, namun ini bukan ranahnya untuk bicara, dan entah bagaimana perasaan Amanda jika tahu jika dia bukan anak kandung Alden dan Airin, gadis itu pasti akan bersedih.


Ya, Alan mengetahui bahkan sejak dulu, saat itu Alan tak sengaja mendengar obrolan antara orang tuanya dan Kakaknya Alden, tentang Amanda yang di adopsi dari sebuah panti asuhan, sejak saat itu Alan mulai melihat Amanda bukan sebagai saudaranya hingga perasaannya tumbuh, namun mommynya takut jika Alan memperlakukan Amanda dengan buruk karena selalu memarahi Amanda padahal Alan melakukan semuanya demi kebaikan Amanda sendiri. Sejak saat itu Sofia selalu memohon padanya untuk berbuat baik pada Amanda dan menjadi paman yang baik untuk Amanda.


Tapi sekarang bagaimana?, di saat perasaannya bersambut Alan masih harus diam dan melepas Amanda begitu saja?.


Amanda menyukainya, bagaimana bisa dia rela melepaskannya..


Alan memeluk Amanda, perasaannya membuncah bahagia. Kini dia tak perlu menutupi lagi perasaannya dan dia bisa memiliki Amanda sepenuhnya, menunjukan perhatiannya tanpa menutupinya sedikitpun.


Amanda mengerjap beberapa kali lalu mendorong bahu Alan saat akal sehatnya bekerja, untuk sesaat Amanda menikmati pelukan hangat Alan, dia sungguh merindukan Alan tapi... "... bagaimana dengan Mommy , Daddy, Kakek dan nenek? dan juga kak Isa.. kau, kau tidak memikirkan perasaan mereka.."


"Aku tidak mencintai Isa, sejak dulu aku hanya menganggapnya sahabat.."


"Ini sudah salah sejak awal uncle, perasaan kita memang tidak boleh ada.."


"Lupakanlah aku Uncle, aku juga akan melupakanmu.." Alan menggeleng.


"Tidak, sudah sekian lama aku mencoba melupakan tapi tidak bisa Amy, tidak bisakah kita jalani ini. Apapun yang terjadi kita akan menghadapinya."


"Aku tak mau membuat mereka kecewa Uncle.."


"Amy.."


"Sudahlah Uncle, aku juga sulit melupakanmu.. tapi setidaknya aku berusaha, Uncle bisa mulai mencintai Kak Isa agar bisa melupakanku.."


"Aku sudah mencobanya, tapi tetap saja aku tidak bisa menghilangkan bayanganmu, setidaknya beri aku kekuatan Amy tetap bersamaku .. agar aku bisa meyakinkan mereka.."


"Kita ini saudara Uncle, tetap tidak bisa.." Amanda menggeleng lemah, dia sungguh tak ingin mengecewakan semua orang, apalagi Isa.. dia terlihat sangat bahagia saat bersama Alan.


"Haruskah aku mengatakan semua ini Amy.." Alan menundukkan wajahnya, lalu menghela nafasnya dalam.


"Aku bukan pamanmu!"