
Alan membawa Amanda keluar dari mobil setelah pintu terbuka oleh supirnya.
Memasuki sebuah hotel, Alan memilih membawa Amanda menginap di hotel dekat vila, mengingat dia juga harus bersiap untuk ulang tahun Daddy Barnes besok malam.
Alan menghela nafasnya setelah berhasil meletakkan Amanda di atas ranjang.
Wajah Amanda berantakan dengan rambut kusut dan bau alkohol menguar, Alan menggeram.. susah payah dia menjaga Amanda agar tidak terjerumus, tapi gadis ini malah sengaja menerjunkan diri dan pergi dengan Calvin si playboy sialan.
Setelah Alan menyadari jika pria yang membawa Amanda adalah Calvin, dia tahu club mana saja yang selalu Calvin datangi, dan benar saja meski sudah dua tahun ini Calvin pergi untuk mengenyam pendidikan di luar negeri, pria itu masih saja suka bersenang- senang.
Alan menekan layar ponselnya dan mendekatkannya ke telinga, dengan tatapan tak lepas dari Amanda, Alan bicara dengan orang di sebrang sana.
"Kamu menyerahkan putrimu pada pria brengsek!" Alan berkata dingin tak peduli meski orang itu lebih tua darinya.
"Aku akan buat perhitungan dengannya jika kamu tidak bertindak sebagai ayah Amy!"
Alan memutus sambungan dia benar- benar sudah berlaku tidak sopan, tapi jika itu menyangkut Amanda dia tidak akan segan.
Alan menyugar rambutnya dengan beberapa kali menghela nafasnya, mencoba menahan amarah, percuma dia marah, Amanda bahkan tidak sadar.
"Apa yang kau lakukan Amy, kau melakukan ini karena aku menolakmu. Aku bahkan tak mengerti bagian mana kesalahanku, hingga kamu marah dan mengabaikan aku."
Alan mengelus pipi Amanda lembut lalu naik untuk merebahkan dirinya di sebelah Amanda. Memeluk gadis itu meski dalam keadaan bau alkohol, Alan tetap merasa nyaman.
Akhirnya Alan memilih meredakan amarahnya dengan memeluk Amanda semalaman, tertidur bahkan sangat lelap.
...
Amanda mengerang merasakan sakit di kepalanya, dia ingat semalam dia dan Calvin pergi ke club malam lalu minum, dan sudah di pastikan jika dirinya akan mabuk.
Amanda mendudukan dirinya lalu melihat sekitarnya, ini bukan kamarnya, mungkin Calvin membawanya ke hotel.
Amanda menunduk melihat dirinya dan memastikan pakaiannya masih utuh, rupanya playboy itu masih punya nurani untuk tidak menyentuhnya.
Amanda mende sah lega, karena dirinya baik- baik saja, tapi tunggu dimana Calvin sekarang, apa pria itu meninggalkannya begitu saja disini.
Amanda menoleh saat mendengar pintu kamar mandi terbuka "Calv.." ucapan Amanda tertelan kala pria yang dia lihat bukan Calvin melainkan Alan "Uncle.. kau?"
"Kenapa kau ada disini?"
"Kenapa?, kau berharap Calvin yang ada bersamamu." Amanda memalingkan wajahnya saat Alan berjalan ke arahnya dengan melempar handuk kecil bekas menggosok kepalanya, Alan baru saja selesai mandi dan kini pria itu hanya mengenakan handuk untuk menutupi pinggangnya dan berjalan dengan tatapan tajam ke arahnya.
"Ada apa denganmu Amy, bagaimana bisa kamu pergi dengan pria brengsek seperti Calvin."
"Dia tidak seberengsek itu, dia cukup baik."Amanda mencicit masih enggan melihat Alan.
"Baik kau bilang, dia hampir menciummu, bahkan jika aku tidak datang dia mungkin akan menidurimu!." Alan mengeram marah.
"Lihat aku Amy, aku bicara denganmu!" Bentakan Alan membuat Amanda terlonjak kaget.
Amanda menatap marah pada Alan.
Alan menghela nafasnya lalu memejamkan mata, berusaha untuk tidak terlalu jauh.
"Bersiaplah, kita akan ke vila, ulang tahun Daddy malam ini, kamu ingat." nada bicara Alan melembut.
Amanda kembali memalingkan wajahnya "Aku tidak akan datang."
"Ada apa denganmu Amy, katakan padaku, kau marah..? karena apa."
Amanda menunduk "Ulang tahun kakekmu dan kamu tidak akan hadir?. apa yang akan orang lain pikirkan."
Tapi mulut Amanda terkunci rapat.
...
Amanda berjalan ke arah kamar tamu yang di tempati Isa, Isa bilang dia sudah menyiapkan gaun untuknya, awalnya Amanda tak ingin memakainya, tapi karena keadaannya sekarang mau tak mau dia harus mengenakannya.
Amanda mengetuk pintu dan masuk setelah pintu terbuka dari dalam.
"Kamu sudah datang.." Terlihat Isa yang memainkan ponselnya, disana juga tergantung beberapa gaun, lalu ada gaun yang sangat Amanda inginkan, gaun pengantin yang dia lihat di etalase tempo hari.
Amanda menghela nafasnya, dia hanya perlu datang lalu pergi setelah acara berubah menjadi acara pernikahan, dia tak perlu menyaksikan kesakitannya "Mom bilang, kau sudah menyiapkan gaun untukku.?"
Isa mengangguk "Ya, cepat kemarilah acaranya akan segera dimulai." Amanda mengeryit saat melihat Isa masih mengenakan dress selutut yang biasa di kenakan ketika santai, bukankah harusnya dia juga sudah siap dan mengenakan gaunnya, gaun pengantin. Mengingat pesta akan segera di mulai.
Isa menarik Amanda ke arah kamar mandi "Sekarang bersihkan dulu tubuhmu, semua sudah siap."
Amanda menggeleng "Tidak aku akan melakukannya di kamarku, aku hanya mengambil gaunku."
"Jangan berisik dan lakukan perintahku!" Amanda di dorong masuk ke dalam kamar mandi.
Amanda mengeryit saat melihat dua orang pelayan di dalam kamar mandi "Apa yang kalian lakukan disini?"
"Kami akan membantu anda membersihkan diri Nona.." Amanda melihat bathub yang di penuhi kelopak mawar, dan juga beberapa alat spa "Mari silahkan, buka pakaian anda."
"Tunggu, haruskah aku melakukan ini?." mungkin mereka salah orang, dan yang harus melakukan ini adalah calon pengantin, tapi kenapa Isa malah mendorongnya masuk.
"Ya, nona." Amanda berbalik dan membuka pintu yang terkunci.
"Cepatlah Amy, kita tidak punya banyak waktu aku juga belum bersiap."
"Kak, kau saja lebih dulu.."
"Amy, semua keluarga mendapat perawatan sebelum pesta, ada apa denganmu, cepatlah." memang benar, tapi melakukannya di kamar pengantin membuatnya canggung, terlebih ada rasa sakit mengingat calon mempelai prianya adalah pria yang dia cintai.
Tak ingin melamun dan menyita banyak waktu, Amanda mulai menanggalkan pakaiannya dan masuk ke dalam bathtub, menenangkan diri sambil merasakan pijatan di tubuhnya.
Usai melakukan perawatan Amanda keluar dari kamar mandi dengan penampilan lebih segar dan nyaman.
Amanda di giring dan di dudukan di meja rias dengan MUA yang sudah siap dengan berbagai alatnya.
Lagi- lagi Amanda di buat mengeryit dengan apa yang terjadi, Amanda melihat ke arah Isa yang bersiap pergi ke kamar mandi. "Aku akan bersiap dulu okey.."
Amanda mengangguk kebingungan dengan wajahnya yang mulai di polesi make up.
Beberapa saat kemudian Amanda sudah tampil cantik dengan riasan natural, namun cukup membuatnya pangling "Cantik sekali.. apalagi jika gaunnya sudah kau pakai, kau akan seperti princess hari ini."
Amanda melihat dirinya memang sangat cantik, lalu menatap handuk kimono yang melekat di tubuhnya "Baiklah, bisa tolong ambilkan gaunku.." Amanda tak tahu gaun yang mana yang di siapkan Isa untuknya.
"Baik nona.."
"Tunggu, itu bukan gaunku.." Amanda memang tak tahu yang mana gaunnya, tapi jelas yang di ambil Mua itu bukan gaunnya, karena itu gaun pengantin Isa.
"Maaf, nona. Tapi Nona Isa mengatakan ini gaun mu." Amanda mengeryit.
Amanda melihat ke arah kamar mandi dimana Isa belum juga keluar.
Ada apa dengan Isa?..