
Amanda mengerjapkan matanya saat dia baru saja tiba di sebuah butik pakaian pengantin, Satu jam lalu Isa menghubunginya dan berkata supirnya akan menjemput Amanda, saat Amanda bertanya akan kemana?, Isa justru menjawab ini darurat ikutlah dengan supirnya.
Jadi tanpa berpikir panjang Amanda pun memutuskan untuk datang, dan kini mata Amanda mengedar mencari Isa yang entah berada di mana.
"Nona Amanda?" seorang pelayan toko bertanya dan menghampirinya.
"Ah, ya.."
"Mari ikut saya, nona Isa sudah menunggu." Amanda mengangguk dan mengikuti pelayan tersebut memasuki sebuah ruangan.
Amanda menelan ludahnya saat melihat banyak nya gaun pengantin yang terpajang apakah Isa akan melakukan piting pakaian pengantin untuk pernikahan kejutan yang akan di adakan.
"Amy, kau sudah datang.." Isa muncul mengenakan baju berwarna putih dengan aksen bunga ke yang di buat melingkar di sepanjang pinggang hingga menjuntai ke mata kaki, dengan taburan permata di setiap bunga membuatnya terlihat cantik dan mewah "Bagaimana menurutmu?" Isa berputar agar Amanda bisa melihat keindahan gaunnya.
"Hmm.. cantik."
"Benarkah?" Amanda tersenyum.
"Baiklah tunggu sebentar aku akan coba yang lainnya.. tetap di sana aku butuh pendapatmu, kau tahu ini sangat merepotkan, dan aku tak bisa bertanya pada Alan apakah dia menyukai gaunnya atau tidak." Isa kembali masuk ke dalam bilik sedangkan Amanda melipat bibirnya, benar perkiraannya Isa sedang melakukan piting pakaian pengantin untuk pernikahan kejutan mereka.
Untuk sejenak Amanda menjadi bimbang, Isa tetap melanjutkan nya, dan Alan berfikir untuk memberikan waktu, lalu bagaimana nanti saat acara berlangsung dan Alan tak bisa menolaknya, bagaimana dengan dirinya sendiri?.
Amanda mengedarkan pandangannya agar tidak terlalu fokus pada sakit di hatinya, Amanda menghela nafasnya melihat semua gaun yang terpajang indah di setiap etalase, malah membuatnya sedih bukan main.
Amanda menatap sendu sebuah gaun sebatas lutut namun belakang punggungnya memiliki panjang yang menjuntai indah hingga menyapu lantai, bagian atas tanpa lengan dengan leher membentuk V dan akan menampakkan tulang selangka jika di kenakan. "Cantiknya.." Amanda melenguh dan meraba kain halus dan berkilau tersebut, andai ini untuk pernikahannya, Amanda akan memilih gaun ini.
Di dalam bilik Isa mengintip apa yang di lakukan Amanda di luar sana "Kau lihat, dia mengagumi gaun itu.. baiklah kita pilih itu saja... pintar sekali gadis bodoh itu."
"Baik Nona.."
"Ya, kau boleh pergi.." Isa menegakkan tubuhnya lalu menekan layar ponselnya sebelum mendekatkannya pada telinga "Hallo.. ya semua sudah selesai.."
"Kau bisa membuatnya memilih sendiri..?" suara seseorang di seberang sana terdengar.
"Ya, aku hanya perlu memancingnya untuk datang dan Amy terlihat sangat tertarik pada sebuah gaun.."
"Kau yakin Alan akan menyukai gaunnya?"
"Untuk apa tanya pria itu, yang penting Amy terlihat cantik."
"Baiklah, lakukan apapun yang terbaik.."
"Jangan khawatir bibi.. kejutannya akan membuat Alan sangat terkejut.."
Isa memasukan kembali ponselnya ke dalam tas, dan mengawasi Amanda yang masih diam di posisi yang sama.
"Kalau aku tidak melihat kalian waktu itu di perjamuan makan aku pasti sudah di bodohi.. cih yang satu keras kepala, yang satu tak menyadari perasaannya" Isa mengetahui keduanya saling menyukai saat mereka berada di jamuan makan, melihat Alan yang tak melepas tatapannya dari Amanda membuat Isa curiga, bahkan saat Amanda bilang akan ke toilet, Alan pun memutuskan untuk pergi. Tanpa Alan tahu setelah Alan pergi dan berpamitan Isa pun mengikuti kemana Alan pergi.
Dan sampai saat tiba di mana Alan berada Isa membelalakan matanya saat pria itu mendesak Amanda dan menciumnya.
"Apa yang kau lakukan Uncle.." Isa masih tertegun dengan pemandangan yang di lihatnya. "Apa ini juga karena terbawa suasana.."
"Amy.."
"Jika untuk memperingatkan aku kau bisa memaki dan memarahi seperti biasanya, kenapa harus menciumku.." Isa mengangguk tanpa sadar, benar kenapa Alan harus menciumnya.
"Lalu dengan mudahnya kau akan bilang kau terbawa suasana?.."
"Kau jahat sekali uncle, setelah ini aku harus berusaha lebih keras untuk melupakanmu.."
"Kau.. kau menyukaiku?" Isa menatap Alan tak percaya.
"Tidak!, Tidak akan, aku tidak akan menyukaimu, jangan bermimpi.. aku membencimu!" Saat Amanda pergi Isa segara kembali dan duduk di tempanya semula, merasa apapun rencana pertunangan atau pernikahan ini tidak akan berjalan lancar dan tentu saja tanpa ada perasaan di antara keduanya, Isa pun menatap Sofia yang mengeryit menatap ke arahnya.
"Bibi..Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan.." Sofia meng iyakan dan mereka berjanji untuk bertemu di lain haru.
Sehari setelah perjamuan makan keluarga tersebut Isa menemui Sofia dan mengatakan apa yang di lihatnya.
"Apa kau serius.." Sofia menganga tak percaya.
Isa mengangguk "Lalu bagaimana denganmu..?"
Isa menghela nafasnya "Aku tidak mengkhawatirkan diriku, tapi mereka.. kasihan sekali mereka tidak bisa bersama.."
Sofia meringis "Tidak Isa, mereka bukan saudara kandung.."
"Apa!?" dan Sofia pun menceritakan rahasia keluarga mereka tentang Amanda yang sebenarnya bukan cucu kandung keluarga Barnes.
"Tapi bagaimana dengan mu Isa.." Yang Sofia tahu Alan dan Isa saling menyukai.
"Apanya yang bagaimana, sebenarnya aku juga tidak mencintai Alan, aku memang menyukainya tapi hanya sebagai teman."
"Kau yakin?"
"Ya, dan bukankah bagus jika mereka yang sebenarnya saling menyukai itu bersatu.."
Sofia tersenyum "Tapi Alan selalu memarahi Amanda.." Sofia masih tidak percaya, dengan kenyataan yang di dengarnya masih mencoba mengelak.
"Bagaimana kalau kita buat sebuah kejutan dengan beberapa drama agar mereka mengakui perasaan mereka."
Dan rencana pun dimulai.
Sofia menyiapkan mata- mata yang mengikuti keduanya, bahkan dia meminta kepada pelayan rumah besar Barnes untuk mengawasi apa yang terjadi disana, hingga akhirnya Alan mengakui perasaanya pada Amanda dan pelayan itu pun merekam semua percakapan mereka dan memberikannya pada Sofia.
"Yang benar saja aku harus menikah dengan Alan.. untunglah aku tahu jika mereka bukan saudara kandung.." Isa menatap sendu Amanda, apa jadinya kalau Amanda tahu bahwa dirinyalah sesungguhnya yang bukan bagian dari keluarga Barnes bukan Alan.
"Kenapa Alan harus berbohong.." Isa tahu Alan tak ingin membuat Amanda sedih seperti apa yang di katakan Sofia saat menonton rekaman pernyataan cinta Alan.
"Dia pasti tak ingin Amanda bersedih saat mengetahui kenyataan ini.." Isa tahu, tapi bagaimana perasaan Amanda saat mengetahui kenyataan yang sebenarnya bahwa dirinya yang bukan bagian dari keluarga Barnes.
"Semoga semua berjalan seperti rencana."