Make You Mine!

Make You Mine!
Meluapkan Perasaan



"kamu sudah sampai di rumah?" Alan mendesah saat mendengar suara Isa di seberang sana.


"Hmmm.."


"Kamu belum tidur?"


"Aku baru selesai membersihkan diri.."


"Ya sudah, tidurlah aku juga lelah.."


"Baiklah, selamat malam Alan.."


Alan menutup panggilannya dan kembali menatap ke arah dimana rumah Amanda berada, Alan mendesah lelah sedang apa dia disini, sangat percuma dia berada di depan rumah Amanda yang bahkan jendela rumah itupun tak terlihat karena tertutup pagar yang tinggi belum lagi pelataran yang lumayan luas, hingga dia tak bisa melihat apapun, tapi jika pulang pun dia pasti tak bisa tenang.


Alan akan terus mengingat ucapan Amanda, semuanya mengganggunya, mengganggu hati dan pikirannya.


Alan ingin mencari kejelasan, benarkah Amanda menyukainya?.


Dia harus memastikan hingga dia bisa memutuskan akan apa selanjutnya, meski mungkin dia akan di bunuh Alden dia akan menerimanya.


Alan mencoba menghubungi Amanda namun untuk kesekian kalinya Amanda mengabaikannya.


Alan menghela nafasnya lalu melihat ke arah supir yang sejak tadi diam tak menghiraukannya, nampak dia juga tak ingin ikut campur dengan urusan majikannya, "Kita pulang!"


"Baik Tuan.." Alan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi lalu memejamkan matanya.


...


Keesokan harinya..


Jam makan siang..


Alan memarkirkan mobilnya di depan sebuah cafe tempatnya dan Isa akan makan siang bersama.


Isa tersenyum menggandeng tangan Alan dan memasuki cafe, di saat yang sama Amanda baru saja keluar setelah membeli kopi dalam sebuah cup untuk ia nikmati bersama Mina.


"Oh Amy..." Isalah yang pertama kali menyadari.


"Hay Kak.. Uncle." Amanda mendongak tertegun sesaat lalu tersenyum menyapa.


Alan dengan sedikit canggung melepas tangan Isa yang masih memeluk tangannya, Sial lagi- lagi dia seperti pria yang tertangkap selingkuh.


"Kau makan siang disini.."


"Tidak, aku hanya membeli kopi.." Amanda mengangkat dua cangkir kopi di tangannya.


"Jika begitu ayo makan siang bersamaku dan Alan.." Amanda menggeleng.


"Tidak temanku menunggu di mobil.. maafkan aku kak, aku harus segera pergi." dengan cepat Amanda melewati Alan dan Isa lalu keluar dari Cafe.


Alan menatap kepergian Amanda dengan menghela nafasnya kenapa mereka bisa bertemu di saat seperti sekarang, dan kenapa rasanya sangat canggung, apa karena perkataan Amanda kemarin. Alan ingin memastikan, namun dia belum juga mendapatkan waktu yang tepat, belum lagi ponsel Amanda yang tak bisa dia hubungi, entah gadis itu memblokirnya.


"Apa menurutmu Amy terlihat aneh?" Isa mendongak melihat Alan yang masih menatap kepergian Amanda


Alan tak menanggapi dan berjalan ke arah kasir untuk memesan.


.


.


Amanda memasuki mobil dengan segera dan menghela nafasnya, "Kau kenapa?" Mina mengeryit heran saat melihat Amanda masuk dengan terburu- buru.


"Tidak, ayo Pak, jalan!" Amanda melihat ke arah dua bodyguard sekaligus supir di depannya.


"Kau di kejar hantu.."


"Lihat saja kau terengah begitu.."


"Aku hanya tidak sabar untuk segera menonton filmnya, Kau membeli kue nya?" Tanya Amanda pada Mina yang dia tugaskan untuk membeli beberapa kue dan camilan, sedangkan dirinya sendiri membeli kopi.


"Tentu saja, kita akan menonton dan makan sampai puas.." Mina menunjukan beberapa bungkusan kotak dan kantung berlogo mini market, baguslah Amanda berhasil mengalihkan pembicaraan.


Mereka berencana akan menonton drama di apartemen Mina, sebenarnya Amanda membutuhkan pengalihan pikiran, dia terus memikirkan perkataanya pada Alan kemarin malam, dan sekarang dia merasa malu, bagaimana mungkin Amanda mengakui bahwa dia menyukai Alan.


Meski tidak di ucapkan secara gamblang tapi Alan pasti mengerti dengan ucapannya, dan saat akal sehatnya terkumpul Amanda memaki dirinya, bagaimana bisa dia mengatakan semua itu pada pamannya, tapi itu juga karena Paman sialannya menyulut emosinya dengan menciumnya membabi buta, dia pikir siapa dia yang bisa terus memperlakukannya seperti itu, menciumnya lalu berkata 'Maaf, aku terbawa suasana' bukankah itu brengsek!? .


Karena itu dia meminta izin pada Mommynya untuk pergi menginap dan menonton di apartemen Mina.


Dan tak seperti biasanya Mommynya menyetujui permintaannya.


Entahlah mungkin karena sang Mommy melihatnya selalu murung dan tak bersemangat, lalu menjadi kasihan.


...


"Kisah hidupnya tragis sekali.." Amanda mengusap air matanya dengan tisu.


Mina mengangguk mereka menangis setelah menonton film yang berakhir menyedihkan.


"Kau tahu sakitnya cinta bertepuk sebelah tangan, bahkan orang itu tak mengetahuinya..?" Mina mengeryit dan menatap Amanda yang tak berhenti mengusap air matanya.


"Kau tahu tidak, rasanya sakit sekali.. seperti dia.." Amanda menunjuk tokoh utama.


"Yang lebih menyakitkan orang itu akan segera menikah, maka tidak ada cara lain selain menghilangkan rasa itu, tapi sulit sekali.."


Mina mengerjapkan matanya, "Kau ini bicara apa?" perkataan Amanda semakin melenceng dari alur film yang baru mereka tonton.


tokoh utama wanita memang menyukai seorang pria kaya namun karena perbedaan kasta, sang tokoh wanita hanya berakhir dimanfaatkan oleh sang pria dijadikan budak seumur hidupnya, namun dia tetap mencintai sang pria dengan tulus sampai akhir hayatnya.


Dan apa yang Amanda katakan, pria itu akan menikah dan harus segera melupakannya?..


"Amy, ada yang kau sembunyikan dariku?" Mina menatap Amanda dengan serius lagipula film yang mereka tonton sudah selesai, dan Mina sebenarnya keheranan bagaimana bisa Amanda bebas dan bisa menginap di apartemennya malam ini, ya.. meskipun diluar sana dua pria berbadan besar berdiri tepat di depan pintu unitnya, tentu saja untuk menjaga Amanda.


"Mina... hiks.. hiks.." Amanda semakin menangis dan memeluk Mina, dia menangis sedih di pelukan Mina hingga beberapa menit kemudian Mina mendorongnya.


"Jelaskan apa yang terjadi padaku!" Amanda mengusap ingusnya dan mulai bercerita dengan tersendat..


Sepanjang Amanda bercerita Mina tercengang bukan main, tak menyangka jika Amanda akan menyukai pamannya sendiri, tapi mau bagaimana lagi Alan memang tampan dia saja tergila- gila, meski tidak berambisi, tapi Mina akui pesona Alan membuat para wanita hilang akal, namun Mina tak menyangka jika Amanda yang selama ini selalu berkata membenci pamannya dan selalu sengaja membuat masalah akan menyukainya juga.


"Apa yang harus aku lakukan Mina..?"


Mina menggaruk tengkuknya, dia kira keponakan yang jatuh cinta pada pamannya hanya ada di novel, namun ternyata ini juga terjadi di hadapannya sekarang dan itu menimpa Amanda.


"Ah.. bagaimana ya.." Mina sungguh bingung. "Mungkin benar kau harus melupakannya.. karena Pamanmu juga kan akan menikah."


"Huaaaa..." Amanda semakin histeris dan membuat Mina semakin bingung, pasalnya Amanda tidak pernah menangis meraung seperti sekarang. "Aku sudah mencobanya tapi tidak bisa.. hiks.." Mina menghela nafasnya dan membiarkan Amanda menangis sepuasnya dia kira Amanda butuh meluapkan perasaannya, dan Mina rasa Amanda memang sudah menahannya sendirian. Benar saja setelah puas menangis Amanda merasa sedikit tenang.


"Minumlah.." Mina memberikan air putih, dan membuat Amanda mendongak dan menerima air tersebut.


"Terimakasih.."


"Amy, aku tak tahu kau akan setuju atau tidak, tapi menurutku kau bisa memulai hubungan dengan pria lain, ya meskipun itu artinya kau membuat pria itu pelarian, tapi kau bisa mencobanya.."


"Akan lebih bagus jika pria itu bisa membuatmu melupakan mmm.. pamanmu." Mina menggaruk tengkuknya.


"Bagaimana jika aku tetap tak bisa melupakannya.." Amanda menunduk.


"Setidaknya kau sudah berusaha.."


"Mau aku kenalkan kau dengan seorang pria?."