
Amanda menyusuri jalanan berbekal lampu senter yang di dapatnya dari nenek Doris, jalanan cukup terang di beberapa titik karena Barnes menyediakan lampu jalanan di sekitar hutan pinus, mungkin untuk para penjaga yang akan berpatroli, tapi sepanjang jalan Amanda tidak melihat satu orangpun, tanpa dia tahu semua penjaga sedang di kerahkan mencarinya.
"Jangan lihat apapun, jangan lihat apapun.." meskipun cukup terang dengan lampu jalanan dan bulan di langit bersinar sempurna, tetap saja di sisi jalan ada hutan pinus yang gelap, dan Amanda sedikit merinding di buatnya.
Amanda suka suasana remang seperti club malam, namun yang di hadapinya saat ini bukan club malam, melainkan hutan yang entah ada apa saja di dalamnya, bagaimana jika tiba- tiba ada hewan buas, atau mungkin hantu yang tiba- tiba muncul dan keluar dari kegelapan. Hiiii.. Amanda mengusap tengkuknya yang merinding.
"Aku rasa tadi saat kemari perjalanannya tidak selama ini, kenapa vila masih belum terlihat.." keluhnya dengan badan gemetar.
Dia tadi sok berani dan tidak mau diantar Doris, karena merasa kondisi Doris yang masih kesakitan akibat terjatuh tadi, maka saat Doris akan mengantarnya Amanda bersih keras menolak dan dia bilang bahwa dia adalah wanita pemberani, tapi berhadapan langsung dengan alam liar rupanya dia juga bisa ketakutan.
Amanda berjalan sedikit cepat karena semakin lama dia rasa semakin menakutkan, Amanda menghentikan langkahnya saat dari arah berlawanan terlihat sebuah cahaya yang menyilaukannya, Amanda yang sejak tadi ketakutan merasakan tubuhnya semakin bergetar, matanya menyipit menajamkan penglihatannya "Apa itu.. si..siapa disana!" Amanda berteriak.
Namun Amanda malah melihat sinar itu semakin mendekat seperti kecepatan kilat, dan membuat Amanda melangkah mundur Amanda akan berlari ke arah dimana rumah Doris berada, dan akan pulang ke vila besok pagi saja saat sudah terang, tiba- tiba penyesalan merasuki hatinya, kenapa dia harus keluar vila di sore hari, akibat dari mengikuti hatinya yang gundah Amanda terjebak sekarang, dia ketakutan dan sendirian di jalanan gelap.
"Amy!" Amanda membeku, dan menoleh dan mendapati Alan disana, pria itu nampak terengah setelah berlari.
Amanda mengerjap tak percaya. "Uncle.."
Buk..
Amanda terhunyung merasakan tubuhnya di tubruk sesuatu yang keras, hingga membuat Amanda membeku saking terkejutnya. "Uncle..?" Alan memeluknya sangat erat.
"Dasar bodoh, darimana saja kau!" Amanda tertegun "Kau tahu aku sungguh khawatir..!" Telinga Amanda sepertinya berdenging saat mendengar suara Alan, Amanda dan Alan jarang melakukan sentuhan fisik bahkan hingga waktu selama ini, namun saat ini Alan memeluknya, Alan masih memeluknya dengan erat dan lama, tubuh mereka merapat dan Amanda merasakan sesak saking eratnya Alan memeluknya, Astaga.. apa Alan merasakan debaran jantungnya saat ini, apalagi tubuh mereka sedang merapat.
Dan apa katanya tadi Alan mengkhawatirkannya, bagaimana bisa pamannya mengkhawatirkannya, hingga Alan menangis, ya pria itu menangis di bahunya.
Amanda merasakan hatinya berdesir hebat, tiba- tiba jantungnya ingin meledak karena debaran yang tiba- tiba saja semakin kencang.
Degh..
Degh..
Degh..
Astaga apa ini? Amanda berteriak dalam hati.
"Kau baik- baik saja?" Alan melepas pelukannya dan menangkup pipi Amanda, Alan mengelus pipinya lembut.
Amanda terpaku, apa dia bermimpi, Alan berubah menjadi lembut.
"Y..ya.." Amanda menjawab dengan sedikit terbata, melihat tatapan Alan yang penuh kekhawatiran sekaligus merasa lega membuat Amanda gugup, wajah pria itu sayu penuh kelembutan, sejenak terlintas pemikirannya tentang Alan yang menyukainya, namun sedetik kemudian pemikiran itu terhempas saat Alan kembali membentaknya.
"Sial.. Amy apa kau tidak bisa diam!" Amanda mengerjap saat melihat tatapan Alan kembali menajam dengan gigi gemelutuk, hingga tanpa sadar Amanda mundur satu langkah.
"Kenapa kau suka sekali membuat masalah!" Amanda masih diam saking terkejutnya dengan bentakan Alan, kemana tatapan khawatir dan penuh kelembutan pria itu tadi, kenapa secepat kilat Alan berubah kembali menjadi galak.
"Kau suka merepotkan semua orang! hah!.." bentaknya lagi.
"Kenapa kemanapun kau pergi selalu membuat masalah, tidak berguna!" Amanda tidak berkutik, raungan Alan begitu menyakitinya, rasanya sakit hati. Amanda sakit saat Alan terus saja membentaknya, Amanda serasa terbangun dari mimpi..
Kenapa dengan hatinya, padahal biasanya jika Alan bicara dia tak pernah merasa sesakit ini, Amanda meneteskan air matanya "Kau sudah selesai Uncle..?" Amanda berkata lirih "Kau bisa memarahiku nanti, aku lelah.." Amanda melangkah acuh melewati Alan yang tertegun.
"Amy.. kau menangis?"
Amanda mengusap air matanya "Tidak.." Amanda terus berjalan.
"Bukan urusanmu!" Alan menggeram marah, namun dia berusaha menahannya dan terus mengikuti Amanda.
Biarlah dia memarahi gadis itu nanti, 'gadis pembuat masalah' keluhnya dalam hati, hampir saja dia memasuki hutan pinus jika tidak menemukan gelang Amanda yang terjatuh di pinggir jalan, dan dengan perasaan hampir gila Alan memutuskan untuk terus menyusuri jalan , rasa takut tak bisa menemukan gadis itu terus menghantuinya, hingga dia melihat setitik cahaya dari senter yang dibawa Amanda.
..
"Oh Amy, kau membuat nenek khawatir.." Amanda meringis, benar kata paman jahatnya itu Amanda merepotkan semua orang, Sofia terlihat gelisah dia pasti sangat khawatir.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud.." Amanda menunduk penuh sesal.
Isa menepuk pundak Amanda "Tidak masalah yang penting kamu sudah kembali.."
Amanda tersenyum.
"Maafkan aku kakek.." Barnes memejamkan matanya, dia sungguh cemas saat mendengar cucu satu- satunya hilang.
"Istirahatlah kamu terlihat lelah.."
Amanda mengangguk lalu pergi kearah kamarnya, samar- samar Amanda masih mendengar percakapan antara Alan bersama kakek dan neneknya.
"Syukurlah kamu berhasil menemukannya.."
"Ya, menyebalkan gadis itu selalu merepotkan, jika aku tidak menemukan gelangnya aku tak tahu harus mencarinya kemana, ponselnya bahkan tidak aktif.." Amanda memejamkan matanya, dia benar- benar tidak bermaksud merepotkan semua orang.
..
"Kak Isa..?" Isa tersenyum dan berjalan ke arah Amanda dengan segelas susu di tangannya.
"Kamu baik- baik saja?" Amanda mengangguk dengan senyum canggung.
"Maaf merepotkan kalian.. aku hanya ingin jalan- jalan sebentar, tapi aku terlena hingga hari semakin gelap" Amanda meringis tak enak hati.
Isa mengangguk "Lain kali, hati- hatilah ya.. kamu tahu Alan sangat khawatir, dia berlari kesana kemari mencarimu.." Dalam hati Amanda mendengus sebal, namun bibirnya tersenyum,
Tidak mungkin! jelas yang dia lihat adalah kemarahan, dengan kata- kata Alan yang menyakitkan.
"Apa yang terjadi dengan tanganmu?" Isa memegang tangan Amanda yang lecet akibat membawa kayu bakar nenek Doris.
"Tidak apa- apa, aku baik- baik saja, ini sudah di obati.." Amanda menarik tangannya yang di genggam Isa.
Melihat Amanda yang tidak banyak bicara membuat Isa menghela nafasnya, gadis itu pasti murung karena Alan memarahinya lagi, "Baiklah, minum susumu lalu istirahat, Alan bilang kita akan pulang pagi- pagi.." Amanda mengangguk.
Selepas Isa pergi Amanda kembali mengunci pintunya, Isa selalu menghiburnya, tapi kali ini Amanda tidak mood bahkan hanya sekedar bercerita apa yang dia lakukan sebenarnya, dia sangat lelah.
Amanda memejamkan matanya hingga tanpa terasa dia tertidur, samar samar Amanda mendengar suara bisikan, lalu kecupan lembut di kedua tangannya.
Alan..
Apakah dia bermimpi?, seingatnya dia sudah mengunci pintu kamarnya, bagaimana bisa Alan masuk, jadi ini pasti mimpi.
Merasa bermimpi, Amanda memilih kembali memejamkan matanya tak menghiraukan bayangan Alan yang mengelus pipinya dengan lembut. Dia sungguh lelah, namun entah mengapa bayangan itu terasa nyata, kembali Amanda merasakan bibir Alan. menyentuh telapak tangannya.
"Anak nakal dan ceroboh.." Tapi dalam mimpinya Alan tersenyum.