
Saat Alan membuka pintu kamarnya dia tak menemukan Amanda, tapi juga tak ada suara gemericik air dari kamar mandi, itu berarti dia sedang tidak mandi "Amy..?" Alan mengetuk pintu, terdengar sahutan dari Amanda dan membuat Alan menghela nafasnya lega.
"Tunggu sebentar."
Berjalan ke arah ranjang, Alan memutuskan untuk duduk disana menunggu Amanda keluar.
Alan menunggu dengan gelisah sesekali dia melihat ponselnya untuk melihat apa ada pekerjaan disana, namun Amanda belum juga keluar hingga membuat kesabarannya habis, apa Amanda sedang mempermainkannya, dia sudah menunggu setengah jam lamanya tapi Amanda belum juga muncul.
Alan berdiri hendak kembali mengetuk pintu kamar mandi, namun baru satu langkah Alan berjalan pintu kamar mandi sudah terbuka.
Alan mengerjapkan matanya melihat siapa yang berdiri di depannya sekarang, benarkah itu Amanda..?
Gadis itu nampak cantik dengan polesan make up, matanya berbinar dengan pipi yang di poles dengan warna pink dan bibir yang merah menggoda, rambut panjangnya sengaja di gerai menutupi bahunya yang Alan tahu sangat terbuka.
Amanda juga nampak seksii dengan gaun satin setengah paha dan bertali spaghetti di pundaknya, Alan menelan ludahnya kasar saat Amanda berjalan ke arahnya dengan berlenggok, kaki telanjaang itu menapak sangat seksii dan lembut menjejaki lantai membuat Alan semakin berdebar.
Alan terpaku seolah tak bisa menggerakkan seluruh tubuhnya, bahkan hingga kini Amanda sudah berada di depannya, dan melingkarkan tangannya di bahu Alan, dan mengigit bibir bawahnya membuat Alan tergoda untuk mencium bibir merah Amanda.
Alan mendekatkan wajahnya, kedua tangannya kini memeluk erat pinggang Amanda.
Amanda memejamkan mata menunggu Alan menciumnya, namun lama menunggu Alan tak juga menciumnya, hingga Amanda pun mengeryit dan membuka matanya.
"Kau belajar nakal dari mana." Amanda mengeryit saat Alan menatapnya tajam. Ya, Alan menatapnya tajam.
"Apa?"
Amanda tercenung, tentu saja dia baru saja melihat cara menggoda suami dari internet dan disana mengatakan dia tak perlu malu dalam mengekspresikan dirinya di depan suami, berpenampilan seksii dan menggoda sangat wajar di lakukan di depan suaminya, lalu kenapa Alan tidak menyambutnya, Alan tidak menyukainya?.
Ingatan bahwa Alan menolaknya kembali terlintas hingga Amanda menjadi kesal dan mendorong Alan, namun bukannya lepas Alan malah mengeratkan pelukannya.
"Kau mau apa?" Alan mengeryit.
"Sudahlah lepaskan aku, jika tidak suka dan tidak mau katakan saja langsung!" Alan mengeryit.
"Tak mau?" Alan menatap Amanda dengan pandangan tak percaya, bagaimana bisa Amanda menyimpulkannya begitu?, sedangkan Amanda memilih memalingkan wajahnya.
"Aku tidak mau di tolak lagi, minggir.." Alan bergeming.
"Kau bilang aku tak mau?, apa kau tidak merasakan apa ini." Alan semakin merapatkan dirinya dan Amanda, hingga
Amanda memerah merasakan sesuatu mengganjal di bawah sana.
"Ini bukti jika aku sangat menginginkanmu, bahkan jika aku tak bisa menahannya aku mungkin sudah melakukannya sejak dulu, bahkan saat kamu belum mencintaiku."
Amanda menatap mata Alan, dan Amanda tertegun saat mata Alan di penuhi kilatan keinginan, jelas sekali ada gai rah disana, bagaimana mungkin Alan tak menginginkannya.
"Aku mencintaimu, bagiku kamu sangat berharga, hal yang harus aku jaga.. Segala kemurnianmu hingga kamu benar- benar menjadi milikku." Amanda tertegun.
"Aku tak ingin semua perjuanganku sia- sia, saat itu aku nyaris gila menahan diriku.. tapi aku berusaha kuat untuk menahan has ratku, aku sangat menginginkan kamu" Alan menggerakkan tangannya di punggung Amanda, bergerak perlahan naik ke atas hingga membuat Amanda meremang seketika.
Kain satin yang lembut sangat berpengaruh di permukaan kulit menciptakan kelembutan dalam setiap belaian dan menciptakan getaran yang semakin membuat Amanda merinding seketika.
Alan menekan tengkuk Amanda mendekat dan mencium bibirnya, mel umatnya lembut namun posesif, menikmati miliknya yang kini telah sah seutuhnya.
Amanda miliknya..
Dan Alan berhak menikmatinya..
"Tunjukan ini hanya di depanku, kamu mengerti!" ada nada tegas disana penuh keposesifan dan Amanda hanya bisa mengangguk lalu Alan kembali mencium bibirnya, mereka saling bertaut dan bersilat lidah hingga ga irah yang datang semakin tak terbendung lagi. "Kamu sangat cantik.. Kamu milikku."
...
Sofia sudah menyiapkan segalanya dengan sempurna, kamar mereka di tata dengan sangat romantis. Taburan kelopak bunga memenuhi ranjang, lilin aroma terapi yang menguarkan aroma menenangkan juga pemandangan indah yang membuat Amanda tak kehilangan senyumnya.
Saat membuka pintu kaca mereka dihadapkan dengan kolam renang yang mengarah langsung ke laut begitu indah dan menenangkan. "Aku ingin berenang.." Amanda bergumam.
Alan menata koper mereka setelah pelayan hotel mengantarnya masuk..
Alan tersenyum melihat Amanda mencelupkan kakinya ke air kolam "Ingin berenang?"
"Hmm, tapi aku masih lelah.." Alan memijat bahu Amanda.
"Sudah lebih nyaman?." Alan mengecup bahu Amanda.
"Hmm.. Terimakasih."
"Tidak masalah, lagi pula ini karena ulahku.."
Amanda mencebik, benar ini semua karena Alan. Tubuhnya remuk redam hingga rasanya Amanda tidak bisa bangun saat pagi karena Alan tak melepaskannya semalaman.
Pria itu seperti gurun pasir yang baru mendapat siraman air, pengalaman pertama mereka membuat Alan ketagihan.
Nikmatnya bercinta, dan melepaskan semua gai rah membuat Alan gila, hingga menginginkannya lagi dan lagi.
Jika saja Amanda tidak tidur karena kelelahan mungkin Alan akan memintanya satu kali lagi.
Amanda mendesis, bagian bawahnya masih terasa ngilu, dia bahkan tak berani mengenakan hak tinggi karena selang kangannya terasa nyeri di pagi hari saat berjalan.
Meski sudah tidak terlalu sakit, karena Alan mengoleskan salep di bagian intinya, tetap saja melihat Alan mendekat Amanda menegang waspada, jangan sampai Singa itu kembali menerjangnya tanpa ampun, Amanda jadi tidak berani untuk menggoda Alan lagi.
"Masih mau berenang, biar ku ambilkan baju renangmu.." Alan masih memijat pundak Amanda, mengingat baju renangnya yang seksii membuat Amanda bergidik, bagaimana jika Alan merasa tergoda lalu kembali menghajarnya tanpa ampun.
"Ti.. dak, tidak, nanti saja aku ingin istirahat." Amanda menyingkirkan tangan Alan lalu menaikan kakinya dari dalam kolam dan masuk ke dalam kamar.
Alan mengeryit melihat Amanda seolah menghindarinya "Ada apa denganmu sayang?."
"Aku hanya lelah dan ingin istirahat.." Alan terkekeh melihat Amanda masuk ke dalam selimut lalu menenggelamkan seluruh tubuhnya.
"Sayang, kau membuatku gemas, aku jadi ingin menerkammu." Amanda bangun lalu membelalakan matanya.
"Alan mesum, apa kamu tidak lelah kemarin menghabisiku!"
"Tidak ada yang salah, jika mesum pada istri sendiri Honey.." Alan merangkak di atas tubuh Amanda. "Dan aku tidak kelelahan sama sekali."
"Tapi aku masih sakit.." Amanda menunduk dengan wajah merah, meski Amanda akui kegiatan mereka menyajikan rasa nikmat, tetap saja Amanda takut jika Alan kembali kalap.
"Itu karena kamu belum terbiasa.. Tapi nanti aku yakin kamu yang akan memintanya sendiri untuk ku masuki.." Alan menunduk untuk mengecup bibir Amanda.
Kecupan yang awalnya pelan berubah menjadi ciuman yang lembut dan menggebu, perlahan terus memburu, lidah Alan memasuki mulut Amanda membelit di sana menciptakan rasa candu untuk keduanya.
Amanda mulai tergoda..
Alan mendongak melepaskan ciumannya "Maaf jika aku menyakitimu, jadi mulai hari ini aku akan berhenti menyentuhmu, kecuali kamu yang memintanya." Alan mengecup dahi Amanda lalu bangkit menyisakan kekosongan di tubuh Amanda.
Alan berbalik dan menanggalkan pakaian atasnya, lalu menjatuhkan diri di kolam renang.
Amanda menelan ludahnya saat melihat tubuh bagian atas Alan yang terbuka menampakkan bagian keras yang sangat mempesona, dan tentu saja membangkitkan sisi lain Amanda, ya.. Meski rasa sakit pertama kali masih teringat, tapi bukankah ada kenikmatan disana.
Amanda mengigit bibir bawahnya, melihat bentuk seksii itu meliuk di air membuat Amanda merasakan getaran di aliran darahnya dan berdenyut di intinya, hingga akhirnya Amanda bangun dan meraih baju renangnya, untuk lekas menyusul Alan ke dalam kolam.