Make You Mine!

Make You Mine!
Keberanian Alan



Alan berjalan cepat memasuki Vila keluarga Barnes, kali ini dia datang sendiri atas desakan dalam dirinya yang memaksanya memberanikan diri berkata jujur pada Sang Mommy untuk membatalkan pernikahannya dengan Isa, Alan sudah memutuskan untuk melakukannya dengan benar, jujur pada dirinya dan semua orang.


Mengatakan bahwa dia tak mencintai Isa, dan justru mencintai Amanda sejak dulu.


Teringat tatapan Amanda kemarin malam saat Alan mengantarkannya pulang, Amanda menatapnya penuh harap, meski gadis itu tak mengungkapkannya tapi Alan tahu Amanda berharap Alan segera menyelesaikan masalah perjodohannya dan Isa.


Sebelum keluar dari mobilnya Amanda bahkan tersenyum dan mengecup pipinya, dan dari tatapannya Alan tahu gadis itu tulus menunggunya, dan Alan tak mungkin terus berlarut dalam masalah ini dan terus memendam perasaannya pada Amanda.


Alan bodoh!, kau sendiri yang membuat masalah, siapa suruh kau menekan perasaanmu dan memilih menyembunyikannya selama ini, kau bahkan tahu jika Amanda bukan saudara kandungmu, namun jika pun itu tidak benar bukankah kau harus lebih berani sejak dulu.


Dan sekarang lihatlah akibat kebodohanmu ini..


Jalanmu untuk memiliki Amanda serasa berat.


"Mom..?" Alan membuka pintu kamar tanpa mengetuk, dan pemandangan di dalamnya membuatnya tertegun.


"Alan kau datang?" Alan merasakan nafasnya tercekat, di depannya Isa sedang duduk dan menggenggam tangan Barnes yang setengah berbaring di ranjang.


"Isa.."


"Jika tahu kau akan datang mungkin kita bisa datang bersama.." Isa tersenyum


"Kau, untuk apa datang?" Alan bertanya setengah linglung, bagaimana bisa dia bicara dengan orang tuannya, jika ada Isa disana?.


Bukan berarti Alan akan menyembunyikannya dari Isa, tapi Alan ingin meyakinkan Mommy dan Daddynya lebih dulu, tapi jika begini..


"Kau ini bagaimana, tentu saja Isa mengunjungi calon mertuanya.." Sofia datang dari arah kamar mandi matanya merah seperti habis menangis.


"Mom, ada apa denganmu?, kau menangis?" melihat wajah sembab sang Mommy Alan menjadi khawatir.


"Mom hanya sedih, karena Daddymu selalu saja bicara kematian.."


"Dad, sudah kubilang jangan bicara begitu terus.. kau selalu membuat Mom sedih.."


"Sudahlah, Daddymu hanya sedang sensitif saja.."


"Tetap saja harusnya Daddy menikmati hidup dengan Mom dan tak perlu bicara yang tidak perlu.. dan membuat Mom sedih.."


Sofia meringis menatap Bernes yang menatapnya dengan datar "Duduklah Nak, ada apa kau kemari?" Sofia segera mengalihkan perhatian Alan.


Alan tertegun. ya, bagaimana dengan tujuannya sekarang?.


"Bisakah kita bicara sebentar.. Isa?" kata Alan.


Isa mendongak dan mengeryit "Ada masalah?"


"Tidak bukan masalah besar, ayo!" Isa hanya bisa patuh saat Alan bahkan sudah berjalan keluar kamar.


Sofia menghela nafasnya saat Alan dan Isa pergi "Bagus sekali, anak itu memarahiku.."


Sofia terkekeh "Sudahlah.. mau bagaimana lagi.. mana mungkin aku bicara yang sebenarnya dan mengatakan aku menangis karena terharu sebab anakku akan segera menikah.. Alan bisa curiga.."


"Kamu yakin akan menyiapkan pesta pernikahan kejutan?" Sofia mengangguk antusias.


"Mau di tunda sampai kapan, mereka juga akan tetap menikah."


"Tanyakanlah yang jelas pada Alan!"


Sofia mendengus "Mau di tanya bagaimana lagi, kau tidak lihat tatapan Alan yang penuh cinta?"


Barnes menghela nafasnya "Aku tahu, terserah padamu.."


Isa masih mengikuti Alan hingga tiba di ujung koridor kamar orang tuanya, dan setelah memastikan suasana nya cukup hening Alan berkata..


"Isa ayo kita akhiri ini.." Isa mengeryit heran.


"Apa?"


"Kau benar, ini tidak akan berhasil, dan aku juga memiliki seseorang yang aku sukai.."


Isa tercengang "Kau bercanda?"


Alan menghela nafasnya, harusnya dia bicara dengan orang tuanya lebih dulu, tapi mau bagaimana lagi, ada Isa disana jadi Alan juga tak mungkin menunda untuk mengatakannya pada Isa.


Lebih cepat lebih baik.


Isa masih terdiam, hingga Alan berkata "Maaf, bukan maksudku mempermainkanmu."


"Kau gila Alan, kau berkata begitu disaat aku sudah mulai belajar menyukaimu!"


"Lalu siapa wanita itu?."


"Wanita yang kau sukai?."


"Haruskah aku katakan padanya jika kau adalah calon suamiku..?"


..


Boleh minta Vote di Dear My Ex Husband, atau hadiah juga boleh, atau rating 5nya juga boleh.


Buat yang ikhlas aja, kalau ada yang mau kasih, kasih disana ya, biar Ratingnya bertahan dan gak turun buat yang mau berbaik hati terimakasih 🙏


Ai lop yu all..😘