
Pantai kuta adalah salah satu destinasi paling terkenal di Bali dan saat ini Amanda sedang duduk di pasir berselonjor kaki di pantai tersebut. Kedua tangannya memainkan pasir persis anak kecil yang baru pertama kali datang ke pantai, tak tahu harus apa.
Amanda melihat sekelilingnya, banyak turis seperti dirinya yang memakai bikini dan berenang bahkan berselancar dengan bebas, namun Amanda hanya bisa mencebik kesal.
"Kamu disini?" Amanda mendongak dan melihat Alan duduk di sebelahnya, lalu membuang muka. "Kamu marah?"
"Aku ingin pulang saja.. Untuk apa jauh- jauh datang kalau hanya untuk diam dan menonton orang bersenang- senang."
Alan terkekeh, "Bukankah kita bisa berenang di kamar.."
"Di rumah kita bahkan ada kolam yang lebih besar." Amanda tetap tak mau menatap Alan, dia sedang kesal pada pria itu karena melarangnya mengenakan bikini, dasar posesif. Alan bilang dia tak mau semua orang melihat kulit mulus Amanda. Bukankah itu alasan klise..
"Kita bisa bebas berenang di dalam kamar, seperti semalam.." Alan mengedipkan matanya, sedangkan Amanda merona, mengingat semalam bahkan mereka sampai bercinta di dalam kolam, dan yang lebih memalukan lagi adalah dirinyalah yang meminta di masuki oleh Alan.
Benar- benar pria sialan, dia menepati janjinya untuk tak menyentuhnya jika Amanda sendiri yang memintanya, padahal saat sudah memulai Alan kembali kalap dan tak terkendali.
"Bagaimana kalau kita jalan- jalan?" Amanda menghela nafasnya.
"Aku ingin menghubungi Calvin saja, dan memintanya untuk menjemputku, dia pasti tahu tempat- tempat yang baru.."
Alan mendengus "Jangan berharap, selain karena posisi kita tak satu kota dengan anak sialan itu, aku dengar dia juga sedang di asingkan." Amanda mengeryit.
"Apa maksudmu."
"Dia di buang karena terlalu nakal." Amanda membelalakan matanya.
"Kau serius, lalu sekarang bagaimana dia?"
Alan mengedikkan bahunya acuh, dia hanya tau dari Alden jika Calvin sedang dalam masa hukuman dan di kirim ke rumah mertua Roland di Indonesia dan tak boleh melakukan apapun selain belajar, namun anak bebal itu tak pernah diam hingga akhirnya mereka melakukan tindakan ekstrim membuang Calvin ke sebuah kota terpencil bahkan bisa di sebut hutan saking tak adanya penduduk disana.
Alan tak ingin tahu, namun dia hanya menanyakan apa yang Roland lakukan pada anaknya setelah mencari gara- gara dengan Amandanya.
Amanda menggaruk kepalanya, "Apakah sungguh Calvin senakal itu?"
Alan mengangguk "Ternyata selain suka meniduri wanita lajang, dia juga meniduri istri pejabat di negara ini hingga membuat Roland akhirnya sungguh- sungguh membuangnya, bukankah itu luar biasa."
Amanda bergidik ngeri, lalu dia teringat saat mabuk dan Alan berkata Calvin hampir saja menciumnya, andai Alan tak segera datang mungkin saja dia sudah menjadi santapan Calvin.
"Jadi masih ingin menghubunginya?, aku yakin jika tempat buangan itu sebuah hutan ponselnya bahkan tidak berguna."
"Kasihan sekali dia.." Alan mendengus kenapa harus di kasihani, sudah bagus hidup itu lempeng- lempeng saja seperti dirinya kenapa harus nakal sekali, dan bukankah sudah seharusnya hukum itu berlaku.
"Sudah cukup membicarakan orang lain.." Alan meremas bahu Amanda dan mendekapnya "Jadi bukankah jika ingin punya anak yang banyak, kita harus kejar tayang dalam melakukannya." Alan berbisik dan membuat bulu kuduk Amanda meremang seketika.
"Alan mesum.." Amanda menepis tangan Alan. "Bukankah kau tidak akan meminta lagi.. Jadi tunggulah hingga aku menginginkannya." Amanda terkekeh, dan berjalan pergi meninggalkan Alan.
"Hey, aku mesum pada istriku. Apa yang terjadi jika aku mesum pada wanita lain.."
"Jika itu yang kau lakukan, maka aku yang akan membuangmu sendiri ke tempat dimana Calvin berada." Alan terkekeh dan mengejar Amanda.
"Ayolah Sayang.. Kau tidak bosan terus marah begitu."
"Aku hanya kesal, bukan marah.. Jadi biarkan aku berenang maka aku tidak akan mengabaikanmu."
Alan menggeleng, dan membuat Amanda semakin kesal. Amanda menghentikan langkahnya saat ponselnya bergetar. "Kenapa berhenti?."
"Kak Isa menghubungiku.." Amanda mendekatkan ponselnya ke telinga setelah menggulir tombol hijau, sedangkan Alan memilih duduk di sebuah kursi.
"Kak Isa, apa kabarmu..?" Amanda bisa mendengar Isa terkekeh di sebrang sana.
"Aku baik, bagaimana kalian.. Maaf aku tak bisa datang saat pemakaman paman Barnes." Isa berkata penuh penyesalan.
"Tidak masalah, kak, semua juga sudah baik- baik saja.."
"Baguslah, lalu kalian.. Aku dengar dari bibi kalian sedang bulan madu, itu bagus sekali.. Ingat ini. Buatkan aku keponakan yang banyak.." Ucapan isa terhenti lalu terdengar lagi sebuah suara "Hey, Boy.. Kau mencari ibumu.."
Amanda mengeryit, lalu tak lama terdengar suara anak kecil meski tidak terlalu keras namun suara itu terdengar di telinga Amanda.
"Mom.. Kau.. Aku ingin kau menjadi Mommyku.." Amanda masih diam menunggu suara selanjutnya, kini rasa penasaran mendengar jawaban Isa membuat Amanda terdiam serius.
Amanda bahkan mencegah Alan yang akan bicara dengan menunjuk jarinya di bibir.
Alan mengeryit saat Amanda tak bicara dan hanya diam, apa yang sedang di bicarakan Isa.
.
.
.
"Anak kecil kau bicara apa.. Ayo aku bantu mencari Ibumu.." Isa berjongkok di depan seorang anak laki- laki yang dia perkirakan berumur 5 tahun.
"Tidak, Ibuku sudah tiada, dan aku ingin kau yang menjadi Mommy ku." Isa tertegun,lalu mengusap pucuk kepala anak laki- laki itu.
"Baiklah siapa namamu?."
"Namaku Daren, Daren Mikhael Wilson aku anak dari orang terkenal di kota ini, jadi jika kau menikah dengan Daddyku kau tidak akan miskin dan akan hidup senang." Isa terkekeh, saat itu dia ingat jika dia masih terhubung dengan Amanda. "Tunggu sebentar.."
"Hallo, Amy. Maaf aku ada urusan, aku akan menghubungimu lagi nanti.." Tanpa menunggu jawaban Amanda Isa segera mematikan ponselnya, dan kembali pada anak kecil di depannya.
"Baiklah, sebaiknya kita cari Ayahmu, hmm siapa namanya?."
"Willy, nama Ayahku.. Willy Mikhael Wilson, dia sangat tampan kau tidak akan menyesal menikah dengannya." Isa tertawa dan membawa Daren ke petugas yang sedang berjaga untuk mencari ayahnya, Isa sedang berada di sebuah hotel untuk menghadiri seminar bisnis, sambil menunggu acara dimulai Isa menghubungi Amanda, namun dia malah bertemu dengan bocah tampan yang bernama Daren ini yang tiba- tiba menarik roknya hingga mau tak mau Isa pun menoleh, Isa rasa anak itu pasti sedang di cari ayahnya sekarang.
...
"Apa yang dia katakan?" Alan mengeryit saat Amanda mencebik dan melihat ponselnya yang sudah mati, dengan tenang Alan menyeruput kelapa mudanya, sambil menunggu Amanda bicara dengan Isa, Alan membeli kelapa muda yang tepat berada di sebelah mereka.
"Untuk apa menghubungiku jika menyisakan rasa penasaran.." Alan mengeryit.
Amanda mengedikkan bahunya "Jadi kemana kita akan jalan- jalan?." Alan menyodorkan satu sedotan pada Amanda agar dia meminum air kelapa bersamanya.
Mata keduanya bertemu, lalu keduanya tersenyum "Apa?" Amanda mengeryit.
"Kau tahu, air kelapa bisa membuat kualitas sper ma menjadi bagus dan banyak, bukankah itu bagus."
Amanda membelalakan matanya, kenapa Alan terus berkata mesum sih..
Amanda pergi dengan wajah malu, apalagi disana banyak pengunjung, meski belum tentu mereka mengerti ucapan Alan, yang berbahasa asing, tapi tetap saja Alan bicara cukup keras.
...
Karena disini sepi jadi aku cukupkan saja, terimakasih sudah membaca🙏
Jadi mau kisah siapa dulu nih?
Calvin, atau Isabella
Tulis di komen👇