
"Kamu bilang ingin ke toilet?" Amanda terkejut saat mendengar suara Alan di belakangnya, baru saja dia ingin duduk di kursi untuk menghirup udara segar.
"Eh, Uncle.. sebenarnya itu hanya alasan.." Amanda terkekeh, bagaimana dia bisa mendengar bisikannya pada Mommynya.
"Kenapa kau kemari?"
"Ingin merokok.." Amanda mengeryit.
"Kau merokok, setahuku kau tidak merokok.."
"Hanya saat aku sedang stres.." Alan menyulut api pada rokoknya.
Amanda mengangkat alisnya "Oh, kau memikirkan pernikahan, orang bilang saat akan menikah kita memang akan memikirkan hal yang tidak- tidak, tapi Uncle kau tidak perlu stres tenang saja, justru kau harus memikirkan sesuatu yang membahagiakan.."
Alan terkekeh "Membahagiakan?"
"Ya, bukankah kau dan Kak Isa akan segera menikah, sebentar lagi kau akan menjalani hari bahagia dengan orang yang kau sukai.."
Alan menoyor kepala Amanda "Banyak bicara, dan sok tahu.."
Amanda mencebik, sambil mengusap dahinya.
"Bagaimana kuliahmu?"
Amanda mengangguk "Biasa saja.."
"Kuliah yang benar jangan bermain- main, apalagi bermain pria."
Amanda mengerjapkan matanya "Bermain pria? perkataan apa itu."
"Kau bilang banyak pria yang mendekatimu.." Alan memicingkan matanya "Apa?"
"Kau aneh sekali uncle.." Amanda tidak mengerti mengapa pamannya mengingat semua ucapannya.
"Kuliah saja yang benar!"
Amanda berdecak "Aku juga harus mulai mencari kekasih,jika tidak Daddy akan menjodohkan aku dengan orang yang tidak aku suka..."
"Jangan berhubungan dengan pria manapun!" Alan terkesiap dengan apa yang keluar dari mulutnya, kenapa dia bicara seperti itu.
Amanda mengeryit "Kenapa begitu? aku mungkin belum ingin menikah, tapi aku juga memiliki mimpi berkencan, memiliki kekasih dan menikah dengan pria yang aku cintai.. Kau k-napa Uncle.." Amanda memundurkan langkahnya saat Alan menatapnya tajam dengan kilatan penuh amarah.
"Jangan bermain- main Amy!" Alan merasakan hatinya terbakar, Alan menyadari jika seharusnya dia tak boleh melakukan ini, tapi akal sehatnya seolah kalah oleh gejolak amarah yang sejak tadi di tahannya, bagaimana bisa dia melihat Amanda bersanding dengan pria lain kelak, mungkin dia bisa gila.
"Uncle.. kau.." Amanda terpojok saat punggungnya tertahan tembok, dan Alan terus maju.
"Kau membuatku takut.." Alan bergeming.
"Katakan kau tidak akan mencari kekasih dan menikah dengan pria lain.." dalam batin Alan berteriak bahwa dia sudah gila.
"Kenapa begitu, Uncle kau tidak berhak melarangku, ini kehidupanku.. sampai kapan kau mengekangku tidak boleh ini dan itu.."
"Amy..!"
"Aku akan menikah, aku akan mencari pria yang mencintaiku, dan rela melakukan apapun demi aku, bahkan menjauhkanmu dariku.." Alan tersulut emosi dan semakin mendesak Amanda.
Amanda tidak boleh menjauh darinya, lalu apa yang dia lakukan hari ini.. bukankah dia yang akan menjauh dari Amanda karena menikahi Isa, namun sekali lagi akal sehatnya kalah, Alan tak bisa menahan amarahnya, Alan menundukkan wajahnya dan mencium Amanda.
Amanda membelalakan matanya saat Alan mencium bibirnya. Untuk kedua kalinya, Alan kembali menciumnya namun kali ini Alan menciumnya dengan kasar dan membabi buta, Amanda bahkan merasakan bibirnya perih karena pria itu menggigitnya.
Amanda memberontak saat dirasa Alan semakin gila, pria itu bahkan naik meraba pahanya dan kini meremas bo kongnya, apa yang Alan lakukan sekarang? bagaimana jika ada yang melihat mereka, Isa dan keluarganya bisa salah faham.
Saat tak mendapat perlawanan lagi, Alan mengubah ritme ciuman menjadi lembut dan dalam, namun saat merasakan Amanda bergetar Alan tersadar, Amanda menangis.
"Amy.." rasa bersalah kini menusuk hatinya.
"Apa yang kau lakukan Uncle.." Amanda menundukan wajahnya "Apa ini juga karena terbawa suasana.."
"Kau tahu betapa aku berusaha keras melupakan mu.. aku berusaha melupakan perasaanku.. " Amanda terisak.
"Amy.."
"Jika untuk memperingatkan aku kau bisa memaki dan memarahi seperti biasanya, kenapa harus menciumku.."
"Lalu dengan mudahnya kau akan bilang kau terbawa suasana?.."
"Kau jahat sekali uncle, setelah ini aku harus berusaha lebih keras untuk melupakanmu.." Amanda mendorong Alan yang terpaku mendengar ucapan Amanda.
"Kau.. kau menyukaiku?" Alan merasa tercekat, tapi hatinya serasa ingin meledak karena bahagia saat mendengar ucapan Amanda, Amanda menyukainya.
"Tidak!" Amanda mendongak menatap Alan dengan mata penuh air mata "Tidak akan, aku tidak akan menyukaimu, jangan bermimpi.. aku membencimu!" teriaknya. Amanda mendorong Alan menjauh dan pergi berlari dari sana.
...
Alan kembali melihat ke arah koridor dimana toilet berada namun Amanda tak juga kembali, kemana gadis itu.
Alan yang terus terdiam tak menyadari jika pembicaraan mereka sudah selesai dan satu persatu dari mereka sudah bersiap untuk pulang.
"Alan.. kita sudah selesai.." Alan mendongak melihat Isa yang sudah menyampirkan tas di bahunya. "Kau sejak tadi melamun.." Isa menghela nafasnya.
Alan kembali melihat kursi Amanda yang masih kosong "Amy, belum kembali.."
"Oh, Amy dia sudah pulang lebih dulu, anak itu bilang dia sakit kepala.." Airin menatap Alan yang sama sekali tak berkedip dan berwajah datar.
"Oh.. baiklah.." Alan bangkit dan mereka berjalan ke arah parkiran.
Satu persatu anggota keluarga pergi termasuk Sofia dan Barnes yang sudah lebih dulu meninggalkan restoran, karena Barnes sudah kelelahan.
Kini tersisa Alan dan Isa yang masih terdiam dengan pikiran masing- masing, dengan supir yang masih menunggu keduanya memasuki mobil.
"Ayo.." Alan membuka pintu dan membiarkan Isa masuk.
Selama perjalanan pulang mereka hanya terdiam, masih dengan pemikiran mereka masing- masing.
Alan masih memikirkan apa yang Amanda ucapkan padanya, benarkah gadis itu menyukainya, haruskah dia mengecewakan mommynya dan mengejar cintanya, tapi bagaimana dengan Isa.. Isa adalah calon istrinya sekarang, bahkan satu bulan lagi pertunangan mereka akan di gelar.
Dan dengan begitu dia lebih banyak mengecewakan orang lain, termasuk Isa dan orang tuanya.
"Alan?" Alan menoleh.
"Aku.. " Isa menghela nafasnya "Aku sudah memutuskan, untuk menerimanya.. kita akan menikah, kamu benar kita harus berusaha untuk saling mencintai.." Mobil berhenti tepat di depan rumah Isa, Alan bahkan tak menyadari jika supir sudah memasuki gerbang rumah Isa.
Isa mendekatkan wajahnya dan mencium pipi Alan "Kita akan sering melakukan ini, dan membuat perasaan tumbuh.." Isa menjauhkan dirinya sambil tersenyum.
"Selamat malam.." Alan tertegun dan masih terdiam bahkan saat Isa sudah berlari menuju rumahnya dan menutup pintu.
Kini dia terjebak dengan ucapannya yang dia ucapkan pada Isa beberapa hari lalu.?
...