Make You Mine!

Make You Mine!
Semudah Itu?



Alan mengeram marah saat mendapat laporan tentang Amanda yang pergi ke club meski di temani para pengawal tetap saja gadis itu tak seharusnya ada di tempat itu, ada apa dengan kakak dan kakak iparnya mengapa mengizinkan Amanda pergi ke club.


Lihatlah bagaimana dia menari dan menarik perhatian para pria, tubuh Amanda yang indah menjadi tontonan, bagaimana jika Amanda di lecehkan?.


Alan menggenggam erat ponselnya lalu dengan cepat keluar dari ruang kerjanya dia tak rela tubuh Amanda jadi santapan mata para pria hidung belang.


Meraih kunci mobil Alan dengan segera memacu mobil ke club malam dimana Amanda berada, Alan memang tetap menerapkan penjaga dari jauh sekaligus untuk memata- matai Amanda, meski gadis itu keluar dengan pengawal Alden, Alan merasa tak tenang sejak Amanda di culik pria gila, dan Alan terus memastikan Amanda tetap aman.


Alan memarkirkan mobilnya sembarang di depan club malam dan masuk dengan segera, tak menghiraukan tatapan dari orang- orang Alan terus masuk hingga telinganya terasa pegang akibat dentuman musik.


"Oh, Al.. sudah lama sekali kau tidak kemari..?" Alan tak menghiraukan pria yang bahkan dengan terburu- buru menghampirinya.


"Piter kau melihat Amy?"


Piter mengeryit "Amy, seingatku para pekerjaku tidak ada yang bernama Amy.."


Alan mendengus dan menatap tajam Piter yang terkekeh "Maaf, aku bercanda.. kau mana mungkin datang untuk mencari wanita malam?"


"Ngomong- ngomong siapa Amy?" Piter mengikuti Alan yang membelah kerumunan mencari Amanda.


Alan mengeryit jelas sekali dia melihat Amanda menari tadi di lantai dansa, namun kemana gadis itu sekarang?.


Alan menyalakan ponselnya "Dimana dia sekarang?" tanya Alan pada orang yang dia perintahkan untuk menjaga Amanda.


"Nona sudah keluar lima menit lalu tuan.. dan sekarang mereka ada di sebuah restoran.."


"Mereka?" Alan berjalan ke arah pintu keluar, masih tak menghiraukan Piter yang terus mengikutinya.


"Ya, tuan.. Nona Amanda, Nona Mina dan satu orang pria.." Alan menggeram marah.


"Terus awasi mereka aku akan kesana." Alan mengakhiri panggilan dan berjalan cepat ke arah mobilnya.


Saat akan membuka pintu mobil tangan Piter menghalangi "Apa?"


"Kau belum menjelaskan siapa Amy..?"


"Perlukah aku mengatakan" Alan menepis tangan Piter "Dia kekasihku!" Alan masuk dan memacu mobilnya dan meninggalkan Piter yang ternganga.


"Ouh, akhirnya.. dia punya kekasih.." Piter menggaruk tengkuknya, "Tapi rasanya aku pernah mendengar nama itu.. Amy, Amy, kapan Alan mengucapkan kata Amy.." Piter masuk kembali ke dalam club miliknya sambil terus berpikir.


Alan mengepalkan tangannya saat melihat Amanda tengah berbincang dengan seorang pria, dengan sesekali tertawa, tiba- tiba rasa panas menjalari hatinya, dan Alan mulai terbakar "Tuan?" seorang pria menghampiri Alan.


"Kau bilang mereka bertiga.."


"Nona Mina baru saja pergi tuan.." Alan melihat pengawal Amanda yang duduk tak jauh dari Amanda, dengan terus waspada menatap Amanda.


Alan menghela nafasnya "Panggil mereka!" pria di depannya mengangguk lalu menghubungi bodyguard Amanda, tak butuh waktu lama salah satu dari mereka langsung menghampiri Alan "Pergilah! aku yang akan membawanya pulang.. pergilah diam- diam!" sang bodyguard yang juga mengenali Alan, memilih patuh pada adik dari tuannya tersebut dan mereka pergi secara diam- diam tanpa Amanda tahu.


Alan menghela nafasnya setelah para Bodyguard Amanda pergi, tatapan Alan masih terus mengawasi Amanda dan pria yang entah siapa itu, mereka sedang menyantap makanan masih dengan sesekali mengobrol..


Alan masih diam karena di rasa pria di depan sana masih berlaku sopan pada Amanda, hingga saat matanya menangkap tangan pria tersebut menggenggam tangan Amanda, Alan mulai tersulut emosi dan bangkit berdiri.


"Amy.." Amanda menegang saat mendengar suara bas di telinganya, dan dengan segera melepaskan tangannya yang di genggam oleh Andy.


Ya, pria itu adalah Andy. Pria berkaca mata bulat yang akhirnya bisa mengajaknya makan malam dan ke club, itupun atas pendapat Mina, mereka sebenarnya tidak sengaja bertemu, namun karena Mina menyarankan untuk melupakan Alan dia harus membuka hati pada pria lain jadi Amanda menerima tawaran Andy untuk mampir ke sebuah restoran setelah pertemuan mereka di club.


"Uncle.. sedang apa kau disini?"


"Itu yang harus aku tanyakan padamu.. ayo pulang.." Amanda menggeleng.


"Aku akan pulang dengan pengawalku.."


"Mereka sudah kembali.." Amanda melihat ke arah kursi yang tadi di isi para bodyguardnya dan benar saja mereka sudah tidak ada.


"Jika begitu aku akan pulang dengan Andy.." Amanda menatap Andy yang terlihat kebingungan "Bisakah kau antar aku pulang?."


"Tentu, dengan senang hati.." Andy terlihat antusias.


Alan menggeram marah "Jangan buat aku memaksamu Amy..!"


"Maafkan aku tuan, tapi kau tidak bisa memaksa Amy.. " Alan mendengus menatap pria yang terlihat cupu dan bicara dengan sopan, namun tetap saja Alan muak melihatnya, apalagi pria kurang tampan ini menggenggam tangan Amy..


"Aku tidak meminta pendapatmu!" Alan menarik Amanda untuk segera pergi, namun lagi- lagi Andy menghalanginya "Minggir, kau tidak tahu siapa aku!" Alan mengggertakkan giginya.


"Maafkan aku tuan, tapi kau menyakiti Amy.."


Andy melihat Amanda meringis merasakan perih di pergelangan tangannya.


Alan menyeringai "Minggir.." Alan kembali menarik Amanda melewati Andy.


"Andy, aku akan ikut pamanku.. maaf lain kali aku yang akan mentraktirmu.. "


"Tidak akan ada lain kali." Desis Alan.


"Apa yang kau inginkan Uncle?" Amanda berusaha melepaskan tangannya.


"Harusnya aku yang bertanya padamu Amy, sudah ku bilang jangan bermain dengan pria!."


"Kenapa kau peduli dengan apa yang bukan urusanmu!." Amanda menghempaskan tangan Alan, dan menggosok tangannya yang memerah.


"Begini kah kau, setelah semalam kau membuat aku terus berfikir tentang kau, kau justru berkencan dengan pria lain!."


"Apa maksudmu Uncle..?"


"Kau bilang kau menyukaiku, lalu sekarang kau sudah lupa.."


Amy menegang "Untuk apa kau peduli, lagipula kau akan menikah jadi urusi saja pernikahanmu!" Amanda akan pergi namun Alan lagi- lagi mencegahnya.


"Apa lagi maumu Uncle?"


"Jadi kau cemburu..?" Alan tersenyum, Amanda memalingkan wajahnya. "Masuklah Amy, kita bicara di rumah!"


"Aku akan naik taksi.."


"Amy!" Amanda menghentakkan kakinya lalu masuk ke mobil Alan, dia selalu tak bisa mengelak.


Sepanjang perjalanan Amanda hanya diam sedangkan Alan sesekali melihat kearahnya, hingga tiba di rumah Alan.


Amanda mengeryit saat melihat mereka memasuki gerbang rumah Alan "Aku ingin pulang ke rumahku!"


"Tidak, malam ini kau menginap disini!"


"Uncle!"


"Masuklah, ada banyak hal yang harus kita bicarakan!" Dengan malas Amanda mengikuti langkah Alan dan masuk ke dalam rumah.


Amanda mendudukan dirinya di kursi ruang tamu "Kau tidak ingin membersihkan diri.."


"Uncle bilang ingin bicara? cepat katakan setelah itu aku akan pulang.." Alan menghela nafasnya lalu duduk di depan Amanda.


"Amy, aku ingin kau bicara yang sebenarnya, kau sungguh menyukaiku, tidak apa kau mencintaiku?"


Amanda mendongak menatap Alan yang masih menuggu jawabannya.


"Itu tidak penting.."


"Amy..?" lagi- lagi tatapan peringatan yang membuat Amanda mendengus.


"Untuk apa aku mengatakannya, saat aku sedang berusaha melupakan perasaanku!" Alan menggenggam tangannya.


"Lagipula aku yang bodoh, bagaimana bisa aku menyukai pamanku sendiri." Amanda memalingkan wajahnya "Dan kau juga akan menikah.. jadi aku juga akan berusaha melupakan semuanya, dan aku yakin aku bisa melakukannya Uncle tenang saja.. tak perlu merasa terbebani."


Amanda menghela nafasnya "Jika semuanya sudah jelas, biarkan aku pulang.." Amanda bangun dia akan pulang dan meminta supir Alan mengantarnya, dia tak bisa sedekat ini dengan Alan, di saat dia berusaha melupakan pria itu.


"Bagaimana bisa dengan mudah kau melakukan itu Amy, aku sejak lama menahan perasaanku dan terus berusaha melupakanmu, lalu kemarin kau bilang menyukaiku membuatku berpikir keras dan kini dengan mudahnya kau bilang akan melupakanku!"