
"Sungguh?" Amanda memandang tak percaya pada Alan yang baru saja mengizinkannya untuk kembali kuliah. "Kau yakin Uncle?"
"Kamu tidak mau.."
"Tentu saja, tentu saja aku mau.. terimakasih uncle.." Saking senang nya Amanda memeluk Alan, hingga membuat Alan tertegun. "Baiklah aku akan bersiap.."
"Aku belum selesai.." Amanda menghentikan langkahnya, dan mengeryit.
"Kamu boleh kembali kuliah tapi jangan berharap bisa kabur, pengawal akan ikut bersamamu." Alan berusaha menyembunyikan debaran jantungnya saat gadis itu tiba- tiba memeluknya, sial dia ingin melompat karena girang.
Meski hubungan mereka terbilang dekat namun Alan selalu menjaga jarak agar tak ada sentuhan fisik, Alan memang gila, karena obsesinya pada Amanda, Alan takut tak bisa mengendalikan dirinya jika terlalu dekat dengan gadis ini.
Alan bahkan selalu berusaha sekuat tenaga untuk menahan hasratnya saat gadis itu tampil seksii..
Ayolah sebagai pria dewasa yang normal, Alan tahu gairah apa yang ada dalam dirinya yang bergejolak saat melihat gadis itu.
Meski dia masih bertahan dengan keperjakaannya Alan jelas tahu apa yang dia rasakan, Alan bukan pria lugu bahkan bodoh, dia hanya berusaha untuk tidak menyentuh wanita lain selain istrinya kelak.
Meski banyak yang merayu bahkan dengan suka rela menyerahkan tubuhnya, Alan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kelak, dan membuatnya kerepotan.
Alan merencanakan rumah tangga yang manis dimasa depan tanpa ada gangguan dari wanita lain, bagaimana jika setelah dia menikah ada wanita yang mengaku hamil anaknya, bukankah itu akan merusak cita- cita indahnya.
Amanda akan kecewa bukan, jika suaminya...
Alan mengumpat dalam hati, kenapa dia membayangkan jika dia menjadi suami Amanda, bukankah dia sudah bertekad hanya akan menjadi paman gadis itu.
"Tidak masalah.." Amanda membuka telapak tangannya ke arah Alan, hingga Alan mengeryit "Ponselku Uncle.." pintanya, dan dengan dengusan Alan memberikan ponsel Amanda kembali.
"Uhh ponselku.." Amanda berseru senang lalu pergi ke arah kamarnya, saat akan menaiki tangga Amanda melihat siluet seseorang memasuki rumah hingga orang itu berjalan semakin mendekat barulah Amanda mengetahui siapa orang tersebut "Kak Isa?"
"Hay, Amy.. kamu terlihat senang?" Amanda tersenyum mengangguk "Hari ini aku akan kuliah kembali.."
"Oh, Alan sudah mencabut hukumannya?"
Amanda mengangguk semangat "Tidak sepenuhnya bebas, aku hanya bisa keluar untuk pergi kuliah.." Amanda mencondongkan wajahnya dan berbisik "Tapi itu lebih baik dari pada diam di rumah ini seharian.." Isabella terkekeh.
"Jika begitu selamat untukmu.."
"Ah, Iya.. kak Isa ingin bertemu Uncle?
"Ya kami akan ke vila mengunjungi Uncle dan bibi Barnes.." Amanda menganggukkan kepalanya.
"Aku juga sudah lama tidak bertemu Kakek dan Nenek.."
"Kau ingin ikut?" Amanda melihat ke arah Alan yang berjalan ke arah mereka.
"Kau sudah datang" Amanda masih tak mengalihkan tatapannya dari Alan, Amanda bahkan tertegun saat melihat Alan tersenyum, sebentar pria itu tersenyum, dan senyuman nya terlihat tampan, apa dia tak salah lihat?, ah ya, sejak dulu pria itu selalu tersenyum pada Isa atau Neneknya kecuali padanya, Alan seolah membencinya dan tak pernah menunjukan senyum tulusnya, hanya senyum jahat yang Alan tunjukan padanya.
Pria itu bahkan selalu bersikap lembut pada Isa.
Tiba- tiba Amanda penasaran akan sesuatu.. "Bolehkah aku ikut kalian.."
Alan mengeryit "Bukankah kau akan kuliah?"
Amanda berdehem "Aku bisa bolos satu hari lagi.. dan aku juga merindukan Nenek dan Kakek.."
"Tidak masalah, ayo.." Isa berkata dengan menepuk bahu Amanda lembut
"Baiklah aku akan bersiap dahulu.."
.
.
.
Sepanjang perjalanan Amanda memperhatikan tingkah kedua orang yang ada di kursi depan, Alan dan Isa. Dirinya sendiri duduk di kursi belakang.
Alan dan Isa mengobrol tentang banyak hal dari mulai pekerjaan hingga kegiatan sehari- hari, dan rasa penasaran Amanda semakin besar sekarang, apakah benar perkiraannya jika Alan menyukai Isa..
Bagus sekali, lagi pula mereka pasangan yang serasi, tampan dan cantik. Memikirkan itu Amanda sedikit tertegun, kenapa hatinya terasa tidak nyaman dan gelisah, perasaan apa ini?, pikirnya merasa ragu.
Tiba di Vila, mereka di sambut oleh Wanita paruh baya yang masih cantik, dia usianya yang ke 48 tahun, sangat kontras dengan pria tua di sebelahnya yang sudah berumur 83 tahun, mereka lebih terlihat seperti anak dan Ayah dibanding suami istri, meski begitu keduanya terlihat saling mencintai terlihat dari sang istri yang mendorong kursi roda suaminya dengan sesekali merapikan sweater rajut sang suami Barnes dengan penuh perhatian.
"Oh, Amy juga ikut?" Sofia memeluk Amanda, dan mengecup dahinya. "Cucuku yang cantik.. ah, mengingat cucu.. nenek sepertinya sudah terlalu tua.." Sofia terkekeh.
"Nenek masih tetap cantik.." Amanda balas mencium kedua pipi Sofia.
Amanda berjongkok memeluk Barnes "Aku merindukanmu Kakek.."
"Kakek juga.."
"Kau tahu, tidak ada kau.. Uncle Alan selalu menindasku.." Barnes terkekeh lalu mengusap rambut Amanda
"Kakek akan memarahinya nanti!"
"Sungguh?"
"Ya, tentu saja.."
"Aaa.. aku mencintaimu kakek.." Amanda kembali memeluk Barnes, dan mengecup pipi keriput sang kakek.
"Kau tahu, daddy bahkan sudah tidak memihak ku sekarang.." Barnes tertawa melihat tingkah Amanda yang mengerucutkan bibirnya
.
.
"Apa kabarmu Isa?" Sofia memeluk putri sahabatnya.
"Aku baik bibi, kalian bagaimana?"
Sofia melihat Barnes yang sedang berbincang dengan Amanda "Aku baik, tapi belakangan Uncle mu mulai sakit- sakitan.."
Isa mengusap bahu Sofia "Uncle pasti sangat bahagia karena bibi selalu ada untuknya.." tak ingin membuat Sofia bersedih dengan keadaan suaminya Isa kembali berujar.
"Ah ya, aku dan Alan akan membuat barbeque kesukaan bibi.."
"Benar, mana anak itu dia bahkan belum terlihat, apa dia tidak merindukan orang tuanya.."
"Oh, Alan pasti sedang menurunkan semua bahan untuk barbeque kita, tadi kami mampir ke super market untuk membeli daging dan bahan lainnya.."
"Oh, baguslah bibi sudah tidak sabar.."
Alan pun masuk di ikuti pelayan yang membawa belanjaan mereka, di tangannya Alan membawa buket bunga yang langsung dia berikan pada sang Ibu.
"Untuk Mom.." Sofia tersenyum hangat penuh haru dan menerima bunga dari Alan.
"Terimakasih sayang.." Sofia memeluk Alan "Lebih seringlah kemari.."
"Aku ingin tapi sangat sibuk Mom.."
Sofia mengangguk mengerti mengingat putranya satu- satunya penerus Barnes dan kini telah memimpin perusahaan, jadi jelas dia sangat sibuk, "Cepat hampiri dulu Daddymu.."
Alan pun segera menghampiri Barnes yang masih berbincang dengan Amanda, gadis itu pasti sedang mengadu tentangnya, karena selain pada Alden gadis itu kerap mengadu pada Kakeknya.
"Oh, kakek lihat dia sudah kemari.." Alan menggelengkan kepalanya, benar bukan apa dugaannya, dan selanjutnya daddynya akan berkata untuk tidak mengganggu Amanda.
"Kau mengganggu cucuku lagi.." Alan menghela nafasnya.
"Aku menjaganya Dad.. dan lihatlah dia gadis manja yang hanya bisa merepotkan" Amanda mencebik.
"Bagaimana kabarmu?"Alan memeluk Barnes
"Aku sudah tua.." Barnes menepuk pundak Alan.
"Aku tahu, dan sangat terlihat.."
"Ya, entah besok atau lusa aku mungkin akan mati.."
"Sebelum itu nikmati hidup Daddy dengan tenang.."
"Aku akan tenang saat melihatmu menikah.." Alan kembali menghela nafasnya "Setidaknya meski mati aku juga akan mati dengan tenang."
"Baiklah.. " Alan hanya bisa pasrah, mendengar permintaan sang Ayah.
Amanda yang berada tepat di belakang Barnes jelas mendengar apa yang mereka perbincangkan, Amanda tersenyum "Bagus sekali Uncle aku rasa jika kau menikah, kau tidak akan banyak marah dan marah.."
Alan akan menikah bukan kah itu bagus, setidaknya pria itu mungkin akan berhenti mengusili hidupnya, karena dia akan sibuk dengan istrinya kelak.
...