Make You Mine!

Make You Mine!
Asalkan Jangan Pria Yang Sama



Di perjalanan pulang di isi dengan keheningan, sesekali Alan melihat kaca di atas kepalanya melihat Amanda yang memilih menyandarkan kepalanya dengan mata terpejam.


Alan menelan ludahnya saat mengingat ucapan daddynya tentang Amanda yang bercita- cita memiliki banyak anak, ingin sekali dalam harapannya dirinyalah yang beruntung sebagai ayah dari anak- anak Amanda kelak.


Namun mengingat kembali bahwa dia tak bisa memiliki Amanda membuat Alan menghela nafasnya, dia harus bisa mengubur perasaannya terhadap Amanda.


"Isa..?"


"Ya?" Isa yang juga mulai jengah dengan suasana hening, menegakkan tubuhnya berharap ada obrolan menyenangkan, terlebih Alan dan Amanda yang sejak tadi hanya diam.


"Jika kelak kau menikah berapa anak yang kau inginkan?" Isa mengeryit, sedangkan di kursi belakang Amanda menegakkan tubuhnya, kenapa tiba- tiba Alan bertanya begitu, tapi mengingat lagi jika Alan dan Isa akan segera menikah membuat Amanda menipiskan bibirnya.


Amanda kembali merebahkan kepalanya dan memejamkan mata, berharap tak mendengar jawaban Isa, entah kenapa rasanya tidak nyaman, harusnya jika ingin bicara tentang sesuatu yang intim mereka bicara berdua saja, kenapa harus saat ada dirinya.


Isa terlihat berpikir "Ummm mungkin dua atau tiga aku ingin masa tuaku ramai, di rumah aku hanya sendiri sebagai anak tunggal jadi aku tidak suka sepi.."


Alan mengangguk, jawaban Isa sama seperti pendapat Amanda.. tapi kenapa rasanya tidak seantusias saat mendengarnya dari pendapat Amanda, seperti kata sang Daddy tadi.


"Aku suka wanita yang mau mengambil resiko, bukankah melahirkan itu perjuangan antara hidup dan mati, dan berani memiliki anak lebih dari satu itu sangat luar biasa.." Alan melihat kaca atas lagi dan melihat Amanda yang sama sekali tak bergeming.


Amanda menghela nafasnya pelan, dia berharap segera sampai dan turun dari mobil, merasakan perasaannya semakin tak nyaman seolah ada rasa sesak entah karena apa. Apalagi saat mendengar jawaban Isa tentang anak, dan pujian dari Alan tentu saja untuk Isa. Harusnya dia menjabarkannya jika dia menyukai Isa secara langsung, bukan bicara secara ambigu begitu.. tapi kenapa hatinya merasa iri sekarang..


Untuk apa dia iri, bukankah dia juga memiliki cita- cita yang sama.. tidak apa bukan jika dia juga memiliki cita- cita yang sama memiliki banyak anak, asalkan bukan laki- laki yang sama.


Tapi mendengar pujian Alan untuk Isa, Amanda jadi berharap mendapat pujian yang sama, dia juga ingin di sebut wanita hebat.


"Kau sendiri Amy?" Isa menoleh ke arah Amanda, dan kini keduanya menatap Amanda dengan rasa penasaran.


"Aku apa?"


Isa berdecak "Jika kelak kau menikah, berapa anak yang kau mau?" ayolah Isa membutuhkan topik untuk bicara lebih lanjut dia tidak suka keheningan.


Amanda meringis menggaruk dahinya "Aku.. masih lama untuk menikah, lagi pula aku masih kuliah.. tapi aku juga tidak suka sepi."


Isa mengangguk "Benar sepi sangat menyebalkan, aku baru ingat.. ngomong- ngomong tentang menikah, apa kau punya kekasih? " Isa bertepuk tangan dia menemukan topik pembicaraan, harusnya dia juga duduk di kursi belakang saja dengan Amanda, dari pada duduk dengan Alan si jarang bicara.


Alan menatap kaca di atasnya dengan tajam, dia harus konsentrasi menyetir sedangkan dia juga penasaran akan jawaban Amanda, "Apakah aku harus menjawabnya?"


Amanda mengumpat dalam hati, bagaimana memiliki kekasih jika setiap hari diikuti pengawal bahkan tidak boleh keluar rumah, bagaimana dia bisa bergaul dan mencari kekasih.. ya, meskipun Amanda juga bisa dengan mudah mendapatkan pria, buktinya selalu ada saja yang mendekatinya, namun Amanda juga harus mengenal pria tersebut sebelum menerimanya menjadi seorang kekasih, sedangkan jangankan untuk mengetahui siapa pria itu, Amanda pun tidak leluasa.


Alan menunggu jawaban Amanda dari kaca atas, dan sekilas Amanda melihat Alan menatapnya tanpa kedip, bahkan tatapannya terasa berbeda dari biasanya.


Apa- apaan itu?, Amanda jadi salah tingkah dan menggaruk dahinya "Emmh aku tidak memiliki kekasih.." Amanda tersipu.


"Kita sama..bhaaaa haha.." Isa dan Amanda tertawa, sedangkan Alan mendesah lega.


Alan memalingkan wajahnya tersenyum tipis, saat Amanda dan Isa terus tertawa "Kau tahu aku rasa Daddy kita terlalu berlebihan.."


"Ya, dan karena itu kita tetap menjomblo meski orang lain sudah memiliki kekasih.."


"Ya, aku bahkan belum pernah berciuman.." Isa semakin tertawa.


Amanda menatap Isa tak percaya "Sungguh..?"


Isa mengangguk dengan ekspresi berlagak murung, sedangkan Amanda menatap Alan tak percaya.. dia benar- benar tidak melakukan pendekatan dengan Isa?.


"Wuah, kasihan sekali kau kak, tapi tenang saja.. suamimu akan sangat bangga jika mendapatkan yang pertama.." Isa menjadi merona.


Amanda terkekeh lalu melihat Alan yang masih fokus menyetir "Benarkan Uncle?"


"Ya.. duduk yang benar Amy, kenakan sabuk pengamanmu!" jawab Alan tanpa melihat kearahnya, Amanda mendengus saat Alan menjawab dengan wajah dingin, kenapa selalu seperti itu jika dia yang bertanya.


Amanda berdehem lalu menyandarkan punggungnya kembali di sandaran kursi.


Lebih baik dia diam dari pada bicara dengan uncle sialan tukang marah.


"Bagaimana denganmu Amy, kau pernah berciuman..?" Amanda meringis, lalu menggeleng.


Isa kembali tertawa "Kita memiliki banyak kesamaan, punya Daddy yang over protektif, ingin memiliki banyak anak , tak punya kekasih, dan bahkan belum pernah berciuman.."


Amanda mengangguk masih dengan tawanya, sedangkan Alan merasakan pipinya memanas..


"Tapi tak apa Amy, kesamaan itu bukan masalah, asalkan kita jangan menikah dengan pria yang sama.." Isa masih tertawa, sedangkan Amanda menghentikan tawanya kenapa pemikiran mereka lagi- lagi sama.


"Tentu saja itu tidak akan pernah terjadi.." jawab Amanda dengan yakin, namun matanya menatap Alan dengan tatapan mencibir.


Alan meremas setirnya dengan kuat.