
Amanda tertegun saat gaun dalam etalase itu di ambil oleh dua orang pelayan dan di lepas dengan hati- hati dari patung.
"Permisi Nona.." Amanda memundurkan langkahnya saat dirasa dia menghalangi pergerakan pelayan yang membawa gaun pengantin yang membuat Amanda terkagum.
"Apa itu sudah terjual?" Tanya Amanda, tatapannya masih tidak lepas dari gaun itu, seolah tidak rela gaun itu di miliki orang lain.
"Ah, Ya. Nona Isa ingin mencobanya." Amanda mengeryit.
"Kak Isa?"
"Ya." kedua pelayan itu masuk kembali ke dalam bilik dan membawa gaun tersebut dengan hati- hati.
Amanda hanya bisa mengeluh dalam hati, lagi- lagi Amanda berhasil menunjuk dan memberikan apa yang dia suka pada Isa, meski tidak secara langsung.
Undangan.. sekarang gaun.. Isa juga akan mengambilnya.
Apakah Alan juga termasuk apa yang akan di ambil Isa.
Amanda menunduk sedih, tentu saja bukankah pernikahan mereka beberapa hari lagi..
Amanda masih menunduk muram saat Isa keluar dari bilik. "Ayo.. aku sudah selesai."
Amanda mengeryit "Kau sudah memilih?"
Isa mengangguk mantap.
"Gaun mana yang kau pilih?" Amanda bertanya dengan penasaran, lalu untuk apa dia disini, bukankah Isa memintanya untuk memberi pendapat.
"Gaun yang kau pandangi sampai tidak berkedip, dan pilihanmu sangat bagus.."
"Apa?" Amanda mengepalkan tangannya, apa Isa sedang mengejeknya sekarang.
"Sudah ayo, aku lapar bagaimana kalau kita makan siang, sejak tadi aku lelah memilih gaun." Isa menarik tangan Amanda, namun Amanda bergeming.
"Maaf kak, aku sebenarnya ada janji dengan Mina."
"Eh.. tapi kamu pergi tanpa pengawal, bagaimana jika supirku yang mengantarmu."
Amanda menggeleng "Tidak perlu aku hanya perlu naik taksi dari sini." Amanda melihat sebuah taksi melintas dan dengan cepat dia berlari dan menghentikannya.
"Eh, Amy.." Isa berteriak khawatir, bagaimana ini jika Alan tahu Amanda pergi tanpa pengawal, bisa- bisa dia yang akan dimarahi karena lalai.
Di dalam taksi Amanda menghela nafasnya yang sejak tadi terasa sesak, sebenarnya Amanda sedikit trauma menaiki transfortasi umum seperti taksi, karena bagaimana pun kejadian beberapa waktu lalu masih membayang di pelupuk mata Amanda, tapi terus menemani Isa, Amanda tidak yakin bisa bernafas bebas karena sejak tadi dia hanya bisa menatap iri pada Isa.
Amanda mengusap air matanya yang tiba- tiba saja menetes "Kenapa harus menangis sih.." Amanda menjadi tidak yakin dengan apa yang akan Alan lakukan, mengingat tentang kejutan pernikahan ini.
"Apa aku harus melepaskannya sekarang, bagaimana bisa.. memulai saja belum dan sekarang harus di akhiri begitu saja."
Amanda merasakan ponselnya bergetar, dan Amanda hanya melihatnya tanpa berniat mengangkat panggilan tersebut.
[Apa yang sedang kamu lakukan]
[Kenapa tidak mengangkat panggilanku]
Amanda mematikan ponselnya, entah kenapa sekarang hatinya malah menjadi bimbang.
Kesal sekali rasanya..
..
Alan mengerutkan keningnya saat ponsel Amanda sudah tidak aktif "Kemana gadis itu, dan sekarang ponselnya juga mati."
"Kemana dia sekarang?" Alan menghubungi salah satu bodyguard yang bertugas menjaga Amanda.
"Nona sedang pergi bersama nona Isa tuan, jadi kami tidak di perbolehkan ikut."
"Apa?, apa kalian bodoh, aku bilang ikuti kemana pun meski diam- diam, cepat cari kemana mereka pergi!" Alan mematikan sambungan teleponnya dan mengumpat, sekarang Alan menjadi khawatir karena Amanda pergi tanpa pengawalan, meskipun ada Isa yang pasti juga pergi dengan supir sekaligus pengawalnya, namun entah kenapa ada rasa khawatir dalam diri Alan tapi entah kerena apa.
Alan berusaha melacak ponsel Amanda tapi karena ponsel Amanda sedang tidak aktif jelas Alan kesulitan melacak keberadaan Amanda.
Alan beralih ke kontak Isa dimana kata para pengawal Amanda pergi dengan Isa.
Alan mengumpat saat Isa tak juga mengangkat panggilannya hingga dering ke lima barulah suara Isa terdengar.
"Hallo."
"Dimana kalian?" suara Alan terdengar bergetar, antara kesal dan menahan diri dia bahkan tak perlu berbasa- basi dan langsung bertanya pada intinya.
"Kalian?"
"Ya, kau dan Amy pengawal bilang kalian pergi bersama.."
"Aku sedang dalam perjalanan pulang, tapi Amy pergi lebih dulu karena dia bilang ada janji dengan Mina.." Isa menghela nafasnya pelan, itukan yang Amanda katakan dan dia tidak berbohong.
"Kau membiarkannya pergi sendiri!" Isa menjauhkan ponselnya saat Alan berteriak. "Kau tahu bagaimana aku menjaganya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk padanya!."
"Astaga, Al.. kau tahu suaramu terlalu keras, kupingku sampai sakit."
"Dengar Alan, kau tahu Amanda sudah dewasa kenapa kau masih saja mengikatnya seperti anak kecil, aku yakin suatu hari jika Amy bosan dengan semua keposesifanmu dia akan meninggalkanmu!"
Klik.
Isa mematikan ponselnya, tak peduli dengan Alan yang akan murka Isa sungguh kesal, kerana Alan tidak pernah berubah, beruntung dia tidak akan jadi menikah dengan Alan, jika tidak dia akan mati karena cemburu melihat perhatian Alan pada Amanda.
Isa tahu Alan sangat khawatir begitupun dirinya tapi tidak perlu berlebihan, bagaimana Amanda akan melihat dunia nanti, jika gadis itu terus terkurung, hanya karena Amanda hilang beberapa detik Alan sudah kalang kabut, apa dia tidak lelah.
Isa menghela nafasnya lalu melihat ke arah supirnya "Bagaimana Amy?"
"Nona Amy, masih berputar- putar dengan taksinya nona."
"Dia pasti sedang kesal karena gaunnya aku ambil." Isa terkekeh "Katakan pada mereka terus awasi hingga Amy benar- benar aman."
"Baik Nona."
....