
"Amy, kemana saja kau?." Mina melipat tangannya di dada menghadap Amanda yang terkekeh "Kau tahu, sejak hari itu aku tidak bisa tidur memikirkan mu.."
"Kau jatuh cinta padaku.."
Mina melongo tak percaya "Apa?"
"Bukankah salah satu tanda jatuh cinta adalah, tak bisa tidur karena memikirkan orang tersebut.."
Mina mencebik, sedangkan Amanda tertawa kecil "Aku di hukum tak boleh kemana pun termasuk kuliah.."
"Ya, dan aku dengar dari dosen kau sedang sakit.." Amanda mendengus itu alasan yang di berikan Alan pada dosennya.
"Saranku, berhentilah membantah Amy turuti saja apa kata Uncle tampanmu itu!"
Amanda menggeleng sambil mencebikkan bibirnya. "Kau tahu aku memiliki ide baru lagi.."
Mina menggeleng tak percaya "Jangan libatkan aku!"
"Ayolah sayangku, bantu aku.."
"Amy, apa yang kau lakukan sungguh berbahaya kau tahu.." Mina melihat ke arah dua pria yang menunggu di depan kelas mereka "Kau lihat tubuh mereka, tubuh mereka sangat besar, jika aku tertangkap maka aku akan habis.."
"Mereka tidak seperti itu jika dilihat dengan hati.. mereka sangat baik hati.."
"Hati angsa maksudmu.. jangan membujukku, mereka sudah jelas bodyguard terlatih, hari ini hari pertama kau kuliah dan jangan sampai kau terkurung lagi kau mengerti!, jadi jangan pikirkan rencana gilamu itu."
Amanda mencebik, dan memalingkan wajahnya, dia harus bisa menonton acara balapan liar lagi hari ini, jadi dia harus mengatur rencana dengan baik.
"Mina kau tahu dimana aku bisa belajar naik motor?."
Mina mengerutkan keningnya "Apa?"
"Motor, motor yang besar aku suka itu.."
Mina menepuk dahinya "Kau di didik dan tercipta menjadi seorang putri, dan kau ingin melakukan sesuatu yang berbahaya?."
"Jangan berpikir yang aneh- aneh, kau tahu hidupmu sudah tertata, kuliah yang benar dan lanjutkan perusahaan ayahmu.."
"Nilaiku bahkan tetap bagus meski aku tak kuliah beberapa hari.." Amanda mencebik "Aku juga tahu apa yang akan aku lakukan kelak, jadi untuk saat ini aku ingin menikmati hidupku.." Amanda menundukkan wajahnya terlihat murung, dan Mina mendesah kasihan.
"Baiklah, ini terakhir kalinya.. setelah hari ini aku tidak akan membantumu lagi."
"Benarkah.." Mina mengangguk lemah, dan Amanda memeluk gadis itu gemas "Terimakasih sayangku.."
..
Mina keluar dari kelas saat semua orang sudah keluar, dan sudah sepi.
"Eh, kalian masih disini?" para bodyguard Amanda mengangguk pada Mina, yang mereka tahu adalah sahabat nona mereka.
"Kalian tidak menemani Amy?, bukankah dia sudah keluar.. kalian tidak melihatnya?." para bodyguard itu menegang, lalu melihat ke dalam kelas yang sudah sepi.
"Sial Nona kabur lagi, cepat cari dia.." Mina mendesah lega saat para bodyguard Amanda pergi berlari ke arah parkiran.
Amanda muncul dari meja dosen dan mengacungkan jempolnya pada Mina.
"Ingat, jangan libatkan aku mengerti!"
Amanda mengangguk lalu mencium pipi Mina.
"Aku mencintaimu.." Amanda lari keluar gerbang saat melihat para bodyguardnya pergi dengan mobil mereka.
Amanda memasuki taksi dan bernafas lega, untuk kesekian kalinya dia bisa lari.
Tersenyum menyingkirkan perasaan aneh di hatinya, semalam setelah mereka tiba dari kunjungan ke vila Barnes, mommynya Airin menghubungi jika mereka akan segera pulang sebab dia dan Sofia akan mempersiapkan tentang perjodohan Alan dengan Isa, jelas terdengar Airin sangat antusias karena Mommy nya itu ternyata mendukung perjodohan antara Alan dan Isa. Ya, tak bisa di pungkiri memang Alan dan Isa adalah pasangan yang serasi, cantik dan tampan.
Hati Amanda lagi- lagi merasakan perasaan dilema, seperti rasa cemburu dan iri, lalu untuk apa dia merasakan semua itu?, Amanda menggeleng lagi- lagi menyingkirkan pemikirannya tentang Alan, tidak mungkin itu terjadi pada dirinya bukan.
...
Alan mengumpat saat tiba- tiba pintu ruangan kerjanya di dorong kuat hingga terdengar suara debuman "Kau bercanda?." Isa menatap marah pada Alan.
"Kau ingin pura- pura tidak tahu.." Isa memicingkan matanya.
"Aku tahu.." Alan menghela nafasnya "Aku tahu, tentu saja. Tapi aku tidak tahu jika ini akan terjadi secepat kilat.." Isa mengerutkan keningnya.
"Dan kau setuju?."
Alan mengedikkan bahu acuh "Dengar Alan, aku tidak berencana bercerai setelah menikah, jadi sebelum itu terjadi kau harus memikirkannya dengan benar!"
"Kebetulan sekali aku juga tidak ingin melakukan perceraian.."
"Dan kita sama sekali tak punya sesuatu yang di sebut cinta untuk bertahan."
"Kita bisa mencoba.." Alan masih berkata dengan acuh seolah ini bukan masalah besar, dan Isa mendengus dengan gemas.
"Ayolah, Alan. Tolak perjodohan ini!"
"Kenapa tidak kau saja yang menolak.." Isa mengeluh dalam hati dia tak bisa melihat tatapan kecewa dari mommynya. "Dan aku juga tak ingin melihat tatapan kecewa itu dari mommyku." seolah tahu pemikiran Isa Alan pun mengeluarkan suaranya.
"Jadi aku harus apa?, tidak mungkin aku menghabiskan sisa hidupku denganmu yang dingin dan tak banyak bicara, aku bisa mati kebosanan.." Alan terkekeh.
"Kita jalani saja, tidak mungkin kita menikah secara langsung, dan siapa tahu akan tumbuh cinta diantara kita.." tatapan Alan jatuh pada foto keluarga yang terpampang jelas di meja kerjanya, disana ada keluarga lengkapnya termasuk Alden dan Airin sebagai kakak dan kakak iparnya, tidak lupa sosok cantik dan menawan yang tersenyum ke arah kamera yang berdiri tepat di sebelah Airin. Amanda..
Sosok itu yang sejak dulu sudah menawan hatinya, tapi bagaimana bisa dia memiliki gadis itu jika dia harus menikah dengan Isa, terlebih lagi 'Kau adalah pamannya Alan!'.
"Kau yakin akan berusaha?" Isa menatap tak percaya.
Alan mengalihkan tatapannya pada Isa yang bahkan tak ingin repot- repot untuk duduk, gadis itu hanya berdiri dengan melipat tangannya di dada.
"Ya.. kita jalani saja dulu, lagipula seperti katamu kita ini jomblo tak terikat dengan siapapun.."
Isa mendesah malas lalu duduk di depan Alan dengan lesu "Jika ini tidak berhasil?"
Alan akan menjawab pertanyaan Isa namun ponselnya berdering, "Tunggu sebentar.." Alan menerima panggilan tersebut, "Ya?"
"Tu..tuan Nona kabur lagi.." seseorang di sebrang sana terdengar gugup.
"Apa kalian tidak mengawasinya.." Alan memijat pelipisnya, gadis itu benar- benar tidak pernah kapok, "Bagaimana kalian bekerja sebenarnya?!"
"Maafkan kami tuan, Nona hilang dari jangkauan kami saat keluar dari kelas.."
Alan menegakkan tubuhnya lalu bangun "Segera cari lewat gps di ponselnya!" Alan menutup panggilan tersebut lalu menatap Isa yang mengeryit. "Amy hilang lagi.."
Isa menghela nafasnya "Kau berlebihan Alan, Amy bahkan belum hilang seharian.." Alan memalingkan wajahnya "Biarkan dia bermain sebentar.."
"Kau tidak mengerti!."
Isa mengedikkan bahunya "Ya, aku tidak mengerti kenapa dia tidak boleh hilang dari pandanganmu meski sebentar saja..?" Alan mengeryit tak suka dengan ucapan Isa.
"Kau yakin hubungan ini akan berhasil Alan?"
..
Amanda melihat sekitarnya namun itu bukan arah tujuannya, Amanda mengeryit melihat ke arah supir taksi, mungkin dia supir baru yang tidak tahu jalur "Pak, jalur yang kau gunakan salah.. ini bukan tujuanku.."
Sang supir yang mengenakan topi hitam menatap Amanda lewat kaca atasnya lalu menyeringai.
"Ini memang bukan tujuan anda Nona, tapi tujuanku.."
Amanda membeku dengan sekujur tubuh yang menegang, "Kau.."
....
Like..
Komen..
Vote..