
"Haruskah aku mengatakan semua ini Amy.." Alan menundukkan wajahnya, lalu menghela nafasnya dalam.
"Aku bukan pamanmu!"
Amanda mengeryit "Apa maksudmu Uncle, kau jangan bercanda hanya karena aku menolakmu.."
Alan memejamkan matanya "Aku bukan paman kandungmu.."
Amanda menggeleng tak percaya dengan apa yang di dengarnya, ada apa dengan Alan, kenapa Alan berkata seperti itu, apa dia begitu putus asa hingga mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal.
"Jadi seharusnya tidak akan ada yang menentang hubungan kita Amy.."
"Kau gila Uncle... bagaimana bisa kau bicara sesuatu yang tidak masuk akal seperti ini."
Alan memang putus asa "Aku akan jelaskan, tapi berjanjilah untuk selalu bersamaku..!"
Amanda menegang melihat Alan yang sama sekali tak menampakkan wajah bohong membuat Amanda sedikit terbengong, apakah benar mereka bukan saudara kandung lalu siapa diantara mereka yang bukan keluarga dan keturunan Barnes?.
"Tidak Amy, bukan kau.. tapi aku.."Amanda menggeleng tak percaya kedua tangannya menutup mulutnya rapat karena terkejut.
Alan menghela nafasnya, berdoa dalam hati semoga mommynya Sofia bisa mengampuninya, namun tak ada cara lain, dia tak ingin Amanda bersedih, dan merasa rendah diri karena hanya anak adopsi.
Amanda memutar ingatan jika saja dia pernah mendengar percakapan antara orang tuanya ataupun kakek dan neneknya tentang Alan tapi nihil dia tak ingat ada pembahasan soal Alan anak angkat.
Amanda menelan ludahnya "Jadi kita bisa bersama Amy.." Alan menggenggam tangan Amy, "..aku akan meyakinkan Mom, untuk membatalkan pernikahan ku dan Isa.."
Amanda menunduk menatap tautan tangannya dan Alan "Lalu bagaimana dengan kak Isa, bagaimana jika dia menyukaimu Uncle.."
Alan menggenggam erat tangan Amanda beberapa hari lalu ia meyakinkan Isa untuk memulai hubungan mereka sebagai pasangan dan sekarang dia harus memutuskan hubungan mereka.
Brengsek nya kau Alan!
"Aku akan mengurusnya, tapi Amy bisakah kau percaya padaku.." Amy mengangguk meski hatinya merasa takut, takut akan ada rintangan untuk mereka.
Alan memeluk Amanda dan dengan senyuman Amanda menyambutnya, "Tapi Uncle, bagaimana perasaanmu.. em.. maaf saat kau tahu kau bukan anak kandung Kakek dan Nenek."
Alan menegang "Emmhh awalnya menyedihkan, tapi aku sudah terbiasa.."
"Tentu dan kau beruntung memiliki Nenek dan Kakek sebagai keluarga" Ada yang mengganjal di hati Amanda, ada suara terlintas di benaknya, Airin yang bercerita tentang kelahiran Alan "Kau tahu di saat itu usia kakek bahkan sudah 58 tahun, dan Nenek datang untuk meminta pertanggung jawabannya" , jika Alan benar anak dari Kakeknya dan Alan berbohong apa yang harus Amanda lakukan.
Dan jika benar mereka bukan saudara kandung, bukankah kemungkinan lainnya adalah...
Amanda menelan ludahnya kasar..
"Uncle aku ingin pulang.." banyak hal yang justru membuat Amanda resah, meski nyatanya dia bahagia karena perasaannya berbalas dan bukan cinta yang bertepuk sebelah tangan saja.
Alan melepas pelukannya lembut. "Kenapa tidak menginap.."
Amanda tersenyum lalu menggeleng "Aku tidak boleh tinggal serumah dengan pria lain.."
Alan terkekeh "Kita bahkan serumah setiap orang tuamu pergi.."
"Tapi sekarang berbeda aku tahu kau bukan saudaraku.." Amanda menunduk malu, wajahnya memerah menggemaskan.
"Kau tahu malam ini kau sudah menjadi milikku, dan aku sudah lama menahannya.." Alan tersenyum menyeringai.
"Astaga Uncle kau" Alan terkekeh "Lagipula aku ingin kau menyelesaikan dahulu masalah pernikahanmu, aku tidak mau di tuduh merusak hubungan kalian.."
Alan terdiam "Ayo aku antar pulang.."