
Tidak ada yang tahu tentang akhir kehidupan seseorang, entah itu besok atau hari ini..
Sofia menangis tergugu saat melihat jenazah Barnes di dalam peti telah terbalut rapi, di sebelahnya ada Airin dan Amanda yang juga menangisi kepergian Barnes, mereka bertiga berpelukan seolah saling menguatkan. Apalagi Sofia, wanita berusia 48 tahun itu seolah kehilangan arah saat sang suami pergi meninggalkannya.
Alan dan Alden menyambut para tamu yang datang dan mengucapkan bela sungkawa, siapa yang tahu baru tadi malam mereka hadir di pesta ulang tahun sekaligus pernikahan Alan, dan hari ini mereka kembali datang untuk mengantar kepergian Barnes ke peristirahatan terakhir.
Kaca mata hitam bertengger di mata keduanya menyamarkan warna merah di mata mereka, bekas tangis yang juga tercipta karena kepergian sang ayah Horison Barnes.
Pria itu sungguh pergi setelah menunaikan janjinya menikahkan Alan, bagai janji yang sudah di tepati Barnes pun seolah kehilangan beban di pundaknya, dan pergi dengan tenang.
Dini hari tadi Alan menerima panggilan dari Sofia jika Daddynya di larikan ke rumah sakit, karena kondisinya yang sudah lemah, entah selama ini Barnes hanya menahannya hingga tak pernah terlihat begitu kesakitan seperti itu dan membuat Sofia panik bukan main.
Awalnya Sofia tak berniat mengganggu malam pengantin Alan, tapi melihat kondisi sang suami semakin kritis membuat Sofia menghubungi kedua anak Barnes itu, Alan dan Alden.
Tak berselang lama kedua pasangan itu tiba dan langsung mengerumuni Barnes..
Sofia yang tak pernah beranjak dari sisi Barnes pun terus menangis melihat Barnes yang mulai melemah, dan yang membuat Sofia tak habis pikir di saat seperti itu Barnes masih berkata hal bodoh padanya.
"Baby, hadiah ulang tahun yang kau janjikan bolehkah aku memintanya sekarang.." Barnes berkata dengan lemah hingga membuat semua orang menatap prihatin.
Sofia mengangguk "Aku akan memberikan apapun untukmu.."
"Sungguh..?" Barnes berkata dengan senyum tertahan di bibirnya, karena rasa sakit di tubuhnya.
Sofia mengangguk "Untuk itu, kau harus sembuh.. Maka aku akan lakukan apapun untukmu."
Barnes menggeleng "Aku hanya butuh janjimu.." Sofia mengusap air matanya.
"Baby, berjanjilah setelah ini kamu harus bahagia.. Carilah kembali cintamu untuk menemani masa tuamu.." Sofia ingin memukul suaminya jika saja ucapan itu dia ucapkan saat sedang sehat, namun melihat tatapan Barnes yang tak berdaya membuat Sofia hanya bisa mengeluh.
"Bagaimana bisa kamu mengatakan itu.. Aku tidak akan memikirkan apapun, bahkan aku akan ikut mati bersamamu."
"Lihat, kalian adalah saksinya, dan jangan lupa untuk menjaga dan mengawasinya.." Barnes menatap Alden dan Alan.
..
"Suami bodoh mana yang ingin istrinya menikah lagi.."
"Bangunlah Honey, aku tak ingin apapun kecuali kau.." Sofia terisak di depan peti Barnes.
Alden dan Alan menghela nafasnya, mereka bersedih terutama Alan yang juga harus menyaksikan mommynya kehilangan pijakannya.
Tapi bagaimana lagi, jika takdir Tuhan sudah bicara, tapi sebelum itu kita masih punya kesempatan untuk membuat orang- orang yang kita cintai bahagia, sebelum mereka pergi.
Mengingat itu Alan beralih menatap Amanda dimana dia masih juga menangis dengan sesekali menenangkan Sofia.
"Kamu anakku, tapi aku akan lebih membela cucuku jika kamu berani menyakitinya." Peringat Barnes pada Alan.
Alan mengangguk "Aku berjanji akan selalu membahagiakan istriku Dad.."
Barnes tersenyum puas lalu tatapannya jatuh pada Alden "Bantulah adikmu, sebelum kamu mati menyusulku..!" Alden yang selama ini tak pernah mau mengurus perusahaan keluarga tentu membuat Barnes kesal, apa dia harus mati dulu lalu Alden mau mengurus perusahaannya.
"Dad, kau jelek saat sok lemah seperti itu." Alden yang biasanya tak pernah menangis pun kini matanya memburam karena air mata.
Barnes terkekeh "Kemarilah, kalian aku ingin memeluk kalian." Alan dan Alden mendekat dan memeluk Barnes, lalu Airin dan Sofia.
Tatapan mata Barnes sudah semakin sayu, detak jantungnya pun sudah semakin lemah, dengan sisa kekuatannya dia memeluk Sofia "Baby, aku mencintaimu.." bisiknya lirih.
"Hmm.. Aku tahu, dan aku lebih mencintaimu." Sofia mengeratkan pelukannya saat detak jantung Barnes berhenti, dan bunyi monitor menandakan Barnes sudah tiada membuat tangis mereka pecah seketika.
....