
Amanda nampak cantik dengan gaun pengantin, wajahnya yang tersembunyi di balik tudung pengantin membuat Alan berdebar kencang, senyum Alan terus merekah saat melihat Alden membawa Amanda semakin mendekat.
Alan masih tak mengedipkan mata menatap Amanda, yang cantik.
Wajahnya berseri persis seperti seorang anak yang baru mendapat hadiah permen.
Alan masih tak menyangka akan ada drama seperti sekarang, dimana dia akan menikah dengan Amanda, Alan kira ini adalah siasat Isa untuk menjebaknya, lalu menikah dengannya, Alan lupa jika Isa tidak mungkin sejahat itu.
Alan melihat ke arah Isa yang tersenyum, "Sudah ku bilang katakan terimakasih nanti." Alan mengangguk dengan senyuman "Oh, astaga.. Kau tersenyum, kemana sejak tadi senyum mu itu hah!.." Alan merona mendengar godaan Isa, dia tak bisa berkata apapun dan sungguh tak percaya dengan apa yang terjadi.
Jantungnya bergemuruh bahagia..
Mommy dan Daddynya berhasil membodohinya, Alan harus meminta penjelasan nanti, dan bagaimana mereka bisa tahu tentangnya dan Amanda.
Ketakutannya tidak terjadi, bagaimana mungkin orang tuanya menjerumuskannya pada pernikahan tanpa cinta, dan baguslah sebelum dia menjelaskan mereka sudah tahu dan mengerti perasaannya.
Bukankah Alan beruntung?.
Tentu saja, Amanda adalah cintanya bahkan sejak dia di masa belia, dan kini gadis itu sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Alan mengulurkan tangannya saat Alan menyerahkan tangan Amanda, dengan menghela nafasnya Alden berujar "Aku tidak menyangka menyerahkan putriku pada adikku sendiri.." Alan terkekeh.
"Meski begitu, aku tidak akan segan membunuhmu jika terjadi sesuatu yang buruk pada putriku, dan jangan pernah bermimpi untuk menyakitinya." di balik tudungnya Amanda tertegun, benar Alan adalah adik daddynya, adik kandung dan dirinya hanya anak angkat, Amanda tersenyum getir hatinya masih belum bisa menerima kenyataan pahit ini dan ingin menghentikan semuanya lalu meminta penjelasan lebih dulu, tapi tatapan Airin, Sofia, bahkan Barnes yang berbinar membuatnya enggan, sudah cukup baik dia di asuh oleh keluarga ini, haruskah dia membuat mereka malu dengan menghentikan pernikahan.
"Aku berjanji akan selalu membuat Amy bahagia." Alan tak mengalihkan tatapannya dari Amanda, yang masih menunduk.
Alden mengangguk "Aku memegang janjimu." Sekali lagi Alden mengecup dahi Amanda, dan pergi meninggalkan keduanya untuk mengucap janji.
.
.
.
Amanda masih menunduk wajahnya yang tertutup tudung itu tak terlihat jelas, meski begitu dia tetap terlihat mempesona.
Baru saja keduanya usai mengucap janji suci di depan Tuhan dan para tamu undangan, Sofia dan Airin bahkan menangis haru saat mendengan perkataan Alan yang tegas dan mantap untuk berada dalam suka dan duka, sakit dan sehat tetap setia bersama Amanda.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri. Silahkan, cium pengantinmu.." Alan membuka tudung pengantin yang menutupi wajah cantik Amanda, lalu menunduk mensejajarkan dirinya untuk mencium Amanda.
Tepuk tangan terdengar riuh saat bibir Alan menyatu dengan bibir Amanda, membuat Amanda tak bisa tak merona.
Alan tersenyum "Aku benar- benar tak menyangka ini akan terjadi secepat ini."
Amanda tersenyum kecil "Aku juga." Alan terkekeh lalu mengecup kedua tangan Amanda.
Alan tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya tangannya tak melepaskan tangan Amanda di genggamannya, bahkan hingga mereka menyambut para tamu yang memberikan selamat. "Apa kamu tahu tentang semua ini?."
Amanda menggeleng "Aku hanya tahu, Nenek merencanakan kejutan untuk pernikahanmu dan Kak Isa."
"Karena itu kamu bersikap aneh akhir- akhir ini, kamu cemburu?" Amanda diam. Tapi dari raut wajahnya Alan tahu jika Amanda merasa cemburu.
Amanda menepis sejenak kegalauan hatinya, dia tak ingin membuat keluarganya kecewa, jadi senyumnya terus merekah.
"Terimakasih Isa.." Alan berkata tulus, hingga Isa tersenyum.
"Sudahlah lagi pula ini juga keberuntungan untukku.. Sudah ku bilang aku tak ingin menikah dengan pria kaku sepertimu." Ejeknya.
Alan mencebik "Kau akan mendapatkan pria yang lebih menyebalkan dari pada aku." Isa memukul tangan Alan keras, benar- benar keras hingga Alan meringis.
"Setelah apa yang aku lakukan kau mendoakan aku keburukan." Alan terkekeh.
"Tentu saja tidak, kamu akan mendapatkan pria yang mencintaimu hingga untuk menggores sedikit kulitmu saja dia tidak akan sanggup." Isa merona.
"Seperti itu, baru adalah doa." Amanda tersenyum melihat interaksi antara Alan dan Isa, tapi dia sama sekali tak bicara. "Hey, ada apa denganmu, kamu mendadak bisu karena terpesona mendadak sudah menjadi istri Alan." Amanda memeluk Isa.
"Terimakasih kak." Isa mengangguk lalu menepuk pundak Amanda.
"Aku harus pergi." Alan mengerutkan keningnya.
"Kau akan pergi, tidak ikut pesta?."
Isa mengangguk "Aku harus segera pergi ke Itali.." Alan mengangguk lalu tersenyum.
"Semoga kali ini kau bisa meyakinkan tuan Willy.." Isa memberengut masam, dia pernah bercerita jika dia tak bisa meluluhkan seorang investor dari Italia karena pria itu lebih angkuh dari Alan.
"Baiklah aku pergi, semoga kalian selalu bahagia." Isa melambaikan tangannya dan berjalan menjauh dari pelaminan, terlihat Airin dan Alden menghampiri mereka. Sekali lagi Isa tersenyum lalu menunduk, menyembunyikan rasa sakitnya.
"Ini tidak seberapa Isa, kau pasti bisa melewatinya." Isa bergumam sambil melanjutkan langkahnya.
Ada pribahasa bahwa tidak ada persahabatan antara laki- laki dan perempuan, dan Isa beberapa kali menepis saat rasa mulai muncul, Isa terus menyangkal saat Alan mulai mendekat dengan dalih perjodohan, tapi saat dia mulai menyadari, dia mengetahui jika perasaannya tidak mungkin terjalin, karena Alan mencintai Amanda.
Isa sangat peka, bahkan sejak dulu dia menyadari jika Alan memiliki perasaan lebih, namun mengingat Alan dan Amanda bersaudara Isa menepisnya, namun saat mengetahui jika Amanda bukan putri kandung Alden membuat Isa tersadar, dia tidak akan bisa bersama Alan, karena sejauh apapun nanti hubungannya dengan Alan, pria itu tidak akan melepas Amanda.
Isa hanya menghindari hatinya semakin sakit dan mengalah lebih awal, dan rupanya tidak sesakit itu ketika kita mengikhlaskan sesuatu yang bukan milik kita.
Isa menghela nafasnya, lalu tersenyum sekali lagi menatap vila keluarga Barnes, tampak dari luar vila itu bercahaya di antara cuaca sore hari, menunjukan keriuhan dan kebahagiaan di dalamnya.
"Semoga kalian selalu bahagia." Sekali lagi doa yang tulus Isa ucapkan.
Mengobati hatinya yang patah Isa melanjutkan langkahnya kearah mobilnya yang terparkir dan keluar dari gerbang vila keluarga Barnes.
...
Lain Isa lain pula dengan Amanda, gadis itu menatap jemari tangannya saat ini dia sudah berada di dalam kamar pengantinnya dengan Alan yang sudah di siapkan.
Terduduk di atas ranjang dengan meremas pelan jemarinya.
Amanda mendongak saat mendengar pintu kamar terbuka "Mom bilang kamu belum makan." Alan meletakkan nampan di atas meja sofa "Ayo makan, kita akan melakukan resepsi setelah ini." Alan terkekeh "Aku masih tak menyangka ini benar- benar terjadi." Alan menata makanan di atas meja.
Tak mendengar satu patah kata pun dari mulut Amanda membuat Alan menoleh dan melihat Amanda yang menatapnya dengan mata berkaca- kaca, ada apa lagi dengan Amanda kenapa tatapannya penuh rasa kecewa.
"Hey, kamu menangis.."