
"Aku rasa aku memang belum siap untuk menikah." Amanda termenung dengan mata yang menatap jauh kedepan.
"Hentikan omong kosongmu itu Amy, kamu sudah menjadi istriku sekarang, jadi jangan berfikir yang tidak- tidak!" Alan menekan kening Amanda dengan jarinya.
Amanda mencebik "Memangnya apa?, aku hanya berkata belum siap untuk menikah, bukan berkata ingin membatalkannya." mana mungkin Amanda rela kehilangan Alan, pria yang dia cintai dan yang jelas paling mengerti dirinya.
Alan menghela nafasnya "Sudah selesai bukan, sekarang kita makan, kita masih harus menggelar resepsi!." Amanda mengangguk, benar kali ini tamu undangan bukan hanya rekan bisnis dan kerabat Barnes, tapi teman kuliah Amanda dan kerabat Alan.
Amanda memejamkan matanya, saat teman- temannya hadir itu berarti akan ada pertanyaan- pertanyaan dalam benak mereka bagaimana bisa dia menikah dengan pamannya sendiri, yang notabenenya pria tampan yang selalu menjadi incaran teman- teman Amanda.
Alan mengambil piring dan mengisinya dengan makanan lalu kembali duduk di sebelah Amanda, dan menyodorkan sendok berisi makanan ke mulut Amanda.
"Aku tidak semanja itu, aku bisa makan sendiri." Dan bagaimana bisa Alan yang menyuapinya, bukankah harusnya dia yang melayani Alan karena dialah istrinya sekarang.
"Berikan padaku, aku yang akan menyuapimu." Alan tersenyum dan memberikan piringnya kepada Amanda.
Amanda tersenyum saat Alan membuka mulutnya, lalu berlanjut dengan dirinya yang juga ikut makan hingga makanan di dalam piring habis.
...
Amanda dan Alan menyapa semua tamu yang datang, tak seperti yang Amanda kira semua tamu justru tersenyum dan mengucapkan selamat padanya, terutama Mina yang juga tak menyangka jika Amanda sungguh menikah dengan pamannya.
"Aku benar- benar tak menyangka, saat membaca kartu undangan, bagaimana bisa ada namamu disana dan juga Unclemu, eh sekarang kalian sudah menikah, kamu bahkan tak berkata apapun saat terakhir bertemu.." Mina tersenyum kaku saat matanya jatuh pada Alan yang memperhatikannya.
"Ya, dan aku sendiri tidak tahu tentang ini.." Mina menggenggam tangan Amanda.
"Semoga kalian selalu bahagia."
Alan tersenyum "Terimakasih sudah menjadi teman Amy selama ini." Mina bergerak salah tingkah karena baru pertama kali ini melihat Alan tersenyum sangat tulus, dan Mina rasa Alan jadi semakin tampan saat pria itu tersenyum.
Nampak di layar bagaimana prosesi pernikahan Amanda dan Alan yang sengaja di tampilkan untuk mempermanis suasana dan membuat beberapa orang menatapnya dengan terkagum- kagum juga iri karena Amanda berhasil mendapatkan pria setampan Alan, begitupun sebaliknya.
Melihat disana Alan tersenyum bahagia membuat semua mata semakin terkagum akan ketampanan pria itu, begitu bahagianya Alan bisa mendapatkan Amanda terpancar dari sinar matanya.
Lain Alan, lain pula dengan Amanda gadis itu kini sedang menatap tersenyum pria di depannya "Selamat untukmu Amy.." Andy mengulurkan tangannya, lalu tiba- tiba Alan dengan sigap menyambut uluran tangan Andy.
"Terimakasih." Alan meremas sedikit keras jabatan tangannya.
Andy terkekeh "Sudah ku duga jika hubungan kalian tidak hanya sebagai keponakan dan paman, melihat kau begitu posesif membuatku mengerti sekarang." Amanda meremas tangannya, sedangkan Alan menatapnya dingin.
"Silahkan nikmati jamuan makannya."
"Jangan dengarkan apapun kata mereka.," Amanda mengangguk lalu menggandeng tangan Alan.
Alan tersenyum dan mengecup dahi Amanda.
"Ehmmm.." Alan dan Amanda menoleh pada Airin yang berdehem di belakang mereka, senyum Airin merekah saat tatapan bahagia dari Amanda dan Alan.
"Mom.." Amanda memeluk Airin.
"Sekarang aku tahu kenapa sejak dulu aku selalu percaya padamu untuk menitipkan Amy.. Terimakasih sudah menjaga Amy, Alan."
"Dan sekarang aku harus memberikan putriku sepenuhnya padamu." Airin meneteskan air matanya "Bagaimana pun dia aku mohon tetaplah cintai dan sayangi sepenuh hatimu." Alan mengangguk dengan tegas.
"Aku berjanji kak.." Airin tertawa.
"Aku jadi bingung kalau begini, jadi kisah ini berjudul 'Adikku adalah menantuku' Alan tersenyum sedangkan Amanda mencebik.
"Mom berkata berlebihan seperti itu, kita akan tetap bertemu bukan?." Airin mengelus pipi Amanda.
"Kemana pun kamu pergi, rumahmu dan tempat kamu pulang adalah Mom, dan Dad.. Jadi jangankan untuk berpikir tak ingin menemuimu, aku bahkan berharap kamu tetap di rumah."
"Tentu saja aku akan pulang kapanpun.." Amanda kembali memeluk Airin.
"Ya, dan tentu saja dengan izin suamimu." Amanda mengangguk dengan air mata membasahi pipinya.
Benar, seperti apapun keadaannya dulu, keluarganya. Amanda tak penasaran lagi.. yang pasti mereka pasti orang yang baik karena berhasil menemukan Airin dan Alden untuknya, dan takdir Tuhan tak pernah salah, dia kehilangan orang tuanya dan mendapatkan gantinya yang terbaik seperti Alden dan Airin.
"Putriku yang manja, mulai sekarang belajarlah dewasa dan dengarkan suamimu." Amanda mengangguk haru lalu memeluk Airin.
...
Alan di kejutkan dengan dering ponselnya di atas nakas, lalu melihat ke arah Amanda yang berada di pelukannya, tak ingin Amanda terbangun Alan segara menerima panggilan tersebut.
Alan mengeryit saat melihat jam yang tertera di layar ponselnya menunjukkan pukul empat pagi, semalam setelah acara resepsi mereka mengirim Alan dan Amanda ke hotel yang sudah di pesan untuk malam pertama mereka, meski nyatanya tak ada kegiatan panas karena Alan dan Amanda sama- sama kelelahan, hingga begitu tiba di hotel mereka jatuh tertidur. "Ya, Mom.."
Mendengar suara Alan, Amanda pun terbangun dan mendongak memperhatikan raut wajah Alan yang tiba- tiba menegang.
"Alan, Daddymu masuk rumah sakit.."
.....