Make You Mine!

Make You Mine!
Isabella Alfaro



Amanda benar- benar terkurung di rumah besar itu, sudah tiga hari dia tidak bisa keluar rumah, dia juga tak bisa bertanya kapan orang tuanya pulang karena ponselnya masih di tangan Alan "Aku harusnya memiliki dua atau setidaknya tiga ponsel, Akhhhh ini membosankan!" Amanda menendang kakinya ke udara meluapkan kekesalannya, tak bisa keluar rumah, tak ada kuliah dan tak ada media sosial.


Tiga hari ini Amanda benar- benar menghindari Alan, dia mengurung diri di kamar saat pria itu pulang, dan baru keluar kamar saat Alan sudah tidak di rumah.


Dan baru tiga hari, gadis itu sudah bosan setengah mati, entah kapan orang tuanya itu pulang dan Amanda yakin itu masih lama, dan selama itu pula Amanda harus terkurung disana, lalu bagaimana dengan kuliahnya.


Semua gara- gara pamannya yang super menyebalkan itu, sialan..


Semoga saja dia akan tersedak kopi panas!.


..


Uhuk.. uhuk.. Alan memuntahkan kopinya "Astaga Luc, kau mengagetkan aku!" Alan tersedak saat Lucas sang asisten mengatakan jika ada seseorang yang ingin menemuinya. "Kau tidak lihat aku sedang meneguk kopiku!"


"Maafkan aku tuan.." Lucas meringis merasa bersalah, tapi dia memang harus mengatakannya dan tidak mungkin membiarkan seseorang di luar sana menunggu lama.


"Apa yang akan kau katakan?" Alan melap mulutnya dengan tisu.


"Nona Isa sudah datang tuan.." Alan mengangguk dan Lucas pun segera berbalik untuk membuka pintu.


"Apa kabarmu?" Isa tersenyum melongokkan wajahnya lewat celah pintu. "Bertemu CEO memang sulit, aku rasa aku harus membuat janji dulu nanti." Alan mendengus geli lalu berjalan ke arah Isa untuk memeluk gadis itu.


Isabella Alfaro,


Putri dari Marvin Alfaro dan Monica Harvey Alfaro itu balas memeluk Alan.


Gadis cantik berusia 25 tahun itu menepuk pundak Alan, usia mereka yang berbeda beberapa bulan saja, menjadikan mereka teman sejak kecil lalu satu sekolah, bahkan hingga kuliah dan sampai sekarang mereka meneruskan persahabatan mereka persis seperti Ibu mereka yang bersahabat, Sofia dan Monica.


"Bagaimana perjalan bisnismu?" Isa mendesah lelah.


"Aku menghabiskan waktu satu minggu di Itali tapi tetap saja di tolak.." Isa memang melakukan perjalanan bisnis untuk mewakili perusahaan sang Daddy, namun ternyata pemilik perusahaan malah menolaknya dan menganggapnya tidak kompeten.


"Kau yakin tak ada yang salah dengan proposal mu?" Isa menggeleng.


"Pemilik perusahaan sangat menyebalkan kau tahu dia sangat sombong, aku rasa dia mengingatkanku pada seseorang.." mata Isa memicing menatap Alan "Tapi kau masih bisa tersenyum walau sedikit, tapi dia.." Isa bergidik "Dia sangat menyebalkan, wajahnya datar... aku rasa dia mafia yang.."


"Kau membandingkannya denganku!" Alan berdecak, memotong ucapan Isa.


Isa terkekeh "Ya, meski dia sedikit lebih tampan dibandingkan denganmu.."


"Bagaimana Uncle dan Bibi Sofia? mereka apa kabar?" Isa mengalihkan pembicaraan melihat raut wajah Alan tak enak di pandang.


"Seperti biasa mereka ada di vila.." Barnes dan Sofia memang memilih menghabiskan waktu di vila mereka di pegunungan xxx, apalagi usia Barnes yang sudah tak muda lagi membuatnya menyukai udara segar pegunungan di banding udara kota yang sudah banyak tercemar.


Isa mengangguk "Aku akan mengunjungi mereka nanti.."


"Hmm,, aku juga akan kesana, aku hanya menunggu Alden dan kak Airin pulang."


"Oh, mereka pergi lagi, itu berarti Amy ada di rumahmu?"


"Ya.. dia selalu membangkang." jawab Alan malas.


"Aku hanya memintanya mengikuti peraturan ku saat dia berada di rumahku" Alan menatap datar ke depan tak menghiraukan Isa, dan Isa tak lagi memperpanjang dan hanya menipiskan bibirnya.


"Baiklah aku akan mengunjunginya setelah dari sini."


...


Selepas dari kantor Alan, Isa benar- benar pergi ke rumah Alan, untuk menemui Amanda.


Isa yang bersahabat dengan Alan sejak kecil membuatnya juga mengenal keponakan Alan itu, mereka juga kerap main bersama saat Amanda kebetulan ada di rumah Alan.


Isa yang sering menemani ibunya Monica untuk bertemu Sofia, sudah hapal betapa kerasnya Alan pada Amanda, kerap kali Alan membuat menangis Amanda kecil, dan Isa lah yang akan membujuk Amanda dan menghiburnya.


Isa tak tahu jika kebiasaan itu berlanjut hingga Amanda dewasa, gadis itu bahkan sudah berusia 19 dan beberapa bulan lagi akan berusia 20 tahun, tapi Alan tetap saja mengekangnya, bahkan Isa rasa Alan semakin parah mengekang Amanda.


Tidak boleh ini, tidak boleh itu.. bukankah itu keterlaluan, Amanda juga pasti ingin punya kehidupan selain kampus dan rumah, dia juga perlu bergaul dengan teman sebayanya.


"Kak Isa.." Amanda memekik senang saa melihat Isa berdiri sambil merentangkan tangannya di depan pintu kamarnya, dengan segera gadis itu memeluk Isa dengan haru "Aku merindukanmu.."


"Aku juga" Isa mengusak rambut Amanda. "Tapi aku heran kamu tidak pernah mengunjungiku.."


"Kakak sangat sibuk aku tidak ingin mengganggu.. bagaimana pekerjaanmu, apa menyenangkan?" Amanda membawa Isa masuk ke dalam kamarnya.


"Melelahkan.."


Isa mengedarkan pandangannya melihat kamar Amanda "Apa yang terjadi dengan kamarmu?" Isa melihat banyak bungkus camilan di meja, kaleng minuman soda juga cangkang kacang yang berserakan.


Amanda meringis "Hem.. Uncle Alan sedang menghukumku tak boleh keluar rumah bahkan ke kampus, aku tidak boleh kemana pun, ponsel ku juga disita.. dan aku sangat bosan.."


"Apa yang kamu lakukan, hingga membuatnya kesal." Isa menggeleng tak percaya.


"Aku pergi tanpa izin, padahal aku tidak ke club, tidak mabuk aku bahkan masih waras saat pulang.."


Isa menghela nafasnya "Kau tahu Amy, aku rasa jika aku tidak tahu hubungan kalian Paman dan keponakan aku pasti mengira Alan sedang posesif pada kekasihnya.." Amanda mengerjapkan matanya.


"Apa?"


"Alan seperti seorang pria yang menjaga wanitanya, kau tahu.. seperti itu juga yang dilakukan Daddy ku, tidak membiarkan Mommy pergi sendiri kecuali dengan pengawal, tidak mengizinkan Mommy berpenampilan terbuka, meksi itu hanya bagian tengkuk.." Isa memiringkan wajahnya melihat reaksi Amanda.


"Bagaimana bisa i.. tu jelas berbeda, Mommy dan Daddymu itu suami istri sedangkan aku.." benar tidak hanya Daddy Isa, Daddynya juga kerap bersikap posesif pada Mommynya, dan jika di fikir lagi Alan juga melakukan itu padanya hanya dalam versi kasar.


"Ya, aku kan bilang jika aku tidak tahu hubungan kalian, tapi bukankah sudah jelas kalian saudara.."


Amanda merasa ada sesuatu yang aneh di hatinya "Ya, dia begitu hanya untuk mengekangku.. dan menindasku.. menyebalkan." elaknya, tidak mungkinkah Alan menyukainya.


Amanda berfikir apa yang sebenarnya Alan inginkan darinya, benar harusnya Alan tidak boleh berlebihan padanya, dia tidak berhak.


Jika Alan benar menjaganya sebagai saudara dan kewajibannya sebagai paman, harusnya tidak berlebihan bukan, dia harusnya punya batasan sebagai seorang Paman, sedangkan Daddynya juga tak pernah melakukan hal itu.


Alan bahkan dengan kasar menyeretnya dari Club malam, hal yang tak pernah Daddynya lakukan, Alden hanya akan menceramahinya itu pun dengan lembut dan tak pernah membentak.