Make You Mine!

Make You Mine!
Rencana Pertunangan



"Maksudmu, Amy menyukai Alan?" Airin menutup mulutnya karena terkejut dengan pernyataan Alden.


"Itu baru perkiraanku saja Baby, kau tidak lihat sejak pulang Amy terlihat bersedih.."


"Alan akan menikah.."


"Ck, aku juga tidak setuju jika Amy dengan anak ingusan itu.."


"Al.." Alden menghela nafasnya melihat Airin mencebik.


"Itu berarti Amy akan patah hati.." Airin tertunduk murung, yang dia tahu Alan menyukai Isa bahkan sejak dulu, itulah sebabnya dia mendukung dan ikut senang saat mertuanya Sofia akan meresmikan hubungan mereka.


"Lalu kita harus apa?" Alden menatap Amanda yang kini sedang duduk di kursi taman, terlihat anak itu sedang memandang ke depan.


"Kau ingat, saat kita membawanya dari panti asuhan, aku berjanji akan selalu membuat putriku bahagia.." Alden mengusap bahu sang istri menenangkan.


"Itu baru perkiraanku sayang, kita lihat situasinya terlebih dulu.."


...


Amy beberapa kali menghela nafasnya untuk meredakan degup jantungnya, malam ini adalah acara pertemuan keluarga antara keluarga Alan dan Isa untuk merencanakan pertunangan keduanya.


Amanda masih duduk di dalam mobil di depan restoran mewah yang sudah di sewa secara pribadi oleh Mommynya.


Ya, Mommynya mengurus segala keperluan dan kepentingan acara mereka bahkan hingga pernikahan Sofia menyerahkan semuanya pada Airin, mengingat dirinya harus mengurus sang suami, Barnes.


Amanda masih diam bahkan meski teleponnya berdering beberapa kali, Airin menghubunginya mungkin karena dia belum juga datang, Airin bisa melihat semua anggota keluarga sudah hadir termasuk keluarga Isa, mereka terlihat bercengkrama dengan canda tawa.


Dinding restoran yang terbuat dari kaca membuatnya bisa melihat ke dalam sana, dan betapa semua orang di meja terlihat bahagia termasuk Alan yang duduk bersebelahan dengan Isa, Isa bahkan tak berhenti tersenyum dengan sesekali kepalanya menyandar di bahu Alan.


Amanda cemberut sedih "Bagaimana ini, aku mungkin akan menangis jika terus melihat itu.."


"Sudah satu minggu bahkan aku tidak bertemu dengannya, tapi bukan melupakan malah rasanya rindu sekali.. bolehkah aku mendengarnya marah dan memakiku.."


"Nona, nyonya menghubungiku, dan memintamu segera masuk!"


Amanda mencebik ke arah supir yang sejak tadi mungkin mendengar ucapannya, dan dia tidak peduli, seingatnya dia juga tak menyebut nama Alan kan.


Amanda membuka pintu dan keluar dari dalam mobil, sudahlah lagi pula mau sampai kapan berdiam diri, mereka pasti sudah menunggu.


Menarik nafas dan melebarkan senyumnya Amanda memasuki restoran, di saat bersamaan semua mata tertuju padanya.


"Ehh.. maaf aku terlambat.." Amanda tersenyum canggung, lalu tatapannya jatuh pada Alan yang juga menatapnya.


Amanda menahan nafasnya saat melihat tangan Alan menggenggam tangan Isa di atas meja, astaga melihat dari dekat membuatnya semakin sakit, Amanda membuang wajahnya.


"Tidak apa, nak.. kemarilah!" Amanda tersenyum pada Monica dan segera menghampirinya.


"Apa kabar Bibi.." dilanjutkan dengan basa- basi, Amanda menyapa semua orang lalu duduk di sebelah Airin tepat di depan Alan.


Airin menundukan kepalanya tak ingin melihat Alan dan Isa yang terlihat serasi dengan pakaian senada yang pasti sudah di persiapkan secara khusus.


"Kau cantik sekali.." Amanda hanya tersenyum menanggapi "Oh iya, setelah pernikahan Alan dan Isa resmi bukankah kita masih punya Amanda untuk di nikahkan."


Amanda meringis "Tentu saja, tapi sekarang aku masih kecil bibi.."


"Aku akan mencari yang terbaik untuk putriku.." Airin mengusap rambut Amanda sayang.


"Aku akan mencari kekasihku sendiri mom.." Amanda mencebik.


"Kau belum tentu bisa mencari yang terbaik, honey.." Alden menimpali.


Amanda menggeleng "Tentu saja bisa, banyak pria yang mendekatiku.."


"Baiklah, Daddy beri kesempatan untuk mencari kekasih yang terbaik, tapi harus menurut penilaian Daddy, jika tidak Daddy yang akan mencarikan pria untukmu.. kau ingat anak dari Uncle Roland dia pria yang baik.."


"Dad, dia playboy.."


Alden menggeleng "Pria manapun akan luluh dengan putriku.. kau lupa dulu aku juga seorang don juan, tapi karena Mommymu, aku meninggalkan segalanya." Alden menggerling ke arah Airin dan Airin mencubit pinggang.


"Banyak bicara, sudahlah kita bicarakan soal Amy nanti, kita akan membahas Alan sekarang.."


Alan yang sejak tadi terdiam tak menyadari jika tangannya menggenggam erat tangan Isa, entah sadar atau tidak dia hanya ingin mengepalkan tangan menahan amarah, mendengar pembicaraan antara Amanda dan kedua kakaknya.


"Bagaimana Alan..?" Barnes bertanya dengan serius, pria tua berkursi roda itu menatap Alan.


"Alan kau menyakitiku.." Isa ingin menjerit, namun dia menahannya dia tak ingin menjadi malu maka dia hanya bisa berbisik saat Alan meremas tangannya kuat seolah akan meremukkannya.


Alan terhenyak menelan ludahnya "Maaf.." Alan segera melepaskan tangan Isa.


"Jadi bagaimana Alan?"


"Aku.." Alan melihat ke arah Amanda yang memalingkan wajahnya. "Aku setuju.."


Amanda memejamkan matanya sejenak lalu tersenyum "Bagus sekali.. apakah sudah diputuskan tanggal pernikahan?"


Alan masih menatap Amanda dengan datar dan tentu saja dengan geraman tertahan di dadanya.


"Belum kami baru menjadwalkan pertunangan yang akan di laksanakan satu bulan lagi.."


"Oh, cepat sekali..?" Amanda menutup mulutnya "Eh, maaf aku hanya terkejut.." Amanda tertawa canggung, tak dapat di pungkiri hati Amanda serasa di remas, sakit hati mengingat tak lama lagi Alan dan Isa akan menikah.


Tapi mau bagaimana lagi, dia harus melupakan perasaannya.


Sofia terkekeh "Kakekmu yang memintanya.."Amanda mengangguk.


Lalu semuanya dimulai, pembicaraan tentang rencana, tanggal dan hari yang bagus..


Amanda seperti anak linglung yang mulai tak bisa mendengar satu persatu rencana pertunangan yang akan dilakukan dengan megah mengingat keduanya adalah putri pengusaha kaya.


Telinga Amanda terasa berdenging dengan hati yang terasa panas, Amanda tidak tahan dan berbisik.. "Mom, aku akan ke toilet.." Airin mengangguk dan Amanda meninggalkan meja.


Alan sejak tadi hanya diam dan memperhatikan Amanda bahkan nyaris tak mendengar apa saja rencana para orang tua untuk hari pertunangannya.


Melihat Amanda pergi, Alan pun bangkit berdiri "Aku akan keluar sebentar.." memperlihatkan ponselnya pada Isa, Alan pun pergi setelah Isa mengangguk mengiyakan.


...