
Amanda menginjakkan kaki di rumahnya dengan lesu, tanpa menghiraukan Airin dan Alden yang sedang duduk santai di ruang keluarga, Airin berlalu begitu saja ke kamarnya.
Airin yang menyadari kehadiran Amanda yang pergi dengan acuh ke arah kamarnya pun menepuk paha Alden yang fokus dengan ponselnya.
Alden menoleh dan mengeryit melihat Airin yang menggerakkan dagunya ke arah Amanda.
Alden menghela nafasnya "Apa kita perlu mengenalkannya dengan seorang pria.."
"Kita hanya perlu menunggu beberapa hari lagi dan semoga Amy akan kembali seperti semula.,"
"Bagaimana jika tidak, menghilangkan cinta itu sangat sulit, aku jadi merasa bersalah, mengadakan pesta pernikahan untuk pria yang di cintai putriku.." Airin mengeluh, tapi bagaimana lagi dia sudah berjanji sejak awal untuk membantu Sofia.
Alden dan Airin memang tidak mengetahui rencana Sofia dan Isa, hanya dua wanita beda usia itu saja yang mengetahuinya, dan juga Barnes. selebihnya tidak ada yang tahu.
..
Amanda menghela nafasnya ketika bangun tidur di pagi hari, yang pertama dirasa adalah kehampaan, ini adalah hari ke tiga Amanda tidak kemanapun, setelah pertemuan dengan Alan tiga hari lalu Amanda tidak keluar rumah bahkan hanya sekedar kuliah saja Amanda lakukan secara daring. Amanda melihat ponselnya yang dia matikan tiga hari ini, dia kesal pada Alan yang terus menghubunginya, dan terus bertanya tentang keadaannya, jadi Amanda memilih mematikan ponselnya.
Di benaknya mulai berseliweran kejadian beberapa hari ini tentang hidupnya yang mulai kacau akibat pamannya itu.
Amanda meremas rambutnya yang berantakan "Harusnya ini tidak terjadi harusnya dia tetap menjadi Uncle ku saja.." Harusnya Amanda tidak pernah menyukai pamannya, tapi ketika sang paman bilang jika mereka bukan saudara kandung godaan itu datang padanya, perasaan bahagia karena Alan ternyata juga memiliki perasaan yang sama membuat Amanda jatuh semakin dalam.
Amanda jatuh cinta pada pamannya.
Pikiran Amanda yang kacau tak bisa berpikir jernih tentang bagaimana pamannya bisa masuk ke keluarganya, dan bagaimana bisa pamannya hanya seorang anak adopsi di keluarganya terlupakan begitu saja karena begitu bahagia perasaannya ternyata bersambut, dan bukan perasaan yang salah karena menyukai paman kandungnya sendiri. Amanda bahkan mengabaikan fakta bahwa paman dan kakeknya sangat mirip, hingga kini pemikiran itu terlintas begitu saja.. "Bagaimana bisa mereka bukan anak dan Ayah?" Amanda bergumam.
"Apakah Uncle sengaja berbohong, agar aku menerimanya.." Amanda menutup mulutnya "Apa mungkin?"
Amanda segera bangun dan membersihkan dirinya lalu pergi ke lantai satu, tak terlihat siapapun disana hanya ada beberapa pelayan yang sedang bekerja "Dimana Mom?" tanya Amanda pada pelayan yang sedang membersihkan guci besar yang sebenarnya sudah bersih, karena di bersihkan setiap hari.
"Nyonya bilang dia akan pergi untuk mengurus pesta nona.."
Amanda tertegun, "Oh ya, terimakasih.." Amanda membalik tubuhnya berjalan lunglai ke arah taman belakang rumah. Benar besok adalah harinya, hari ulang tahun kakeknya sekaligus pernikahan kejutan untuk Alan, dan mulai besok dan seterusnya Amanda tidak akan berharap lagi..
Alan akan menjadi suami Isa mulai besok.
Vila keluarga Barnes sudah disulap menjadi ballroom yang sangat indah, seluruh persiapan sudah Airin pastikan selesai besok malam.
Wanita paruh baya itu tengah mengawasi para pekerja dan memastikan semua selesai pada waktunya besok.
Ponsel Airin berdering dan dengan segera wanita itu mengangkatnya "Isa?" Airin melihat nama Isa tertera di layar ponselnya.
"Ya.."
"Hallo bibi aku hanya akan mengabarkan jika aku sudah menyiapkan gaun untuk Amy.."
"Oh kamu sudah menyiapkan gaun untuk Amy, kenapa merepotkan dirimu.." Airin menghela nafasnya.
"Tidak Bibi, aku suka dan Amy sangat berarti untukku.."
"Terimakasih Isa.. baiklah aku akan meminta Amy datang mengambil gaun sebelum acara dimulai." Airin menghela nafasnya kembali lalu kembali mengusap layar ponselnya.
"Amy, kamu sudah bangun..?"
"Ya Mom, kau butuh bantuan?" terdengar suara Amanda di seberang sana.
"Tidak, Mom hanya memberi tahu jika Isa sudah menyiapkan gaun untukmu.."
Amanda mendesah malas "Bolehkah aku tidak datang?"
"Kakekmu akan kecewa Nak.."
"Baiklah.."
Amanda menutup ponselnya, dia bangun dari duduknya dan berjalan ke arah kamarnya, dia baru saja mengaktifkan kembali ponselnya yang sejak tiga hari lalu dia matikan, banyak pesan dari Alan bahkan panggilan dari pria itu yang tidak dia hiraukan, dan sekarang mommynya menghubungi memberi kabar yang membuatnya semakin kacau, Isa menyiapkan gaun untuknya di pesta pernikahan mereka.
Lelucon apa ini..
Dunia seolah sedang menertawakannya sekarang, apa ini begitu lucu..
Amanda memasuki kamarnya dan meraih tasnya, memasukan ponsel dan dompet lalu segera pergi. Dia butuh udara seger.
Di depan pintu Amanda melihat penjaga yang siap siaga berdiri menegakkan tubuhnya saat gadis itu membuka pintu.
"Aku akan mengemudi.." Amanda menengadahkan tangannya meminta kunci mobilnya.
"Maafkan aku nona, aku harus selalu ikut kemanapun anda pergi."
Amanda meremas rambutnya, "Siapa tuanmu sebenarnya, aku atau Alan..!" Amanda geram.
"Maaf Nona, selain tuan Alden aku juga harus menuruti perintah tuan Alan untuk menjagamu."
Amanda sudah tak tahan lagi "Kalian bukan menjagaku, tapi memenjarakan aku!, aku muak. Kau tahu!" Amanda meraung.
Saat Amanda menormalkan nafasnya yang menderu menahan amarah, sebuah mobil memasuki pelataran dan menampakkan seorang pria tampan bertubuh tegap keluar dari dalam mobil.
"Butuh bantuanku Nona..?"
Amanda menghela nafasnya dan berjalan cepat ke arah pria yang masih menampilkan senyum smirknya.
"Aku ingin pergi dari sini.."
Pria tampan itu menyodorkan tangannya ke arah Amanda "Setelah ini kamu akan sulit untuk kembali."
Amanda tak mengindahkan dan menyambut tangan besar tersebut, dan tanpa mendengar peringatan dari para penjaga Amanda memasuki mobil berlogo kuda jingkrak berwarna merah cerah itu, begitupun dengan pria yang sejak tadi tak melepas tatapannya dari Amanda.
"Are you ready..?" Amanda menelan ludahnya saat melihat para penjaga mulai berlarian hendak menahan laju mobil dengan menutup gerbang tinggi itu.
"Ya.." Pria tampan di sebelah Amanda menyeringai lebar lalu segera menekan pedal gas melaju dengan cepat, mengejar waktu sebelum gerbang tertutup rapat..
Sedikit lagi..
Amanda berteriak dalam hati..
Brak..
Mobil mewah itu melewati pagar yang bergerak tertutup, tak peduli dengan body mobilnya yang tergores karena menabrak pagar.
"Huuuuu..." Amanda berteriak "Akhhhhh..." Amanda merentangkan tangannya ke atas "Aku bebas..!" Teriaknya.
Pria di sebelah Amanda menggeleng tak mengerti bukannya senang dirinya bisa keluar dari rumah itu tapi dia melihat air mata menetes di sudut mata Amanda.
"Uncle Alden akan membunuhku."
Amanda menggedikkan bahunya "Siapa suruh datang di saat yang tidak tepat."
Amanda menoleh saat mendengar kekehan dari pria di sebelahnya "Tapi sudah aku bilang, setelah ini kau akan sulit kembali."
...
Aku galon, jadi tidak bersemangat.. peraturan baru novel kontrak membuatku ingin menangis🤧.
Ya sudahlah,,