
Setelah kepergian Isa, Amanda tidak bisa memejamkan matanya teringat apa yang Isa ucapkan, apakah pamannya benar menyukainya hingga dia di kekang dan tak boleh melakukan hal yang tidak dia sukai.
Jika dipikir lagi Alan memang tak hanya mengekangnya, sejak dulu pria itu juga melindunginya dari gangguan anak lain, meski Alan selalu memarahinya tapi dia seperti tak rela Amanda di ganggu oleh orang lain selain dirinya.
Cih.. menyebalkan, melarang orang lain bersikap buruk dia sendiri berbuat buruk padanya, mengingat semua itu tidak mungkin kan Alan menyukainya, dia hanya serakah tak ingin mainannya dimainkan orang lain.
Amanda meringis saat mengingat dia seperti mainan Alan.. menyebalkan.
Memikirkan yang tidak- tidak membuat Amanda kelaparan , apalagi sejak tadi setelah Isa pulang dia tak makan karena sibuk memikirkan Alan menyukainya..
Pemikiran yang tidak masuk akal..
Amanda memutuskan keluar kamar untuk mencari makanan, keluar dari kamar, Amanda pergi ke pantry kecil yang ada di depan kamar Alan, dia mencari apa yang bisa di makan untuk mengganjal perutnya hingga pagi nanti.
"Bisa- bisanya aku berpikir dia menyukaiku.." Amanda mengeluarkan susu dan pie apel dari lemari es "Otak bodoh, berpikir yang tidak- tidak" Amanda memukul kepalanya..
"Cinta apanya, kalau cinta harusnya tidak kasar.."
"Siapa yang mencintai siapa?"
Uhuk.. Uhuk.. Amanda baru saja meneguk susu nya langsung tersedak karena tiba- tiba mendengar ada suara di belakangnya.
Sejak kapan Alan ada disana, seingatnya tadi saat dia masuk ke pantry tidak ada siapapun disana, Amanda mendengus saat melihat Alan duduk dengan elegan di kursi bar di depannya ada minuman berwarna merah kehitaman.
"Uncle sedang apa malam- malam begini?"
"Kamu belum menjawab pertanyaanku, siapa yang mencintai siapa?"
"Bukan urusan uncle.." Amanda menegak kembali susunya lalu memakan pie apelnya dengan acuh.
Alan mengeryit tak suka "Kenapa tidak menjawab saja!"
"Aku akan menjawab asal Uncle membiarkan aku kembali kuliah" Amanda menyeringai.
Alan menggeleng tanda tidak setuju lalu dengan acuh kembali menyesap minumannya.
"Ayolah uncle aku sudah tertinggal mata kuliahku selama tiga hari ini."
"Seharusnya kamu memikirkan itu sebelum membangkang.."
"Atau setidaknya berikan ponselku.." Alan bergeming.
"Kamu bisa menggunakan laptop mu.."
Amanda kesal bukan main, kenapa Alan sulit sekali untuk di bujuk.
Amanda menghentakkan kakinya kesal meninggalkan pienya yang baru dia makan beberapa suap saja, memasuki kamar dengan membanting pintu keras.
Alan menghela nafasnya lalu tatapannya jatuh kembali pada ponsel Amanda yang sejak tadi di pegangnya dan kembali membaca pesan yang sejak tadi mengganggunya.
-Hay, Amy. bagaimana dengan ajakan makanku?, hari ini kau sibuk?-
-Amy kau tidak membalas pesanku, ah aku adalah Andy kau ingat?-
-Aku dengar kau sakit, kau baik- baik saja, maaf tapi aku khawatir, bisakah kau beritahu aku kabarmu?!-
-Amy, kau baik- baik saja bisakah angkat telepon ku, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan-
Alan mendesah saat membaca serentetan pesan yang dikirim pria yang bernama Andy itu, dan jika di lihat dari perhatian pria itu,Alan tahu pria itu menyukai Amanda.
Bukan hanya pesan, pria itu juga menghubungi berkali- kali, namun Alan mengabaikannya.
Sejak tadi Alan begitu kesal saat membuka ponsel Amanda yang berdering terus menerus, namun saat melihat Amanda keluar dari kamarnya Alan menyembunyikan ponsel Amanda di dalam saku.
Saat mendengar Amanda bergumam dan menggerutu tentang cinta, Alan semakin penasaran siapa yang Amanda bicarakan, apakah pria yang sama yang mengiriminya pesan, sial anak gadis itu.. masih kecil sudah bicara tentang cinta.
Alan menggenggam erat ponsel Amanda hingga dia rasa dia akan meremukannya.
...
Sejak dulu Alan berusaha mengendalikan dirinya untuk tidak tergoda dengan gadis kecil itu, semakin hari gadis itu tumbuh Alan merasa semakin tersiksa dengan perasaannya, melihat gadis itu tumbuh semakin cantik dan mengagumkan membuat Alan tak bisa mengendalikan diri, dia sengaja selalu berbuat kasar agar perasaannya sedikit demi sedikit menghilang, namun semakin Amanda membangkang dia rasa dia semakin tak terkendali, rasa marah saat melihat gadis itu liar dan tak bisa dia atur seolah menguasainya, padahal dia melakukan itu untuk menjaga gadis itu dan menjaganya tetap murni, meski kemurniannya entah untuk siapa kelak, namun jauh dilubuk hatinya Alan berharap dia menjadi satu- satunya pria itu, pria yang beruntung untuk kemurnian Amanda.
Alan mendesah lelah bagaimana bisa dia menyukai gadis itu sejak mereka bahkan masih kecil, hingga kini Amanda sudah dewasa, dia mulai takut kehilangan gadis itu, tapi dia tak ingin mengecewakan orang tuanya, bagaimana bisa dia memiliki Amanda sedangkan sejak dulu dia di tekan untuk menjadi seorang paman dari Amanda.
" Jadilah uncle yang baik untuk Amy, dia adalah keponakanmu satu- satunya, jaga dia seperti kamu menjaga dirimu sendiri, kamu mengerti!."
Belum lagi harapan Mommynya yang ingin dia berpasangan dengan Isa, ya sejak dulu bahkan sebelum mereka lahir ibu mereka memang merencanakan perjodohan antara keduanya.
Itulah dia selalu berusaha dekat dengan Isa, agar sedikit demi sedikit bisa membuat perasaannya tumbuh dan melupakan Amanda, namun tetap saja dia tidak bisa memiliki perasaan apapun kepada Isa, selain perasaan seorang sahabat.
...