Make You Mine!

Make You Mine!
Memaksakan Kehendak



Isabella alfaro, gadis itu benar- benar datang ke rumah Amanda setelah dia dari vila keluarga Barnes untuk menemui Bibi dan Paman Barnes, dan kini gadis itu sedang duduk dengan raut kesal menatap keluar balkon kamarnya, saat datang Amanda mengajaknya untuk mengobrol di kamarnya di lantai dua.


"Kak Isa..?" Amanda meletakkan dua kaleng soda di atas meja "Kau baik- baik saja?"


"Kamu pikir bagaimana.." Isa mendengus "Alan memintaku untuk setuju dengan perjodohan ini, dan sekarang dengan mudahnya dia mengatakan akan membatalkan karena menyukai wanita lain.."


Amanda ingin bicara namun saat mulutnya terbuka suara bahkan tak mampu keluar dari mulutnya.


"Aku kesal sekali.. dia sungguh egois, tidakkah dia berpikir tentang perasaanku.."


"Kak Isa menyukai Uncle?" Isa terdiam lalu dahinya mengeryit.


"Entahlah.."Isa menjawab ragu- ragu, hingga membuat perasaan Amanda semakin tak menentu, haruskah dia merasa bersalah karena sudah membuat Alan goyah, apakah akan lebih baik jika dia tidak menyatakan perasaannya..


Isa mengeryit saat melihat Amanda justru terlihat melamun "Hey, aku yang sedang galau kenapa kamu yang melamun.."


Amanda meringis "Tidak, aku hanya sedikit bingung."


"Karena apa?"


"Kak Isa, aku ingin bertanya pendapatmu.."


Isa menatap Amanda dengan serius "Apa itu?"


"Aku memiliki seorang teman yang menyukai temannya, tapi temannya itu ternyata sudah akan menikah, namun saat temanku menyatakan perasaanya, temannya tersebut juga menyukainya bahkan sejak dulu, tapi sekarang semuanya jadi rumit."


Isa mencebik "Rumit sekali..?"


Temanmu, menyukai temannya yang ternyata menyukai temanmu, padahal dia sudah akan menikah?.. lalu kenapa tidak bilang sejak awal jika dia menyukai temanmu dan malah akan menikah dengan wanita lain.." Isa menghela nafasnya "Kenapa aku merasa deja vu.." Amanda menegang. "Lalu bagaimana dengan calon istrinya?"


"Entahlah.." Amanda menatap kosong ke arah depan.


"Ini kisahmu atau kisah temanmu?" Isa memiringkan wajahnya "Ayo katakan siapa teman yang kau sukai..?"


Amanda menelan ludahnya kasar, untung dia mengatakan 'teman' bukan 'uncle'.. jika tidak, apa yang akan di pikirkan Isa, kenapa Amanda bisa bicara seperti tadi, Amanda hanya ingin tahu, bagaimana jika Isa melihatnya dari sudut pandang Amanda, apakah akan mengalah atau berjuang "Aku bilang ini temanku, Sudah lah, aku tidak mau membicarakannya."


"Kau menghindar?"


"Tidak kak.."keluhnya.


"Sudah ku bilang bukan.." Isa berdecak kesal.


"Aku kesal, semua masalah kita tidak menemukan titik terang, aku dan temanmu itu.." Isa menaikan alisnya menatap tak percaya pada Amanda "Katakan padaku siapa yang kau sukai.."


"Sudah ku bilang itu temanku!." Amanda merasa malu sendiri sekarang, bagaimana jika Isa tahu jika dirinya penyebab Alan membatalkan pernikahannya, gadis itu pasti marah atau bahkan membencinya.


"Sekarang apa yang akan kau lakukan?" tanyanya pada Isa.


"Entahlah, aku tak ingin orang tuaku cemas, apa aku biarkan saja ini berjalan lagi pula pernikahan kejutan akan di adakan, Alan pasti tidak akan menolak jika sudah di hadapan orang banyak .."


"Bukankah jika di paksakan tidak akan bagus." Amanda meremas tangannya gelisah telapak tangannya bahkan sudah basah, beginikah jika kita merasa bersalah?.


"Uncle pasti akan marah.." mata Isa menyipit.


"Sebenarnya kamu membela siapa sih,sudah jelas paman mu itu bersalah!."


Amanda mendesah "Ya, dia bersalah, tapi memaksakan sesuatu juga bukan sesuatu yang baik."


Isa mencebik, lalu mereka terdiam cukup lama hingga Isa bangkit "Kak Isa akan kemana?"


"Pulang, datang kesini jadi membuatku semakin bingung.."


"Kakak yakin? lalu apa yang akan kakak lakukan, kakak setuju dengan Uncle,..?"


Isa mengeryit "Kau kenapa sih?"


"Ti.. tidak, aku hanya penasaran."


"Bagaimana menurutmu jika aku tidak menyerah, bagaimanapun aku yang di rugikan, jika Alan membatalkan pernikahan, biarkan saja Alan dan gadis itu yang patah hati.."


"Tapi kak?" bagaimana ini jika Isa tidak menyerah, maka mimpinya untuk menjadi kekasih Alan hanya akan menjadi mimpi, dan bukan sesuatu yang bagus saat semua terpaksa berjalan, bukan hanya hatinya yang tersakiti, tapi Alan dan Isa juga akan merasakan sakitnya.


Isa tak bergeming saat Amanda memanggilnya hingga tiba di depan rumah Amanda Isa membalik tubuhnya matanya menyipit tajam menatap ke arah pintu "Apa- apaan itu, temannya menyukai temannya..? cih.." Isa berjalan ke arah mobilnya.


Tangan Isa yang akan membuka pintu terhenti saat mendengar ponselnya berdering, dengan bibir tersenyum Isa menggulir tombol hijau "Ya.."


"Tentu saja, umpan sudah termakan.." sekali lagi Isa melihat ke arah rumah Amanda dan mencebikkan bibir nya lalu masuk ke dalam mobil.