
"Amy, kami pergi dulu ya.." Isa melambaikan tangan pada Amanda setelah masuk ke mobil Alan, tentu saja setelah pria itu membukakan pintu dan memastikan Isa masuk dengan aman.
"Ya, hati- hati kak.." balas Amanda, Alan menatap dari kaca spion saat mereka meninggalkan Amanda, dan mengeryit saat senyum Amanda berubah menjadi tatapan sedih.
"Ada apa dengan anak itu?." Gumamnya.
Isa yang merasa mendengar suara pun menoleh "Kau bicara sesuatu?"
Alan tersenyum "Ah, tidak.." Isa mengangguk menghela nafasnya lelah, sejak kesepakatan mereka untuk saling mencoba hubungan. mereka selalu berusaha menghabiskan waktu bersama di sela kesibukan mereka.
Dan yang membuat Isa kelelahan adalah seperti apapun mereka, hubungan mereka tidak seperti hubungan sepasang kekasih, apalagi sikap Alan yang terkadang acuh saja padanya.
"Mommy bilang Bibi Sofia akan mengadakan pertemuan saat Bibi Airin pulang..?"
"Ya.."
"Alan apa kau tidak merasa ini aneh.. kita tidak seperti pasangan kekasih apakah kita bisa berhenti saja.. aku belum tahu tentang perasaanmu, tapi aku rasa kita ini jauh dari kata sepasang kekasih, aku rasa hubungan ini seperti monoton, dan aku juga jadi canggung karena biasanya kita.." Alan menghentikan mobilnya lalu melepas sabuk pengamannya dan menghadap Isa.
Isa membelalakan matanya saat Alan menundukkan wajah dan menciumnya. "Apa harus seperti itu.." Isa mengerjapkan matanya.
"Apa kita sudah bisa di sebut pasangan?" Isa masih mematung diam di tempatnya, tiba- tiba jantungnya berdebar kencang.
"Alan.. kau?" Alan mendatarkan wajahnya lalu kembali melajukan mobilnya mengantar Isa setelahnya dia akan pergi ke kantornya.
"Mulai besok tak perlu datang ke rumah, aku yang akan menjemputmu." tegas Alan.
"Aku tidak bermaksud untuk datang.. aku hanya menjenguk Amy.." Setelah berhasil menguasai dirinya Isa mencebik, kenapa mendadak dia jadi gugup begini, ayolah barusan terjadi begitu cepat, dan tak terduga, Isa tak menyangka jika Alan akan menciumnya.
"Kita akan makan malam, aku akan menjemputmu.."
Isa menoleh dan melihat wajah Alan yang masih sama, apa Alan sama sekali tak merasa gugup sepertinya yang baru mendapat ciuman.
"Aku sudah berjanji akan berusaha bukan?" Alan menatap Isa lalu tersenyum.
Senyum Alan nampak biasa karena pria itu juga sering tersenyum kepadanya, namun kenapa Isa merasa senyum Alan tidak tulus kali ini.
Isa menghela nafasnya lalu mengangguk "Ya.." Alan mengusap kepala Isa, lalu kembali fokus menyetir.
Setelah menurunkan Isa di depan kantornya Alan melanjutkan perjalanannya ke arah kantornya, selama perjalanan Alan tak henti menghela nafasnya, dia tahu kini dia sedang membohongi diri sendiri lalu Isa, dia sedang berperan agar terbiasa dan bisa menerima perjodohan mereka.
Dan satu lagi yang membuatnya gundah, dia baru saja mencium gadis lain setelah beberapa hari lalu dia mencium Amanda bahkan dengan menggebu dan hampir tak bisa mengendalikan diri. meski hanya di sudut bibir Alan bisa merasakan Isa menegang karena ulahnya.
Alan mengusap wajahnya kasar, hatinya gelisah seperti pria yang baru saja selingkuh dari kekasihnya, apa yang kau lakukan pada dua gadis itu Alan?.
...
Alan memasuki rumah dan mengeryit saat melihat Amanda turun dengan pelayan yang membawa kopernya "Amy, mau kemana kau?" rasa takut tiba- tiba terlintas apa Amanda memutuskan untuk pergi, kemana gadis itu akan pergi?.
"Oh, Uncle.. kau sudah pulang?" Amanda berhenti di undakan tangga terakhir, sedangkan pelayan membawa koper Amanda pergi "Mommy sudah ada di bandara, dan akan menjemputku.." Amanda tersenyum ceria, dia juga sudah sangat merindukan orang tuannya.
"Alden tidak memberitahuku." Alan memeriksa ponselnya dan tak mendapat notifikasi pesan dari Alden, biasanya pria itu akan menghubunginya jika akan pulang.
"Uncle tidak percaya?, terserah lagipula Mom yang akan menjemput.. Uncle sudah makan malam?"
"Oh, baguslah.. kalau begitu aku akan makan malam dulu.." Alan mengeryit dan mengikuti Amanda berjalan ke arah ruang makan.
"Kau belum makan malam?"
Amanda mengangguk "Tadinya aku menunggu Uncle, karena aku akan pulang, ini akan menjadi makan malam terakhir kita.." Amanda duduk di kursi makan "Tapi karena Uncle sudah makan dengan kak Isa, tidak apa- apa.." Amanda tersenyum.
"Kenapa menunda makanmu Amy?, bagaimana jika asam lambungmu naik?." Alan merasa bersalah dia tak memberitahu Amanda untuk makan lebih dulu tadi, tapi biasanya Amanda juga tidak pernah menunggunya bukan.
"Tidak apa Uncle, lagipula aku juga belum terlalu lapar.. oh iya Mom bilang kita akan segera meresmikan hubunganmu dengan kak Isa.." Alan diam.
"Selamat, Uncle. kau beruntung mendapatkan kak Isa.." dan Kak Isa beruntung mendapatkanmu, lanjutnya dalam hati. Amy berkata dengan tulus, meski hatinya merasakan sakit, dia harus bisa melupakan perasaannya, dan baguslah orang tuanya sudah pulang, jadi dia bisa mengurangi interaksi dengan Alan, bahkan Amanda tidak akan bertemu dengan Alan setidaknya dalam beberapa minggu ini.
"Ini belum pasti Amy, jangan berlebihan" Alan mengepalkan tangannya, dia tak suka melihat raut wajah Amy, apa begitu cara memberikan selamat, dia bahkan tak bisa menyembunyikan senyum getirnya.
Benar yang di katakan Amanda, Airin dan Alden menjemputnya tak lama setelah Amanda menyelesaikan makan malamnya "Terimakasih Alan kau selalu bisa aku andalkan" Airin memeluk Alan.
"Sama- sama Kak.."
"Jangan terlalu lama memeluknya!" Alden melipat tangannya di dada, menunggu sang istri berpamitan dengan Alan.
"Amy, ayo naiklah!" Alden mendengus lalu menaiki mobil.
"Lihat kakakmu selalu begitu.." Airin mencebik.
"Dia cemburu padaku kak." Alan terkekeh.
"Ya, cemburu tidak pada tempatnya."
"Jika itu aku, aku juga akan melakukan hal yang sama, tidak akan membiarkan wanitaku, memeluk pria lain apa lagi menempatkannya dalam bahaya.." Airin tertawa kecil.
"Baiklah, kalian para Barnes memang sama.. selamat malam Alan." Airin memasuki mobil duduk di sebelah Alden.
Amanda mengerjapkan matanya lalu mendongak menatap Alan "Te.. terimakasih untuk semuanya Uncle.." Amanda memeluk Alan dengan jantung yang berdebar kencang "Selamat tinggal Uncle.." Selamat tinggal juga untuk perasaanku, batinnya.
Semoga perasaannya akan tertinggal disini dan dia bisa melupakan semuanya..
["Jika itu aku, aku juga akan melakukan hal yang sama, tidak akan membiarkan wanitaku, memeluk pria lain apa lagi menempatkannya dalam bahaya.."]
Terlintas ucapan Alan yang baru saja dia dengar, betapa beruntungnya Isa dapat dilindungi oleh Alan.
Amanda memejamkan mata, mengeratkan pelukannya, dan menghirup nafas dalam, mencoba mengenang aroma pria itu, pria yang akan dia lupakan secepatnya.
Alan sempat tercenung dengan ucapan Amanda, kenapa perasaannya seperti dia akan kehilangan gadis itu.
Alan membalas pelukan Amanda tak kalah erat, dengan wajah yang dia benamkan di ceruk gadis itu.
Keduanya berdiam di posisi yang sama hingga beberapa saat, seolah melupakan semua yang ada di sekitar mereka, mencoba melepaskan hati masing- masing berharap kelak jika bertemu mereka akan kembali seperti semula, melupakan perasaan.
Airin mengerutkan keningnya lalu menatap Alden, "Ada apa dengan mereka, apa mereka sudah gencatan senjata." Alden mengangkat alisnya dengan tatapan yang datar, lalu menghela nafasnya.