
Alan bangun dengan segera saat tak mendapati Amanda di ranjangnya, selang infus sudah di lepas dan gadis itu entah kemana.
"Amy..?" Alan berjalan cepat ke arah kamar mandi tapi tak ada suara sama sekali, itu berarti gadis itu tak ada disana.
Alan berlari keluar dari kamar untuk mencari Amy, dia baru tertidur sebentar dan dalam sekejap anak nakal itu sudah tidak ada di tempat tidurnya, padahal kondisinya sedang tidak baik- baik saja.
Saat baru mencapai pintu Alan tertegun saat mendengar benda terjatuh..
Prang..
Jantung Alan berdebar kencang lalu mempercepat langkahnya hingga tiba di pantry kecil tepat di depan kamarnya.
"Amy..?"
Amanda mendongak dan tersenyum "Aku membangunkan Uncle ya?" Amanda sedang berjongkok merapikan sebuah panci yang dia pakai untuk merebus mie instan yang ternyata jatuh berserakan dengan air yang masih panas membasahi lantai.
"Apa yang kau lakukan!" Alan membangunkan Amanda dan mendorongnya ke tempat yang bersih.
"Aku lapar, Uncle. Karena tidak bisa tidur jadi aku mencari makanan, tapi aku tak sengaja memegang wajan.. jadi pancinya terjatuh.."
"Apa?" Amanda tertegun saat Alan meraih tangannya dan meneliti lukanya "Kau terluka." Alan mengerang marah "Dengar Amy, kau bisa memanggil pelayan, aku membayar mereka mahal untuk melayani kita, dan apa yang kau lakukan.. tidak masalah jika kau bisa melakukannya.." tapi masalahnya Amanda tidak pernah melakukan itu.
Alan melihat tangan Amanda yang terdapat goresan merah disana lalu meniupnya.
Amanda tersenyum memerah dia tak lagi marah saat Alan membentaknya, karena sekarang dia tahu Alan hanya mengkhawatirkannya "Aku tidak apa- apa Uncle.." Alan mengerutkan keningnya.
"Kau yakin?" tanya Alan, dan Amanda hanya tersenyum lalu mengangguk, ada apa dengan Amanda biasanya saat di bentak gadis itu akan balik marah dan mendengus padanya, tapi kenapa sikap Amy lebih manis sekarang.
"Duduklah, kau lapar bukan?" Amanda mengangguk lalu duduk di kursi bar.
Alan bergerak merapikan panci kecil dan membersihkan tumpahan mie di lantai.
Selesai dengan rapi kini Alan membuka lemari es dan mengambil telur "Tidak baik makan mie instan.." Amanda diam "Aku akan membuatkanmu omelette"
Dengan cekatan Alan mengocok telur lalu memasukan sayuran dan daging cincang kedalamnya untuk membuat omelette, sepanjang pekerjaannya Alan tak menyadari jika Amanda tak berhenti menatap pria tampan di depannya.
Ya, Amanda sudah tahu pamannya itu tampan. Tapi baru kali ini dia menyadari dari hatinya, pamannya benar- benar tampan.
Amanda tersenyum mengingat ciuman mereka tadi, meski Alan mengatakan dia terbawa suasana, tapi tidak apa- apa Amanda menerimanya, dan akan Amanda ingat jika ciuman pertamanya sudah di renggut Alan, dan Amanda tidak menyesal setidaknya saat melakukannya Amanda merasa dia dalam kesadaran penuh dan dia menginginkannya.
Dan tak dapat di pungkiri jika ada sesuatu yang bernama cinta yang mendasarinya menerima ciuman Alan.
Amanda menunduk saat Alan menyajikan sepiring omelette di depannya, lalu tersenyum "Terimakasih Uncle.."
"Hmm... makanlah!" Amanda mengambil garpu dan pisau lalu mulai memakannya dengan tangan gemetar.
"Lihat, keadaanmu belum benar, tapi mau memasak sendiri.." Alan mengambil pisau dan garpu di tangan Amanda "Saat sehat saja belum tentu kau bisa memasak, apalagi di saat sedang sakit.."
Amanda tersenyum dan menerima suapan dari Alan, kondisinya memang masih sakit di sekujur tubuhnya, bayangkan saja dia dilempar dengan keras oleh pria gila itu, namun Amanda terlalu malu untuk meminta bantuan pelayan atau Alan, dia sudah banyak menyusahkan orang- orang hari ini.
"Mmhh ini enak Uncle, kau luar biasa.." Alan mengeryit lalu memegang dahi Amanda.
"Aku memang sakit Uncle, tapi aku masih waras.." Amanda mencebik. "Aku hanya menyadari jika seharusnya aku tidak merepotkanmu.." Alan tertegun.
"Tapi mau bagaimana lagi, untuk makan saja aku juga tetap merepotkan.."
"Cepat, Uncle. Aku sudah lapar dan kita harus segera tidur." Amanda membuka mulutnya dan menunggu Alan menyuapinya kembali.
Alan tak berhenti merasa bingung dengan sikap Amanda, yang banyak menurut, Alan bahkan melihat Amanda mengunyah dengan tersenyum ceria, persis seperti anak manis yang sedang bahagia.
.
.
Amanda tidur di kamarnya sendirian setelah Alan mengantarnya dan membuatnya berbaring untuk tidur, Amanda mengatakan dia sudah baik- baik saja, meski nyatanya dia masih ketakutan.
Tapi dia juga tak ingin terlalu banyak merepotkan sang paman, karena itu Amanda meminta Alan untuk pergi ke kamarnya.
Belum lagi, perasaan canggung saat mereka berciuman Amanda mengerti itu pasti membuat Alan tidak nyaman, Amanda mendesah pelan"Padahal siapa yang memulai..?"
Amanda memukul kepalanya sedikit keras "Auhh.." katanya meringis "Lupakan Amy, anggap saja semuanya tak pernah terjadi!, rupanya cinta pertamaku tidak akan pernah terwujud.." Amanda menghela nafasnya "Semangat Amy, kau pasti bisa melupakan paman sialanmu itu." katanya mensugesti diri sendiri.
Amanda pikir itu akan mudah, namun ternyata itu sama sekali tidaklah mudah, tidak mudah mengubur cintanya saat setiap hari dia bertemu dan menghabiskan waktu dengan Alan.
Pria itu mengurusnya sejak penculikkan tempo hari dan mulai dari menyiapkan makanan, dan menyuapi Amanda, Alan melakukannya sendiri.
Bagaimana Amanda dapat melupakan perasaannya secepat perasaan itu tumbuh, apa yang harus dia lakukan, terlebih karena kondisinya yang membuat Alan kasihan, pria itu tak pernah marah lagi padanya, jadi bagaimana bisa Amanda melupakan segalanya.
Hari ini kondisi Amanda sudah membaik, tubuhnya yang sakit dan pegal sudah mulai ringan, dengan semangat Amanda akan melakukan semuanya seorang diri mulai hari ini, dan yang pasti dia tak akan terlalu banyak berinteraksi dengan Alan, dan semoga itu bisa membuatnya sedikit demi sedikit melupakan Alan.
"Kau sudah sehat?" Alan menuruni tangga dan melihat Amanda berdiri di depan meja makan.
"Aku sudah tidak apa- apa, tapi Uncle bolehkah aku tidak kuliah dulu.." Amanda masih ketakutan untuk keluar rumah, meski para bodyguard juga akan bersamanya. "Aku akan meminta tugasku di kirim lewat email.."
"Hmm lakukan apapun yang membuatmu nyaman.." Alan tahu Amanda pasti merasakan trauma akan kejadian beberapa hari lalu, maka itu lebih bagus jika Amanda di rumah dulu, dan Alan juga akan tenang. Alan mengusak rambut Amanda, dan membuat gadis itu mendongak.
Pandangan keduanya beradu, lalu lintasan ciuman mereka terbayang kembali..
Alan menelan ludahnya lalu memalingkan wajahnya sedangkan Amanda berdiri salah tingkah.
"Amy.. bagaimana kabarmu?" Isa memeluk Amanda "Aku ingin mengunjungimu, tapi aku sangat sibuk akhir- akhir ini.
Amanda semakin salah tingkah sejak kapan Isa ada di sana, apa dia melihat interaksinya dan Alan barusan, bagaimana ini? bagaimana jika Isa salah paham.
"Eh, kak isa.. aku baik- baik saja.."
"Baguslah.. lain kali berhati- hatilah ya!" Amanda mengangguk.
"Ya.."
"Kalian belum sarapan?" melihat Alan dan Amanda yang masih berdiri dengan makanan di depan mereka yang belum tersentuh sama sekali.
Alan berdehem "Ayo makan bersama." Alan menarik kursi untuk Isa.
Isa tersenyum lalu duduk. "Ayo Amy, duduklah.." Isa menepuk kursi di sebelahnya.
Amanda tertawa canggung menutupi hatinya, lalu menatap Alan dan Isa yang sudah duduk di kursi mereka, tanpa menunggu lama obrolan sudah mengalir begitu saja. Lihatlah setelah ada Isa, Alan segera melupakannya, Alan bahkan menarik kursi untuk Isa dan memperhatikannya.
....