
Alan terkekeh lucu saat melihat Amanda tersenyum dalam tidurnya, lalu dia kembali mengecup telapak tangan Amanda yang lecet, entah apa yang gadis itu lakukan sebenarnya hingga tangannya terluka.
Alan terkejut saat Isa bertanya apa Amanda terjatuh saat hilang karena ada luka lecet di tangannya.
Alan yang merasa khawatir pun segera mendatangi kamar Amanda untuk memeriksa keadaan gadis itu, saat Alan mengetuk beberapa kali tak ada jawaban semakin khawatir terjadi sesuatu pada Amanda, Alan membuka handle pintu tapi ternyata terkunci, beruntung dia bisa meminta kunci cadangan pada pelayan hingga dia bisa masuk.
Saat masuk Alan menghela nafas lega saat melihat Amanda tertidur, berjalan pelan ke arah Amanda, Alan segera memeriksa tangan Amanda, dan benar saja ada luka lecet disana.
...
"Kau terjatuh gadis bodoh.." Alan mengelus pipi Amanda tatapannya begitu lembut penuh kasih sayang.
Alan tertegun saat melihat mata Amanda terbuka sesaat lalu kembali tertutup, hampir saja ketahuan "Kau pasti ketakutan tadi.." Alan mengecup luka Amanda persis seperti seorang ibu yang membujuk anaknya agar tidak menangis karena terjatuh.
Alan kembali melihat Amanda tersenyum namun gadis itu seperti nya tetap tertidur nyenyak.
"Anak nakal dan ceroboh" Alan merasa bersalah karena membentak Amanda tadi tapi rupanya dia tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya, rasa takut terjadi sesuatu pada Amanda merasukinya, hingga tanpa sadar di memaki Amanda.
...
"Kau berjanji?"
"Ya, kakek berjanji.." Amanda tersenyum dan memeluk kakeknya.
"Terimakasih.. aku mencintaimu.. dan nenek Doris pasti sangat senang.."
"Hey.. pagi- pagi kau sudah merepotkan apa?" Alan memasuki kamar Barnes untuk berpamitan.
"Aku hanya berpamitan pada kakek, benar kan kakek?" Barnes mengangguk seraya mengusak rambut Amanda.
"Baiklah kakek, aku menunggu kabar darimu.." Amanda mengecup pipi Barnes lalu melesat pergi.
"Apa yang dia katakan?"
"Kau penasaran?" Barnes tersenyum menggoda.
Alan mendengus "Tidak.."
"Amy, memintaku untuk menemui seorang nenek tua bernama Doris, dan memberikan dia kayu bakar setiap hari.." Alan mengeryit.
"Doris, aku tak pernah mendengar nama itu? lalu untuk apa kayu bakar? "Alan mengerjapkan matanya penasaran.
"Ya, karena baru semalam Amy bertemu dengannya, dan membantunya membawa kayu bakar.." jadi itu kenapa tangan Amanda di penuhi lecet, gadis itu membawa kayu bakar? "Dia juga sangat prihatin dengan keadaan nenek Doris yang hidup sendiri di gubuk kecil.."
"Dia selalu seperti itu, terlalu percaya pada orang lain, bagaimana jika orang itu bukan orang baik.."
Barnes terkekeh, tak menghiraukan Alan "Bagian yang paling menggemaskan adalah, Amy mengatakan jika dia menikah dia akan membuat anak yang banyak agar saat tua nanti dia tidak kesepian seperti nenek Doris.." Alan memalingkan wajahnya, kenapa tiba- tiba pipinya terasa panas, Astaga.. anak kecil itu, masih kecil sudah memikirkan tentang anak, apa katanya anak yang banyak..? Alan semakin merasakan dadanya bergemuruh hebat, dan panas!.
"Jangan terlalu keras padanya.."
Alan bangun dari lamunannya "Aku hanya menjaganya.."
"Aku tahu, tapi setidaknya jangan bicara kasar!"
Barnes terkekeh, "Kau sudah memikirkannya?" merubah topik pembicaraan.
Alan mengeryit "Apa?"
"Apa lagi, pernikahan.. kau memiliki seseorang?" Alan menghela nafasnya.
"Jika tidak, Mommymu memiliki kandidat untukmu."
"Itu jika kau tidak memiliki siapapun, Mommymu jelas tidak memaksa.."
"Ya, tapi jika aku menolak Mom jelas akan kecewa.." Barnes menghela nafasnya.
"Lalu kau setuju?" Alan tak mengatakan apapun dia memeluk Barnes.
"Aku pamit dahulu.." mereka harus segera pulang, dia dan Isa punya pekerjaan, dan Amanda juga harus kembali kuliah.
"Alan?" Sofia muncul dari arah toilet, saat Alan tak memberi kepastian.
"Lakukan apa yang Mom, suka.." Alan memeluk sang Mommy lalu pergi dari sana.
"Aku akan mengantar mereka.." Barnes mengangguk, dia sendiri memilih merebahkan dirinya di atas ranjang.
Barnes menggeleng lalu tersenyum saat mengingat wajah Alan bersemu merah "Dasar anak muda."
Sofia melambaikan tangannya pada mobil Alan hingga keluar dari gerbang vila dan dia sendiri kembali masuk.
Tiba di dalam kamar Sofia menaikan selimut Barnes dan merapikannya.
"Kau tidak lelah berbaring terus.."
"Justru aku banyak lelah jika terlalu banyak bergerak.." Barnes menggenggam tangan istrinya "Maafkan aku semakin tua.."
"Apa yang kau katakan?"
"Aku tidak bisa menemani mu hingga kau tua.."
"Hary.." Sofia berkaca- kaca hatinya sedih, tak dapat di pungkiri dia takut kehilangan sang suami.
"Kau tidak pernah tahu umur seseorang, bagaimana jika aku yang mati lebih dulu.." Barnes mengusap pipi basah Sofia.
"Tuhan sudah memberikan kesempatan hidup yang sangat banyak untukku, keberuntunganku tak pernah habis saat bersamamu.."
"Hary.. berhenti bicara!" Sofia merebahkan kepalanya di dada Barnes. "Aku selalu mencintaimu.."
"Aku tahu.." Barnes mengusap rambut Sofia penuh kasih sayang "Maka itu hiduplah dengan sehat dan tetap cantik, lanjutkan hidupmu, tetaplah bahagia."
"Kau seperti memintaku menikah lagi.." Sofia memukul dada Barnes pelan.
Barnes terkekeh, "Tentu saja, dan itupun jika aku sudah mati.."
"Hary.. berhenti bicara omong kosong, aku juga sudah tua!"
"Kau masih segar, dan sangat cantik baby.."Sofia mencebik.
"Baiklah aku akan berhenti, tapi ada tugas yang harus kamu lakukan sekarang.."
Sofia mengeryit "Sebelum tiada aku ingin melihat Alan menikah.." Sofia tersenyum.
"Baiklah aku akan menemui Monica.."
"Tanyakan dari hati ke hati apa dia menyukai seseorang..!"
"Dia selalu menolak bicara tentang wanita, lagipula aku takut wanita yang dia pilih tidak sebaik Isa.." Barnes menghela nafasnya, lalu kembali mengusap rambut Sofia yang masih betah memeluknya.
...