
Amanda menggenggam tangan Alan, saat prosesi pemakaman Barnes berlangsung, kaca mata hitam bertengger di mata keduanya.
Amanda tahu Alan sangat sedih begitupun dirinya, selama hidupnya Barnes juga selalu memanjakannya, dan tentu saja jika mengingat Amanda yang bukan keluarga kandung Barnes dia sangat- sangat beruntung di perlakukan bak putri raja di keluarga Barnes. Amanda sangat sedih, tapi Amanda harus kuat agar bisa membuat Alan kuat, jadi setelah puas menangis sejak tadi, Amanda pun menghentikan tangisnya dan berdiri di dekat Alan.
Alan menghela nafasnya "Kamu ingin menangis, menangis saja." Amanda mendongak melihat Alan yang menatap Sofia, wanita itu terus terisak saat sedikit demi sedikit peti mati Barnes tenggelam ke dalam tanah.
"Harusnya aku yang bicara begitu." Genggaman tangan Amanda mengencang, namun tangan mungil itu tetap tak bisa membuat Alan bergeming.
Amanda menarik tangan Alan menjauh dan membawanya memasuki mobil.
Amanda melepas kaca mata Alan lalu menangkup pipi pria tampan yang kini telah menjadi suaminya "Menangislah.. Tidak apa, pria juga tidak akan di bilang lemah saat menangis."
Alan menyerukan wajahnya di dada Amanda bersandar di sana lalu menangis.
Tidak bersuara, namun Amanda tahu Alan sedang menangis, karena pakaiannya mulai terasa basah sekarang.
Amanda mengusap rambut Alan dan mengeratkan pelukannya.
...
Sofia menatap Amanda dan Alan di depannya, sudah tiga hari sejak kepergian Barnes, dan Sofia berusaha untuk bangkit apalagi di depan Alan, yang pasti juga sangat terpukul atas kepergian ayahnya, hanya di kamarnya dia berani menangisi kepergian sang suami, terlebih janjinya pada Barnes dia harus hidup bahagia, tapi untuk sekarang Sofia masih ingin bergelung dalam kenangan Barnes.
"Kalian sudah memutuskan akan kemana?" Amanda mengerutkan keningnya menatap Sofia, sedangkan Alan masih memotong daging steak untuk di berikan pada Amanda, mereka sedang makan malam bersama di vila, sejak kematian Barnes Alan dan Amanda masih di sana menemani Sofia.
"Bulan madu kalian?." Alan menghentikan gerakannya lalu menatap Amanda yang menunduk dengan wajah bersemu.
Alan menelan ludahnya kasar, sejak pernikahan mereka Alan belum terpikir untuk menyentuh Amanda, meski keinginan itu ada, namun Alan takut Amanda belum siap, dan juga tiga
hari terakhir mereka di sibukkan dengan para kerabat yang masih berdatangan memberi bela sungkawa atas kepergian Barnes.
Jadi saat malam tiba Alan dan Amanda kelelahan dan hanya tidur saling berpelukan.
Sedangkan Amanda, teringat saat dia di tolak oleh Alan, dan rasanya sangat memalukan, jadi dia hanya diam meski Amanda berpikir apa Alan sungguh tidak menginginkannya, hingga Alan tak pernah memintanya, bukankah mereka sudah sah menjadi suami istri sekarang..
Alan menghela nafasnya "Kami akan disini beberapa waktu.." belum ada pembicaraan dengan Amanda , jadi Alan akan menanyakannya lebih dulu, apakah Amanda sudah siap atau belum.
Mendengar Alan bicara begitu, membuat Amanda kehilangan semangatnya, benar juga mereka masih dalam masa berkabung dan tidak mungkin Alan memikirkan tentang hal itu sekarang.
"Kamu ini bicara apa.. Mom tidak mau tahu, rencanakan dari sekarang dan ingat ini berikan mom cucu yang banyak." Sofia mengelus rambut Amanda. "Pergi kemana pun, Venice, Paris, atau kalian ini ke Bali.." Amanda mendongak "Kamu tahu, Indonesia..?" Amanda mengangguk, dia belum pernah ke sana, dan bukankah dia juga mengatakan dia ingin pergi ke Indonesia, dia penasaran dengan negara tersebut, dia juga sering mendengar dari Anna ibu Calvin tentang keindahan negaranya.
"Raja ampat, Mom dengar pantai disana sangat indah.." Alan melihat Amanda begitu berbinar saat mendengar kata Indonesia, benar dia ingat Amanda ingin kesana.
"Baiklah Indonesia.."
"Sungguh, baiklah mom akan mempersiapkannya.." Alan ingin mencegah dan mengatakan dia bisa mengurusnya sendiri, tapi melihat Mommynya begitu semangat membuat Alan membiarkannya, biarlah Sofia menyibukkan diri agar sedikit mengobati kesedihannya.
"Makanlah.." Amanda melihat potongan daging yang di tusuk menggunakan garpu itu mengarah padanya, lalu mengerutkan keningnya.
"Aku bisa sendiri, kenapa kamu selalu menyuapiku.." Amanda mengambil garpu di tangan Alan.
Alan terkekeh "Karena sejak tadi kamu hanya diam, lihat piringmu masih penuh." Amanda mencebik, lalu mulai makan.
"Maaf.." perkataan itu terdengar lirih, tapi Amanda masih bisa mendengarnya.
Amanda tertegun "Kenapa?"
"Aku belum merencanakan kehidupan kita.. Aku hanya berkubang di kesedihan. jika di pikir lagi, aku juga seperti tidak bersyukur mendapatkanmu, meski tak melakukan usaha yang berat, tiba- tiba kamu menjadi milikku."
"Kenapa harus di rencanakan?." Amanda menggenggam tangan Alan. "Kita bisa menjalaninya dengan perlahan, lagipula aku juga masih merasa sedih, dan itu adalah hal wajar, namun setelah ini aku berharap kita akan melupakan kesedihan ini, kau tahu.. Kakek juga pasti akan bersedih jika melihat kita semua terus bersedih, dan bukankah kita juga harus mengawasinya agar hidup bahagia.." Amanda menunjuk Sofia yang masih sibuk dengan ponselnya, terdengar dari percakapannya wanita berusia 40 han itu sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan pesawat, dan tentu saja mereka memiliki pesawat pribadi jadi sebenarnya tak perlu terburu- buru seolah takut kehabisan tiket pesawat.
Alan mengangguk, lalu mengecup pipi Amanda, dan membuat Amanda memerah seketika "Kamu jadi lebih dewasa sekarang."
Amanda mengigit bibirnya lalu dengan cepat menghabiskan makanannya "Pelan- pelan, sayang kau bisa tersedak." Alan menyodorkan air di dalam gelas, namun Amanda hanya tersenyum dengan mulut penuhnya, hingga suapan terakhir Amanda mengunyahnya dengan cepat dan meminum airnya.
"Cepat habiskan makanmu, aku menunggumu.." Amanda mencium pipi Alan lalu pergi secepat yang dia bisa menuju kamar Alan, yang kini mereka tempati bersama.
Alan membeku di tempatnya, Amanda membisikkan kata- kata yang ambigu, dan yang membuat Alan semakin berdebar adalah bisikan itu sangat lirih dengan sedikit ******* dari bibir Amanda, Alan bahkan masih bisa merasakan nafas hangat Amanda di telinganya. Ya, Amanda sengaja meniup telinganya.
Alan menelan ludahnya lalu menatap makanan di piringnya, Alan kembali membuka mulut untuk makan, namun saat tangannya terangkat rasa laparnya sudah hilang..
Shiit..
Alan meletakkan pisau dan garpu di tangannya dan berlari mengejar Amanda.
"Hey, ada apa dengan kalian.." tadi Sofia melihat Amanda berlari lalu kini Alan pun ikut berlari, ada apa dengan mereka.
"Tidak apa Mom, aku akan membuatkan cucu untukmu!!." Alan berteriak.
"Dasar anak muda, tidak tahu malu.." Sofia menggeleng dengan senyuman, dia tahu semangat Alan dan Amanda masih sangat menggebu, tentu saja karena dia juga pernah mengalaminya.
Mengingat masa mudanya membuat Sofia tersenyum, pertemuannya dengan Barnes juga saat Sofia tengah menggebu, jika di pikir lagi bukankah menggelikan jatuh cinta pada pria tua berusia 58 tahun.
"Hey, pria tua sialan, beraninya kamu meninggalkan aku lebih dulu.." Sofia menunduk lalu menghela nafasnya.
"Ya, aku ingin paket bulan madu, pastikan yang terbaik dan buat dengan sangat romantis.." Sofia kembali berbicara diponselnya
....
Yang belum mampir, silahkan mampir di "My Sweet Baby" [Barnes dan Sofia] chat story.