
Alan menggeram marah saat mendengar dari pengawalnya jika Amanda melarikan diri, ada apa dengan gadis itu.. untuk apa dia lari, jika bisa keluar dengan bebas asal pergi dengan Bodyguard.
"Nona pergi dengan seorang pria tuan, dia bahkan menabrak pintu gerbang untuk keluar."
"Pria..?" Alan menegakkan punggungnya.
Pergi dengan siapa Amy, apa dengan pria culun tempo hari, siapa namanya?.
"Andy?" tebak Alan, dan pengawalnya diam beberapa saat.
"Bukan tuan.."
"Lalu siapa, apa kau sedang membuang waktuku!." Alan memijat pelipisnya terasa berdenyut, sejak pagi dia sudah di panggil ke vila untuk kepentingan pesta besok malam, entah mengapa dia harus repot memakai pakaian yang di pilih langsung oleh Sofia, dan yang membuatnya tak mengerti dia dilarang untuk pergi dan menunggu disana hingga pesta berlangsung besok.
Lalu sekarang dia harus bagaimana jika Amanda benar- benar hilang dia tidak bisa mencarinya sendiri "Cepat cari Amy, hingga di temukan, dan kirimkan aku rekaman cctv." Alan gusar dia tak mungkin meninggalkan villa saat Mommynya meminta untuk tetap tinggal, lalu bagaimana dengan Amanda.
Sejak tiga hari lalu Amanda tak mengangkat panggilannya bahkan sekedar membalas pesan, Alan mengira Amanda marah untuk penolakannya tempo hari, tapi hati Alan cukup tenang karena Amanda diam di rumah dan pengawalnya memastikan Amanda aman.
Lalu sekarang kemana gadis itu pergi?, kenapa harus membuat keributan jika ingin pergi.
Alan menerka- nerka siapa pria yang membawa Amanda pergi, batin Alan terus mengingat siapa saja pria yang Amanda kenal, tidak mungkin kan dia pergi dengan orang asing.
Alan mulai tak tenang, memikirkan kemungkinan terburuk dengan siapa gadis itu pergi.
Alan sangat mengenal Amanda dan siapa saja pria yang dekat dengan gadis itu yang bahkan bisa dia hitung dengan jari, bagaimana tidak Alan selalu memastikan Amanda tetap aman dari pria manapun sejak dulu.
Maka setiap Amanda mengenal seorang pria Alan pun tahu siapa orang itu.
Alan berusaha terus menghubungi Amanda ponselnya yang kemarin mati, kini sudah terhubung kembali, namun lagi- lagi Amanda tak mengindahkan panggilannya.
"Kamu kemana sayang.."
...
Amanda menatap layar ponselnya saat benda itu terus berdering, dan kembali memasukan ponselnya setelah mematikan kembali.
"Kamu tidak mengangkatnya, itu berisik sekali."
"Tidak akan berbunyi lagi sudah ku matikan."
"Mencoba mengalihkan perhatian..?" matanya menyipit menatap Amanda dengan curiga.
"Aku bahkan belum bicara apapun.." Amanda mengeluh.
"Lalu ada apa denganmu?."
"Aku hanya bosan dan ingin lari.."
Calvin terkekeh "Beruntungnya ada aku, hingga kamu bisa lari tanpa takut."
"Ya, tapi lari dengan pria playboy juga menambah masalahku.."
"Oh, siapa tadi yang meminta untuk aku bawa pergi." tak terima di katai playboy, Calvin mendengus.
Amanda menyeringai "Jangan ikuti jejak daddymu, segeralah mencari kekasih yang baik lalu menikah.. kau akan tau rasa jika terkena karma."
Amanda tertawa setelah berhasil meniru ucapan Alden yang selalu di ucapkan pada Calvin.
Menyadari sesuatu tiba- tiba Amanda berhenti tertawa "Kau tahu aku selalu bingung, karma apa yang daddymu dapatkan karena menjadi seorang playboy?"
Calvin menyeringai "Kau yakin ingin tahu.." Amanda mengangguk. "Daddy kesulitan saat malam pertama pernikahan mereka, dan mereka menganggap itu adalah karma karena Daddy terlalu banyak mencelupkan terong ungunya, kesana kemari.." Amanda mengerjapkan matanya dengan pipi yang tiba- tiba jadi merah.
"Calvin, dasar otak mesumm!" Amanda melempar tasnya dan memukul wajah Calvin, tapi justru Calvin tertawa terbahak- bahak.
"Kau sendiri yang bilang ingin tahu."
"Aku tak tahu jika jawabanmu sangat sensitif.." Amanda awalnya tidak mengerti dengan istilah yang Calvin ucapkan namun mengingat gelar playboy yang juga di miliki Daddy Calvin barulah dia mengerti apa itu terong ungu .
Calvin masih tertawa lalu berkata "Daddy memintaku untuk menemui uncle Alden, yang katanya ingin menjodohkan kita."
"Apa!!"
...
Cung 👆yang tahu Calvin anak siapa?