Make You Mine!

Make You Mine!
Tertunda Dan Dipercepat



"Kau gila Alan, kau berkata begitu disaat aku sudah mulai belajar menyukaimu!"


"Lalu siapa wanita itu?."


"Wanita yang kau sukai?."


"Haruskah aku katakan padanya jika kau adalah calon suamiku..?"


Alan mengepalkan tangannya "Isa..!"


"Apa?" Isa menatap tajam Alan.


"Kau tahu kau egois Alan, kemarin kau yang memaksaku menerima perjodohan ini, dan mengatakan akan mencoba menjadi pasangan dengan benar, lalu sekarang di saat aku menerimanya dengan mudah kau memutuskannya!"


"Kau bertindak sesuka hatimu, kau pikir kau siapa melakukan itu padaku!." Isa berkata dengan berapi- api, Alan tahu Isa pasti sakit hati, tapi saat itu Alan tidak berpikir bahwa Amanda juga menyukainya, dan berusaha melupakan perasaannya, dan benar Alan egois, selama ini dia menahannya dan untuk kali ini saja Alan ingin egois untuk kebahagiaannya bersama Amanda.


"Aku tidak bermaksud mempermainkanmu Isa, kau adalah sahabatku.."


Isa menghela nafasnya "Aku tidak bisa Alan, ini sudah terlanjur, mommy dan Daddy sudah sangat menerima, kau tahu jika kita membatalkan ini, bukan hanya aku yang kamu kecewakan, tapi keluarga kita.."


"Maafkan aku Isa, aku akan terima semua konsekuensinya. Yang pasti aku akan menyelesaikan ini, dan aku juga akan bicara dengan orang tuamu!." Alan berbalik dan berjalan ke arah kamar Sofia dan Barnes.


"Alan kau gila,kau pikir ini semudah itu! daddymu sedang sakit, kau ingin membuatnya drop!."


Alan bergeming, dan melanjutkan langkahnya "Alan pikirkan lagi.."


Alan menghela nafasnya dan membuka pintu "Mom.. ada yang ingin aku katakan.."


Sofia mengeryit, lalu tatapannya jatuh pada Isa yang berjalan cepat mengejar Alan "Ada apa dengan kalian?"


"Tidak bibi.. Alan hanya ingin membicarakan pernikahan, benarkan Alan?" Isa berbalik menatap Alan.


"Kumohon Alan, jangan sekarang.. kau ingin mempermalukan aku.." Isa berbisik penuh permohonan.


Alan menatap Isa penuh rasa bersalah "Setidaknya biarkan aku menjelaskan dulu kepada orang tuaku.. kau tidak tau rasanya jadi aku.. aku malu sekali.." Isa menunduk, apa Alan tidak berpikir jika satu- satunya yang dirugikan disini adalah dirinya.


"Iya mom.." Isa mendongak menatap Alan, dan bernafas lega.


"Oh bagus, apa yang ingin kalian katakan?" Sofia tersenyum, sedangkan Barnes menghela nafasnya.


"Duduklah!" Alan melihat tatapan tegas dari Barnes.


"Aku tidak akan lama Mom, Dad." Alan memutuskan untuk menundanya hingga Isa memberitahu orang tuanya, benar setidaknya dia harus memberi waktu, meski Alan yakin Isa belum memiliki perasaan padanya, tapi Isa adalah sahabatnya sejak kecil, dia juga tak ingin Isa menanggung semuanya sendirian.


"Iya, Alan hanya memastikan Paman dan Bibi tidak kelelahan karena persiapan pernikahan."


Sofia tertawa "Oh, tidak nak. Semua untuk urusan pernikahan Mom serahkan pada Airin, jadi kau tenang saja semua akan selesai pada waktunya."


Alan hanya mengangguk.


"Baiklah aku akan pergi mom, jaga kesehatan kalian.." Alan memeluk Barnes dan Sofia.


Isa menghela nafasnya saat Alan keluar dari kamar Sofia dan Barnes.


"Ada apa dengan anak itu..?" Isa menoleh dan menatap Sofia.


"Hampir saja.."


"Apa yang hampir?"


Isa menggeleng, "Tidak, aku akan pulang dulu, dan memberitahu rencana selanjutnya, kejutan pernikahan ini harus terlaksana kan Bibi..?"


Sofia tersenyum senang dan memeluk Isa "Tentu.."


...


Amanda berjalan menapaki tangga dan mengeryitkan dahi saat melihat Mommynya Airin, di bawah sana terlihat kebingungan di temani dua orang yang Amanda tidak kenali.


"Oh, Mom sedang memilih ini, menurutmu mana yang bagus?" beberapa kartu undangan berserakan di atas meja.


"Mom akan mengadakan pesta?"


Airin menggeleng "Tidak, Mom memilihkan untuk pernikahan Alan.."


Degh..


Jantung Amanda berdetak sangat kencang, "Uncle..?"


"Ya.."


"Ke..kenapa harus Mom?"


Airin terkekeh "Mau bagaimana lagi, mereka sibuk bekerja, dan Mom suka melakukannya.."


"Mak..sudku, kenapa tidak minta pendapat Uncle dan kak Isa langsung.." Amanda merasakan hatinya teriris bagaimana bisa ini terjadi di depannya, sedangkan Alan berjanji akan menyelesaikannya untuk bersamanya.


Airin tertegun "Mom belum memberitahumu ya.." Amanda mengangkat alisnya hingga dahinya mengerut.


"Mom Sofia, ingin memberi kejutan, pernikahan akan di percepat tepat di hari ulang tahun Dad Barnes."


"A..pa?!" Amanda terkejut, ulang tahun kakek nya adalah satu minggu lagi..


"Ada apa denganmu Baby?"


"Ah.. ti..dak Mom aku hanya terkejut" Amanda diam.


"Jangan melamun, ayo bantu Mom, menurutmu bagaimana? yang ini? atau yang ini.." Amanda mendudukan dirinya di sebelah Airin dengan linglung, dan hampir tak mendengar apa yang Airin ucapkan.


Alan akan menikah satu minggu lagi, dan itu akan menjadi kejutan..


Apa ini?.


Bagaimana ini?.


Amanda menengadahkan matanya yang serasa berembun, dengan cepat tersenyum dan menatap beberapa lembar kartu undangan, terlihat sebuah kartu berwana soft pink dengan pita magenta di atasnya, tinta emas bergaris dengan indah dengan aksen bunga lily di ujung kartu.. Indah sekali.


Tangan Amanda terulur menyentuh permukaan halusnya dan merasakan hatinya berdesir "Oh, kamu memang pintar.." Amanda tertegun saat kartu itu di ambil alih Airin


"Pilihan yang bagus, menurutmu Alan akan suka..?"


Amanda tersenyum tipis, "Aku rasa, ya."


"Baiklah kita pilih ini saja.." Airin bicara dengan dua orang tadi yang Amanda kira pihak EO atau WO, entahlah.. yang pasti mereka akan mengurusi pernikahan Alan sekaligus ulang tahun Barnes, acara yang hanya memiliki waktu satu minggu saja membuat mereka harus bergerak cepat.


Amanda melamun dan meratapi dirinya, lihatlah.. bahkan dia sendiri yang memilih undangan untuk Alan dan Isa.


Amanda masih melamun bahkan Airin sudah kembali sibuk dengan ponselnya, Amanda bahkan tak menyadari jika dua orang tadi yang duduk di depannya sudah tidak ada.


Amanda baru tersadar saat ponsel di sakunya berdering, "Kak Isa..?"


Jantung Amanda lagi- lagi berdebar hebat, mengingat dia adalah orang yang akan merusak hubungan Isa dan Alan, tapi tunggu, bagaimana dengan pernikahan kejutan mereka? apakah Amanda masih bisa di sebut merusak hubungan jika pernikahan tetap berlanjut?.


Bukankah dia hanya akan merasakan sakit seorang diri.


"Ya, Kak?." Baru saja Amanda mengangkat panggilannya Isa sudah berbicara panjang lebar.


"Amy, apa yang harus aku lakukan.. Alan sudah gila, dan bilang akan membatalkan pernikahan.. dan kau tahu dia bilang dia juga menyukai wanita lain, menurutmu bagaimana perasaanku.?!" Isa berbicara dengan berapi- api dan membuat raut wajah Amanda pucat pasi.


"Kau dirumah? tunggu jangan kemana- mana, aku akan kesana!."


....