
"Kau..? siapa kau?"
"Kau tidak ingat aku sayang..?"
Amanda memutar ingatannya berharap dia mengingat siapa orang yang sedang mengemudi di depannya, namun nihil.
Amanda sama sekali tak mengenal siapa orang tersebut "Apa maumu? aku sama sekali tidak mengenalmu?"
Amanda terhenyak saat sang supir mengemudi dengan kecepatan penuh "Apa yang kau lakukan, kita bisa kecelakaan.." Amanda menatap ngeri pada jalanan dan supir taksi yang dia naiki terus menyalip semua pengendara.
Supir taksi tertawa gila, semakin menginjak pedal gak hingga membuat Amanda terlempar dan kepalanya terbentur kaca mobil.
Amanda meringis merasa pusing "Siapa kau sebenarnya dan apa maumu?!" kepala Amanda kembali terbentur dengan keras dengan tubuh yang terombang ambing.
Amanda memegang dahinya dan benar saja dia berdarah karena terbentur keras "To.. tolong!" Amanda menggedor pintu berharap siapapun di luar sana mendengar teriakannya "Tolong!"
Bukannya panik pria di depannya menjadi semakin terbahak, seolah menikmati apa yang di lihatnya dan semakin melajukan mobilnya dengan kencang, Amanda semakin merinding dan mengkerut takut, kini dia menyesal sudah melawan Unclenya dan terus membantah, jika saja dia menurut mungkin kini dia sudah tiba di rumah dengan selamat.
Air matanya menetes dalam ketakutan dan saat ini hanya satu nama yang di ingatnya "Uncle.." lirihnya sebelum kehilangan kesadarannya.
..
"Apa kerja kalian sebenarnya!" Teriakan Alan membahana di ruang kerjanya, para Bodyguard Amanda sudah mengelilingi kota dan hampir seharian tapi mereka tak menemukan Amanda, dan hanya tas Amanda yang tergeletak di tepi jalan begitu saja, rasa khawatir menjalar di hati Alan, tidak mungkin Amanda sengaja membuang sembarangan tas miliknya hanya demi kabur untuk bersenang- senang seharian. Dan sudah jelas ada yang tidak beres yang terjadi pada gadis itu.
"Aku tidak mau tahu, cepat cari Amy sampai ketemu!" Alan meremas kerah kemeja pria berbadan besar di depannya. "Cari dan periksa semua cctv!"
"Baik Tuan, kami akan melanjutkan pencarian.." Alan mengumpat saat para bodyguard itu pergi.
"Sial, kemana kau Amy.. " Alan menegakkan punggungnya saat dia mengingat sesuatu "Mina.." benar gadis itu pasti tahu apa yang Amanda rencanakan.
Alan meraih kontak lalu segera keluar untuk menemui Mina, teman satu- satunya keponakan nakalnya.
Alan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga tiba di sebuah gedung apartemen Alan memarkirkan mobilnya.
Alan berjalan cepat bahkan nyaris berlari dia seperti diburu waktu, perasaannya sungguh tidak tenang firasat buruk tentang Amanda terlintas di pikirannya, semoga saja tidak terjadi sesuatu dengan Amanda.
Mina yang baru saja akan makan malam mengerutkan keningnya saat mendengar pintu apartemennya digedor dengan keras, apa dia tidak lihat bel di sisi pintu, kenapa harus membuat keributan, bagaimana jika para tetangganya marah.
Mina ingin mengumpat saat membuka pintu, namun tubuhnya menegang saat melihat Alan berdiri dengan tatapan tajam dan rahang mengeras "Kau tahu kemana Amy pergi, bukan?"
...
Amanda mengerjapkan matanya yang terasa berat,kepalanya terasa berdenyut akibat benturan atau entah apa itu dia mencium sesuatu sebelum tak sadarkan diri, mungkin supir gila itu membiusnya.
Amanda bangun dengan perlahan sembari mengedarkan pandangannya, sebuah kamar sederhana terlihat oleh netranya yang berat, lalu tatapannya jatuh pada pakaiannya yang sudah berganti menjadi gaun merah darah sangat kontras dengan kulit tubuhnya yang putih.
Apa yang terjadi, apa yang pria itu lakukan padanya, Amanda meraba tubuhnya.. bagaimana dia bisa berganti pakaian?, apa pria itu melakukan pelecehan padanya?.
Saat Amanda masih melamun, suara pintu terbuka mengagetkannya, sontak saja Amanda Amanda bangun meski oleng karena kepalanya terasa berat "Siapa kau? apa maumu sebenarnya?"
Amanda menggeleng "Kau gila aku sama sekali tidak mengenalmu, kau salah orang tolong lepaskan aku!" Amanda memelas dia sungguh takut melihat wajah pria yang terlihat menyeramkan itu, pria itu pasti salah sangka dan mengiranya seseorang yang dia kenal.
"Kau terus berusaha menyangkal.. aku sungguh mencintaimu, jangan lari lagi.." pria itu berubah sendu dia bahkan berlutut di depan Amanda, dan mengangguk -anggukkan kepalanya seperti orang tak waras "Aku berjanji akan memberikan kau uang yang banyak, kita akan hidup bahagia.. kau juga bisa membeli apapun yang kau mau.." Dan Amanda semakin yakin jika pria itu gila, mungkin pria ini di tinggal kekasihnya hanya karena dia pria miskin dan tak memiliki apapun, kasihan sekali pria di depannya, tapi sekarang bukan waktunya untuk kasihan, nyawanya sendiri sedang terancam.
Amanda mudur satu langkah dan memeriksa situasi.
"Sely, kita akan menikah.." Amanda semakin waspada saat pria itu mendongak.
"Kau.. ka..u salah tuan, aku bukan Sely.."
Pria itu terkekeh "Kau pura- pura lupa padaku Sely.. aku adalah kekasihmu yang kau tinggalkan demi pria kaya itu.."
Amanda melihat ke arah pintu yang sedikit terbuka dan berlari, namun belum juga mencapai pintu rambutnya di tarik dan di seret kembali kedalam kamar.
"Sudah ku bilang jangan mencoba untuk lari lagi!"
Plak.. pria itu menampar Amanda dengan keras, hingga sudut bibinya berdarah.
Brak.. Amanda terlempar ke sudut ruangan, dan merasakan sakit di sekujur tubuhnya, tenaga lelaki itu sungguh kuat dia bahkan bisa melempar tubuhnya dengan mudah hingga beberapa meter.
"Agh sa kit.." lirih Amanda saat dia merasakan seluruh tubuhnya tak bisa di gerakan, apakah tulang- tulangnya patah.
Belum juga Amanda bernafas, pria gila itu kembali menarik Amanda hingga Amanda terjatuh di atas ranjang, ranjang yang keras membuat tubuh Amanda yang sudah sakit menjadi semakin sakit.
"Kau selalu berusaha lari, aku tidak akan melepaskanmu, malam ini adalah malam kita, kita hanya akan menikmati malam indah ini dengan penuh desa han seperti yang selalu kita lakukan.." Pria itu merangkak menaiki tubuh Amanda dan Amanda berusaha menggerakkan tubuhnya sekuat tenaga.
"Tidak.. jangan, aku mohon.." Amanda mendorong kuat dada pria gila di depannya, namun seluruh tubuhnya yang terasa sakit membuatnya tak bisa berbuat banyak, Amanda menangis dan berteriak saat pria itu merobek gaunnya, dia sungguh menyesal sudah lari dari para bodyguardnya, jika saja dia tidak melakukan hal bodoh itu, mungkin dia kini sedang tidur dengan nyaman di kasur empuknya, bukan kesakitan dan di lecehkan seperti ini.
Amanda bergetar ketakutan, dan memejamkan matanya erat dalam tangisnya dia mengingat kedua orang tuannya yang pasti akan kecewa dan sedih jika sesuatu yang buruk terjadi padanya, lalu terlintas tatapan galak Alan saat membentaknya, sekarang dia mengerti jika pamannya itu tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya, maka dari itu pria itu selalu menempatkan penjaga di sekitarnya dan mengekangnya.
"Uncle tolong aku.."
Brak..
Amanda masih memejamkan matanya karena takut saat mendengar suara pintu terbuka dengan kasar dan dengan perlahan matanya terbuka, mata Amanda membelalak saat melihat pria gila itu terkapar tak berdaya dengan Alan di atasnya membabi buta dan terus menghajarnya.
Amanda melihat wajah pria di bawah Alan sudah berlumuran darah pun mencoba menghentikan pamannya agar tidak melenyapkannya, namun tubuhnya yang terasa sakit dan kaku membuatnya sulit bergerak hingga membuatnya terjatuh dari ranjang.
"Uncle.." lirih Amanda, "Uncle.. hentikan!" Alan terpaku dengan tangan yang mengepal lalu melihat ke arah Amanda yang terbaring mengenaskan.
"Brengsek!" Alan melepas cengkeramannya di leher pria itu dan segera menghampiri Amanda "Amy, kamu baik- baik saja?" Alan menangkup pipi Amanda yang penuh lebam "Sialan kau terluka!" dengusnya marah.
Amanda menangis namun tubuhnya mencoba meraih Alan dengan menarik kemejanya agar mendekat dan memeluknya "Uncle.. sa..akit sekali..hiks.." Alan tertegun namun tak lama kemudian tangannya merengkuh Amanda.
"Tenanglah aku sudah ada disini.."