
Alan menghela nafasnya saat melihat Amanda tertidur lelap di kasurnya, seperti biasa saat Amanda menghilang Alan mencarinya seperti kesetanan, Alan bahkan mencari ke Apartemen Mina secara langsung dan bertanya dimana Amanda berada.
Mina yang merasa tak kedatangan Amanda pun hanya bisa menciut melihat Alan menggeledah isi Apartemennya.
Benar saja Mina tak berbohong dan kini Amanda justru tidur tengkurap di kamar tidurnya, Alan harus meminta maaf nanti pada Mina karena sudah mengganggu ketenangan gadis itu.
Alan mengelus pipi Amanda dengan tangan besarnya, gadis di depannya ini selalu membuatnya khawatir dengan kelakuannya, atau ini memang dirinyalah yang berlebihan seperti kata Isa,
["Dengar Alan, kau tahu Amanda sudah dewasa kenapa kau masih saja mengikatnya seperti anak kecil, aku yakin suatu hari jika Amy bosan dengan semua keposesifanmu dia akan meninggalkanmu!"]
Tapi bukankah apa yang Alan lakukan semata- mata demi menjaga Amanda dan agar gadis itu tetap disisinya.
"Uncle..." Suara serak Amanda membuat Alan tersenyum.
"Sudah bangun..? kamu tahu kamu membuatku khawatir.." Alan mengusap rambut Amanda. "Aku mencarimu kemana- mana.. saat aku dengar dari penjaga kamu datang aku langsung kemari."
Amanda membalikkan tubuh tengkurapnya hingga kini gadis itu berbaring telentang "Uncle, kau yakin dengan apa yang akan kau lakukan?"
Mendengar perkataan Amanda Alan mengerutkan keningnya. "Apa?" merasa bingung dengan topik yang di bicarakan Amanda.
"Ada sesuatu yang membuatmu gelisah..?"
Amanda menelan ludahnya kasar "Uncle, aku tidak yakin dengan apa yang kau katakan, aku rasa aku dan kau memang tidak di takdirkan bersama.."
Alan memejamkan matanya ternyata itu yang Amanda maksud. "Aku sudah bilang kan, aku menunggu Isa memberi tahu orang tuanya, setelah itu aku akan mengatakannya pada semua orang tentang kita.."
"Dan saat itu terjadi semuanya sudah terlambat." Amanda bergumam.
"Kamu bicara apa, hum?" Alan mengelus rambut Amanda yang berantakan.
Amanda menggeleng, namun kedua tangannya meraih kerah kemeja Alan "Uncle ayo lakukan itu.. dan jadikan aku milikmu." Alan merasakan nafas Amanda begitu dekat wajah mereka hanya berjarak beberapa senti saja, dan Alan bisa melihat tatapan Amanda penuh permohonan.
"Apa yang kamu katakan Amy.." Alan tahu apa maksud Amanda, namun hatinya ingin menyangkalnya.
"Aku akan menyerahkan semuanya untukmu.." tangan Amanda bergerak membuka kancing kemeja Alan satu persatu dengan tangan gemetarnya, jantungnya berdebar cepat, Amanda sudah memikirkannya dengan matang jika dia dan Alan bisa menyatu bukankah tidak ada alasan lagi bagi Alan menikahi Isa, dia akan selalu bersamanya, Amanda tahu dia pasti sudah gila cinta pertamanya membuatnya frustasi dan ketakutan akan kehilangan, Amanda juga tak mengerti mengapa Alan begitu berarti, meski baru beberapa saat ini dia menyadari perasaannya, tapi Amanda sungguh tak rela jika dia tak bisa bersama Alan, tangan Amanda terus bergerak membuka kancing kemeja Alan hingga pakaian pria itu setengah terbuka dan Alan menghentikannya.
"Hentikan Amy!" Alan menggeram dengan nafasnya yang mulai naik turun dan Amanda tertegun.
Amanda bergerak mendekatkan wajahnya dan mencium bibir Alan yang masih terpaku, Amanda berusaha menggoda dan menyusupkan lidahnya, namun Alan masih diam tak membalas.
Amanda menghentikan ciumannya saat Alan bergeming tidak membalasnya, perasaan ini membuatnya malu "Kau benar- benar tidak menginginkan aku Uncle.."
"Ada apa denganmu Amy.." Alan menggenggam tangannya erat menahan segala amarah dan gairah dalam dirinya, dia tak mungkin menyakiti Amanda setelah berusaha keras menjaganya selama ini, Alan ingin melakukannya dengan Amanda dalam ikatan yang resmi, bukan dengan cara seperti ini.
"Kamu tahu bagaimana aku menginginkanmu, tapi tidak sekarang bukankah kami juga ingin aku menyelesaikan semuanya sebelum bersamamu.."
Amanda semakin menundukan wajahnya, benar dia mengatakan itu dan Amanda saat itu tak tahu akan kehilangan Alan "Jika tidak sekarang maka tidak ada lain kali.." tentu saja karena dalam beberapa hari Alan bukan miliknya lagi, Amanda merasa miris bahkan sekarang pun Alan tak pernah menjadi miliknya.
"Amy, aku ingin melakukannya dengan ikatan sakral dalam sebuah pernikahan.."
"Aku tahu, aku mengerti Uncle.." Amanda mendongak dan tersenyum namun matanya berkaca- kaca dan terasa perih, ada rasa sakit disana, dan Alan hanya bisa tertegun.
"Ada apa denganmu, Amy.. bukankah sudah aku katakan jangan pikirkan apapun."
Amanda masih tersenyum menatap Alan, dan Alan dibuat semakin tak mengerti "Aku akan pulang Uncle.." Amanda turun dari ranjang Alan dengan hati yang sakit dan malu, malu karena mendapat penolakan dari Alan, Alan tak tahu jika untuk mereka tak ada lain kali, saat ini adalah saat terakhir Amanda memberi kesempatan pada Alan, tapi Alan memilih untuk menikah dengan Isa.
"Amy, aku tidak mengerti.. ada apa denganmu?" Alan menahan Amanda yang akan keluar dari kamarnya.
"Tidak ada Uncle, aku hanya lelah, aku akan pulang." Amanda menyingkirkan tangan Alan dan melanjutkan langkahnya.
"Amy,..?" Namun Amanda sama sekali tak menoleh dan terus melanjutkan langkahnya. "Kamu akan di antar supirku!" kata Alan saat Amanda menuruni tangga.
Amanda mengangguk, wajahnya masih menunduk bahkan saat ini rambutnya yang tergerai menutup penuh wajahnya.
Alan masih mengikuti Amanda yang hanya diam hingga tiba di depan rumah dan akan memasuki mobilnya, Alan menangkup pipi Amanda yang masih saja menunduk "Lihat aku, Amy."
Amanda mendongak "Percayalah semua akan baik- baik saja." Alan mengecup bibir Amanda, kecupan yang awalnya pelan menjadi lama hingga berubah menjadi *******.
Alan belum puas, tapi dia memang harus menghentikannya, jika tidak maka seperti keinginan Amanda, Alan akan menariknya kembali ke ranjang.
"Pulanglah, dan jangan kemanapun tanpa sepengetahuanku!." Amanda mengangguk dan masuk ke dalam mobil dengan supir yang siap mengantar.
...