
"Uncle.." Amanda melongokkan kepalanya di pintu melihat Alan yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
"Kamu datang?" Alan tersenyum, untuk sesaat Amanda tertegun melihat senyum pria itu.
Tampannya, Amanda membatin, kenapa baru sekarang dia menyadari pamannya memang tampan, kemana saja dia..
Tapi dulu kan, pamannya memang galak dan menyebalkan, dan saat Amanda mengetahui Alan melakukan itu untuk menahan perasaannya Amanda merasa bangga karena berpengaruh sebesar itu, dan Amanda menyadari jika Alan bukan mengekangnya melainkan itu adalah keposesifan pria itu padanya.
Dan kini Alan tersenyum padanya tanpa perlu menahannya lagi.
Baru kali ini Amanda melihat senyum tulus pria itu, senyum yang sungguh bersinar dan tampan.
"Kemarilah!" Alan menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, tiba- tiba rasa lelahnya hilang saat melihat Amanda.
Jantung Amanda berdetak cepat seiring langkahnya ke arah Alan, seraya meletakkan tasnya di sofa semakin dekat jantungnya pun semakin berpacu.
Amanda akan duduk di depan Alan tapi pria itu malah menariknya hingga kini Amanda jatuh di pangkuannya "Uncle.." Pipi Amanda memerah dengan perasaan yang semakin tak menentu.
"Aku merindukanmu.." Alan meletakkan dagunya di bahu Amanda, sembari menghirup aroma gadis itu.
"Kamu merindukanku tidak?"
Amanda menggigit bibirnya gugup, tangan Alan yang melingkar di perutnya memberikan gelenyar aneh menggelitik setiap syaraf nya.
"Kamu tidak merindukanku?" tak mendengar jawaban Amanda Alan kembali bertanya.
"Eh, y..ya.."
"Ya, apa?" Alan memiringkan wajahnya hingga bisa melihat raut Amanda yang memerah.
"Aku.. juga merindukan Uncle.."
Alan terkekeh dan mengelus pipi Amanda, mata mereka beradu dan sama- sama tertegun, Alan memiringkan wajahnya untuk meraih bibir pink alami gadis yang berada di dekapan itu, namun saat wajah Alan semakin mendekat Amanda menjauhkan dirinya.
"Uncle.." Amanda menunduk menyadari bahwa Alan belum menjadi miliknya.
Alan menghela nafasnya "Isa memintaku untuk menunggu, dia akan mengatakannya dahulu pada orang tuanya.."
Amanda menipiskan bibirnya, bagaimana mungkin Isa mengatakannya, saat dia bahkan tak ingin membatalkan pernikahan yang hanya tinggal beberapa hari lagi, dan akan di laksanakan sebagai pernikahan kejutan, tapi dia tak bisa mengatakannya pada Alan karena janjinya pada Mommynya Airin dan nenek Sofia untuk merahasiakannya.
"Uncle, jika kita tidak berjodoh.." Alan menatap tajam pada Amanda.
"Bukankah aku sedang berusaha.."
"Tapi kalau tidak bisa?"
"Pasti bisa!" Alan berkata dengan yakin.
Amanda menelan ludahnya "Bagaimana jika kita pergi saja, meninggalkan tempat ini dan hidup bersama.." Amanda ingin mengatakan itu, tapi mulutnya terasa kelu, haruskah mereka lari saja.
Alan mengecup dahi Amanda, tapi Amanda tidak yakin, mengingat kejutan pernikahan yang akan di adakan beberapa hari lagi.
"Baiklah kita makan siang, kau ingin makan apa?" Amanda memang mengatakan jika dia akan datang untuk makan siang bersama Alan di kantornya.
"Aku membawanya dari rumah?" Amanda bangun dan membawa tas yang tadi di letakkannya di atas sofa.
"Oh ya..?" Alan mengerutkan keningnya.
Amanda membuka tas bekalnya dan meletakkan kotak makanan di atas meja kerja Alan.
"Kamu memasak..?" Amanda mencebik.
"Aku tidak bisa memasak.."
"Jarimu terluka." Alan meraih jari Amanda yang di tempeli plester.
Amanda terkekeh "Tadinya aku ingin membantu pelayan sekaligus belajar, tapi belum apa- apa jariku sudah terluka.." Amanda menarik dan menyembunyikan tangannya ke belakang punggung.
Amanda menipiskan bibirnya merasa tidak berguna sebagai wanita, bagaimana bisa dia menikah dengan Alan yang sempurna sedangkan dia tak bisa melakukan apapun, bahkan hanya sekedar membuat perut suaminya senang nanti.
"Jangan berfikir macam- macam." Alan menoyor dahi Amanda.
"Memang aku memikirkan apa?" Amanda mencebik, mengusap dahinya, tidak sakit sih, hanya refleks saja.
Alan meraih tangan Amanda dan mengecupnya di bagian jarinya yang terluka "Aku bisa menyediakan sepuluh pelayan untukmu, jadi kamu hanya perlu memperhatikan aku saja, mengerti!."
Amanda tersenyum "Baiklah, Al.."
Alan membelalakan matanya "Kau bilang apa tadi?"
"Al, begitu kan seharusnya, mana mungkin aku menjadi kekasih pamanku." Amanda memerah.
Alan merasakan dadanya bergemuruh bahagia, sontak saja kedua tangannya menangkup pipi Amanda dan tanpa menunggu lama langsung saja melu mat bibirnya.
"Makanan pembuka, dari kekasihku!"
Sekali lagi Alan menempelkan bibirnya melu mat gemas bibir Amanda.
"Uncle kau!" Alan memukul bahu Alan, dia sangat terkejut hingga tak bisa menghindar, mereka belum menjadi kekasih sesungguhnya dan tentu saja tidak boleh melakukan itu..
Alan terkekeh, "Kenapa memanggil Uncle lagi.."
"Tidak mau, aku akan memanggilmu Uncle sampai kau benar- benar menjadi kekasihku."
Alan malah tertawa, melihat raut kesal Amanda.
"Baiklah, tidak masalah, lagipula hari ini aku sudah mendapatkan ciumanku.."