Make You Mine!

Make You Mine!
Perasaan Amanda Sesungguhnya



Alan menatap miris kondisi Amanda yang terbaring di atas ranjang di kamarnya, setelah kejadian tadi Alan langsung membawa Amanda pulang dan memeriksakannya dengan memanggil dokter pribadinya, tubuh Amanda penuh memar dan dokter menyarankan pergi ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut, namun Amanda menolak, dia hanya diam memeluk Alan dengan ketakutan.


Sejak di temukan Amanda tak ingin lepas dari Alan, gadis itu hanya diam dan memeluk Alan.


Beruntung belum terjadi sesuatu dengan Amanda, jika pria sialan itu berhasil menodainya entah apa yang akan terjadi..


Alan menyampirkan rambut Amanda yang berantakan dan menatap dengan sendu "Kau pasti ketakutan, maaf tidak menjagamu dengan benar.." hati Alan berdenyut nyeri melihat Amanda menangis pedih, dan hanya mengeluh dan meracau 'sakit' sepanjang perjalanan pulang.


Pria yang menculik Amanda sudah di amankan dan ternyata dia adalah pria tidak waras setelah di tinggal kekasihnya, dia kerap menganggap wanita berambut panjang dan cantik sebagai kekasihnya dan sialnya itu menimpa Amanda.


Alan bangkit saat dia kira Amanda sudah terlelap, namun baru saja Alan berdiri Amanda sudah bangun dengan waspada "Uncle akan kemana?" tangan Alan di genggam erat.


"Kau belum tidur?" Amanda menggeleng "Tidurlah, kamu harus istirahat, dan juga sekarang kamu aman.."


Amanda kembali menggeleng "Tidak mau, Uncle jangan tinggalkan aku.." lihatlah bagaimana sekarang dia ketakutan, kenapa sejak awal tidak menurut.


Alan ingin marah dan mengumpat tapi melihat wajah Amanda yang memelas membuatnya tak tega memarahi kecerobohan gadis itu.


Alan kembali duduk dan menunggu Amanda dengan sesekali menguap, dia lumayan lelah dan mengantuk karena seharian mencari Amanda.


"Uncle naiklah, tidur bersamaku!" Amanda melihat Alan mengantuk.


Alan menegakkan tubuhnya "Apa?" Alan mengerjap tak percaya, bagaimana bisa Amanda berkata untuknya tidur bersama.


"Hanya tidur Uncle, agar kau bisa lebih nyaman.."


"Ah, ya.." bagaimana bisa Alan berubah gugup, hanya karena perkataan Amanda sedikit sensitif.


Amanda tersenyum saat Alan menaiki ranjang dan tidur di sebelah Amanda, Amanda memiringkan tubuhnya dan menatap Alan.


Alan menelan ludahnya kasar, dia mengetahui Amanda menatapnya namun dia berusaha untuk mendatarkan wajahnya, dan menjaga ekspresinya agar tak terlihat gugup.


"Uncle..?"


"Ya..?"


"Maafkan aku.." lirih Amanda, tatapan matanya sendu dan penuh penyesalan.


"Kau tahu Amy, aku hanya tak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu, tanggung jawabku sangat besar, jika Alden tahu kau terluka dia akan membunuhku.."


Amanda mengangguk "Ya.." jawaban yang sedikit membuat Amanda kecewa sebenarnya, dia mengharapkan Alan melakukannya karena mengkhawatirkannya secara pribadi bukan karena sang Daddy menitipkan Amanda padanya.


Amanda menggeser tubuhnya dan memeluk Alan "Terimakasih sudah menyelamatkan aku Uncle.." Amanda meneteskan air matanya dalam diam, kali ini dia menyadari perasaan yang aneh yang dia rasakan, ya dia cemburu pada Isa yang bisa meluluhkan Alan dan membuat pria itu tersenyum, tidak seperti dirinya yang selalu membuat Alan marah.


Dan Amanda menyadari jika dia merasa sedih saat mendengar Alan akan di jodohkan dengan Isa.


Bagaimana ini, rasanya perasaan ini sangat menyiksa, bagaimana bisa dia merasakan perasaan ini pada Alan, paman yang sangat dia benci.


Sejak kapan dia merasakan ini..?


Alan menegang, saat Amanda memeluknya, ada apa dengan gadis ini tidak tahukah posisi ini begitu mengganggunya, bagaimana jika dia tak bisa menahan diri bahkan saat ini jantung Alan berdebar kencang.


Alan ingin mendorong Amanda untuk mempertahankan akal sehatnya, tapi tangannya mengkhianati dengan balas memeluk gadis itu.


"Maafkan aku uncle.." Amanda semakin memeluk Alan erat, tak dapat di pungkiri pelukan Alan terasa nyaman dan Amanda ingin sedikit lebih lama berada di pelukan hangat Alan, beruntungnya Isa bisa memiliki pria tampan ini.


"Sudahlah semua sudah berakhir, dan jangan kamu ulangi lagi!" Alan mengusap rambut Amanda, dan entah setan mana yang berbisik di telinganya hingga tiba- tiba..


Cup..


Merasakan kecupan di dahinya Amanda mendongak dan menatap Alan yang juga terpaku seolah baru menyadari apa yang baru saja dia lakukan, mata mereka bertemu dengan tubuh yang masih saling memeluk dan merapat.


Tiba- tiba entah siapa yang memulai kini jarak diantara mereka semakin mendekat dan memangkas jarak, Alan memiringkan wajahnya dan Amanda memejamkan matanya..


Cup..


Sebuah kecupan mendarat di bibir merah Amanda, Amanda membuka matanya saat merasakan Alan sedikit menjauhkan wajahnya.


Dengan bibir terbuka syok Amanda masih terpaku menatap Alan "Uncle..?"


Sial, Alan tak bisa mengendalikan diri melihat bibir Amanda yang tipis sedikit terbuka seolah mengundangnya untuk masuk dan menelusuri isi di dalam mulutnya.


Amanda menyentuh bibirnya yang baru saja mendapat ciuman dari Alan, bisakah itu di sebut ciuman, Astaga.. itu adalah ciuman pertamanya.


Alan masih memperhatikan Amanda yang bahkan menyentuh bibirnya pelan terlihat semakin mengundang dan seksii sekaligus, Shiiit Alan merengkuh Amanda semakin merapat dan kembali merapatkan bibirnya, kali ini sesuatu yang membuat jantungnya semakin menggelora dengan debaran, bukan sekedar kecupan, melainkan ciuman manis yang Alan lakukan selembut mungkin, ini kali pertamanya mencium seseorang dan yang pasti ciuman pertama mereka.


Dan Alan berusaha melakukannya sangat lembut dan dalam sekaligus, hingga membuat Amanda terbuai.


Amanda yang awalnya tertegun syok, kini mulai bisa menyeimbangkan hatinya dan membalas ciuman Alan dan membuka mulutnya membiarkan Alan menjelajah di mulutnya.


Astaga ini yang namanya ciuman, rasannya .. rasanya mendebarkan dan seolah ada suatu perasan yang tak bisa lagi dia cegah, ya Amanda kini tahu rasa apa itu..


Cinta.. dia jatuh cinta pada pria yang kini semakin menggebu melahap bibirnya, seolah tidak puas Alan bahkan tidak melepaskan bibirnya hingga Amanda merasakan sesak, lalu berusaha mendorong Alan.


"Uncle.. kau.." Alan terhenyak lalu dengan cepat menjauh dan melepas pelukannya.


"Astaga.. apa yang.." Alan bangun dan mengusap wajahnya kasar "Amy.. maaf aku..."


"Tidak Uncle.. aku..yang.." Amanda ingin menjelaskan jika pamannya tidak perlu merasa bersalah karena ini bukan hanya kesalahannya, karena tak dapat di pungkiri Amanda pun terbuai karenannya.


Alan bangkit dan berdiri "Tidak, lupakan itu! apa yang terjadi.. aku hanya terbawa suasana."


Amanda tertegun.. apa?.


"Aku akan tidur di sofa, tidurlah!" Alan berjalan dengan cepat lalu membaringkan dirinya di sofa.


Alan memejam berusaha menangkan hatinya bagaimana bisa dia hilang kendali, inilah alasannya kenapa dia selaku menghindari kontak fisik dengan Amanda, dia tidak bisa menahan dirinya.


Di tempatnya Amanda masih terpaku dengan tatapan mata tak lepas dari Alan yang menutup sebagian wajahnya tertidur di sofa, kedua tangannya mencengkram erat selimut.


Amanda merasakan sakit di hatinya, benar ini bukan hanya perasaan tak nyaman saat mendengar pamannya akan di jodohkan, tapi ini perasaan sakit saat pamannya tak memiliki perasaan yang sama karena jelas pamannya menyukai Isa.


Dia cemburu..


Amanda mengerjapkan matanya yang tiba- tiba saja berair.. Apa katanya?


Terbawa suasana?,


Itu.. itu adalah ciuman pertamanya dan dia melakukannya dengan pria yang melakukannya hanya karena terbawa suasana..?


Amanda seperti baru saja melakukan hal yang sia- sia.


Amanda memejamkan matanya, mencoba menepis semua sakit hatinya..


Kau gila Amy, bagaimana kau bisa terbuai dan melakukannya dengan pamanmu, dia pamanmu Amy..