
Amanda menatap Calvin dari atas ke bawah dengan tatapan memicing "Apa?"
"Kau mempermainkanku?"
"Tidak."Calvin berkata acuh.
Apa- apaan Daddynya itu, belum selesai masalah Alan dia sudah membuat masalah baru dengan menjodohkannya dengan pria playboy di depannya.
Tapi tunggu, daddynya kan tidak tahu masalahnya dengan Alan.
Lalu bagaimana sekarang?.
"Aku tidak mau." Amanda berkata tegas.
"Aku juga.." Amanda mendengus tak percaya. "Ayolah, aku tak mau kebebasanku terenggut karena pernikahan." pekik Calvin
Amanda mengangkat alisnya "Aku lihat orang tuamu harmonis, kamu tidak ingin mencontohnya, menikah, memiliki anak dan memberikan Uncle Roland dan bibi Anna cucu, tapi tentu saja bukan denganku." Amanda mengangkat tangannya tanda menyerah.
Calvin menggeleng "Itu semua sudah terwujud oleh Karina.." Amanda menggeleng mendengar pemikiran Calvin, Karina adalah kakak dari Calvin yang sudah menikah satu tahun lalu dan dikaruniai seorang bayi baru- baru ini.
Ya, Roland dan Anna di karuniai tiga anak Karina Zain Abraham dan Calvin Zain Abraham, dan si bungsu Mike Zain Abraham perpaduan antara Indonesia dan Amerika itu menjadikan Calvin dan dua saudaranya bibit unggul.
Dengan paras yang mempesona itu membuat Calvin tak menyiakan nya menjadi seorang don juan.
Karina lahir tiga tahun lebih awal dari Calvin, dan mengakhiri masa lajangnya dengan pria dari Indonesia yang membuatnya jatuh cinta di pandangan pertama, sekaligus yang menjadi cinta pertamanya.
Kebalikannya dari Karina yang hanya mencintai satu pria hingga menikah, mewarisi sifat Anna sang Ibu, tidak dengan Calvin yang playboy dan pemain wanita yang suka bersenang senang sama seperti ayahnya waktu muda.
Dan kenyataan itu tak dapat di pungkiri oleh Roland, jika jiwa nakalnya menurun pada Calvin, bahkan pria paruh baya itu berkali- kali memperingatkan jika anaknya akan mendapatkan karma nanti jika tidak berhenti.
Dan sewaktu Alden mengatakan jika akan menjodohkan anaknya dengan Amanda, dia bernafas lega, setidaknya dia tahu latar belakang Amanda, dan tahu Amanda sejak kecil, semoga saja dia bisa merubah Calvin.
Amanda menatap miris Calvin, "Dan Uncle menjadikan aku kelinci percobaan."
Calvin mendengus "Apa itu tidak terlalu kasar, kau cukup menolakku, ya meski konsekuensinya aku akan di lempar ke Indonesia agar tidak berulah, tapi setidaknya aku tidak perlu menikah.."
"Mengapa Indonesia?" Amanda memiringkan wajahnya.
"Mom bilang disana tidak terlalu banyak club dan gadis nakal." Calvin menyeringai "Tapi aku masih bisa mencari kan?" Calvin menaik turunkan alisnya.
Amanda menggeleng tak percaya, lalu menghela nafasnya. "Sudahlah, aku sedang pusing."
"Amy, mau pergi ke club?"
Amanda mengedutkan bibirnya kesal, jika dia pergi ke club Alan akan memarahinya, apalagi jika dia pergi dengan pria macam Calvin.
Tapi tunggu..
Amanda berpikir sejenak lalu mengangguk "Sepertinya aku memang perlu hiburan." peduli apa dengan Alan, pria itu besok akan menikah dan dia tak berhak lagi untuk mengurusinya.
Mengingat kenyataan itu lagi- lagi hati Amanda diliputi kesedihan.
Calvin tersenyum "Ayo!."
Calvin mulai melajukan mobilnya kembali tak peduli badan mobil sudah lecet karena menerobos pagar, pria itu memutuskan mengajak Amanda untuk bersenang- senang.
...
Amanda mengerjapkan matanya saat kesadarannya mulai tertelan, dia dan Calvin berada di ruang vip sebuah club dan minum bersama, Amanda yang tidak kuat dengan minuman pun sudah mabuk dengan beberapa gelas kecil saja, sedangkan Calvin masih tegap dan menyesap minumannya "Lihat, bagaimana aku bisa menikah dengan wanita rumahan sepertimu.. yang benar saja.."
Amanda terkikik "Jangan meledekku, kasihanilah aku..huhuhu.." Amanda menepuk dadanya "Bagaimana ini, hatiku sakitttt.."
Calvin menggeleng, "Ada apa denganmu, kenapa aku jadi terjebak dan akan di jodohkan denganmu sih.."
"Calvin.. bagaimana kita pergi saja ke negara mommymu, apa itu namanya.. Indine.. Indene.." Amanda memiringkan wajahnya, berpikir dengan tangan menggaruk rambutnya.
"Indonesia.."
"Aku tidak akan kuat melihatnya menikah.. bawa aku pergiiiii" Amanda terus meracau dan tangannya meraba botol minuman.
"Diamlah, lebih baik tidur. Kau sudah mabuk." Calvin menggeser botol minuman yang akan di ambil Amanda.
Amanda merengek "Akkkkhhh berikan padaku, aku mau lagi.. aku harus melupakannya."
Calvin menggeleng "Uncle Alden benar- benar akan membunuhku."
Amada memaksa dan meraih botol minuman, sedangkan Calvin mencoba menjauhkannya, bisa gawat jika gadis itu minum lagi, bukan hanya akan di lempar ke negara kelahiran Mommynya, mungkin semua fasilitasnya akan di cabut sang Daddy, karena mengerjai anak sahabatnya.
"Sudah cukup Amy.." Calvin mencoba mendorong Amanda agar gadis itu kembali duduk di sebelahnya, namun justru Amanda yang oleng menariknya hingga dia jatuh menimpa tubuh Amanda.
Calvin tertegun.
Wajahnya dan Amanda sangat dekat dan dia bisa melihat wajah cantik putri sahabat ayahnya dengan jelas.
Putih dengan kedua pipi yang merah, mungkin karena terlalu mabuk, namun pipi merah itu terlihat sangat menggairahkan.
Sial, jika tidak ingat konsekuensinya, maka akan dia hajar Amanda, meski dia tidak ingin di jodohkan dan menikah dengannya, tapi ayolah sebagai pria sejati dia juga tak bisa menolak keindahan seorang wanita.
Calvin mendekat dan berusaha meraih bibir merah Amanda, jika tak bisa tidur dengannya setidaknya dia bisa merasakan bibirnya.
Itu bagus bukan, dan dia penasaran dengan rasa bibir Amanda.
Calvin terus mendekat hingga dia bisa merasakan nafas Amanda yang beraroma minuman yang baru saja dia tegak, Tepat sebelum Calvin meraih bibir merah alami itu, seseorang membuka pintu dengan paksa dan mendobraknya.
Brak..
Calvin memejamkan mata, sial dia sudah memesan ruang vip tapi ada saja yang mengganggunya, bagaimana dengan privasi club ini.
"Sia.."
Bugh..
Kata-kata Calvin tertelan saat sebuah tinju melayang ke rahang Calvin hingga pria itu memekik dan terkejut.
"Brengsek.."
Calvin mendongak dan melihat sepasang mata tajam menatapnya dengan amarah yang siap meledak "Kau yang brengsek, sial.." Alan menarik kerah kemeja Calvin.
"Beraninya kau menyentuh wanitaku!."
Bugh..
Bugh..
Bugh..
Alan melayangkan tinjunya berkali- kali hingga Calvin tak bisa berkelit.
"Shiiit" Alan melempar Calvin ke sudut ruangan, tubuh mereka sama besarnya, namun Calvin yang tidak siap hanya bisa mengalah dan pasrah saat di hajar oleh Alan.
"Urusan kita belum selesai.." tak peduli dengan Calvin yang menyandang nama Abraham, Alan menghajarnya karena berani membawa Amanda ke club dan apa- apaan itu dia akan mencium Amandanya, sialan.
Calvin meludahkan cairan asin dari bibirnya, hingga ludah bercampur darah itu memercik di lantai, melihat Alan menggendong Amanda membuat Calvin terkekeh "Jadi kau, pria yang membuat Amanda menangis.."
Alan menghentikan langkahnya, lalu matanya menatap Amanda yang sudah tertidur tak sadarkan diri.
Alan menghela nafasnya, lalu melanjutkan langkahnya tanpa menghiraukan Calvin.
Like...
Komen..
Vote..