Make You Mine!

Make You Mine!
Bride



Amanda tersenyum saat Airin berjalan ke arahnya "Kamu cantik sekali sayang.."


Airin memeluk Amanda lalu mengecup dahinya "Terimakasih Mom.."


Airin menghela nafasnya lalu duduk di sebelah Amanda, "Mom tidak menyangka, hari ini akan tiba secepat ini, mom kira kamu akan meraih gelar mu lalu bekerja." Amanda menunduk, ini juga belum terlintas di benaknya, namun jika mengingat Alan adalah pria yang dia cintai, Amanda rasa ini tidak buruk, bahkan mungkin ini sebuah kebahagiaan yang tak terhingga.


Tapi mengingat lagi pria itu sudah berbohong membuatnya kecewa, dan setiap kali menyadari jika dirinya bukan anak Airin membuatnya sedih, dari mana dia berasal?.


Benarkan dari panti asuhan, atau bahkan dari jalanan dan di pungut dengan rasa kasihan?, lalu kemana orang tuanya?, apakah dia di buang atau orang tuanya telah tiada.


Airin mengelus pipi Amanda saat Amanda tak juga merespon perkataannya "Kamu melamun?."


"Maaf Mom, aku hanya sedang gugup." Airin terkekeh.


"Itu sudah pasti, apalagi kamu melakukan ini tanpa persiapan khusus."


"Oh, Mom bicara sesuatu?." Airin menggenggam tangan Amanda.


"Apapun yang terjadi, Mom sangat menyayangimu.. percayalah." Amanda tertegun, lalu beberapa saat kemudian Amanda menghambur ke pelukan Airin.


"Maafkan aku, Mom. Selama ini aku selalu membuatmu marah, aku menyayangimu Mom.."


"Aku bahagia, kamu adalah Mommyku.." Airin menghapus air mata Amanda.


"Ya, kamu adalah putri Mom, putri Mom yang cantik.." Airin mengecup dahi Amanda.


"Kamu sudah siap?, semua orang mungkin sudah menunggu


" Alden muncul tanpa basa- basi, dan langsung mengatakan acara sudah di mulai.


"Dad, kau sepertinya sangat senang, jika aku akan pergi.." Amanda mencebik.


Alden terkekeh dan memeluk Amanda "Lalu, kamu ingin apa.. Jika aku bisa aku ingin melarangmu menikah dan tetap bersama kami, selamanya menjadi putri kami, tapi bagaimana lagi putriku yang cantik sudah bisa merasakan cinta dan takut kehilangan, tidak mau keluar rumah bahkan tidak bersemangat seharian."


Amanda merona, jadi selama ini orang tuanya menyadarinya, tingkahnya saat menghindari Alan dan bersedih setelah mengetahui pernikahan kejutan yang sebenarnya untuk dirinya sendiri.


"Baiklah, mari jemput kebahagiaanmu." Alden mengulurkan tangannya, Amanda tersenyum dan menyambut tangan Alden, Amanda rasa tak ada yang lebih tulus dari pada cinta orang tuanya, meski sesungguhnya bukan orang tua kandung, tapi Amanda bahagia bisa jadi gadis yang di besarkan oleh keluarga penuh cinta seperti Alden dan Airin.


...


Alan membaur dengan semua rekan bisnisnya, berbincang dan berbasa- basi dan terimakasih sudah datang.


Alan juga mewakili Barnes yang tak banyak bergerak karena sering lelah.


Alan melihat sekelilingnya, kemana semua keluarganya, Alan bahkan tak menemukan batang hidung Alden. Kakak sialannya itu bahkan tak mau ikut menyapa tamu undangan, setelah semalam membuatnya marah sekarang Alden bahkan tak muncul untuk membantunya.


Alan menoleh ke arah MC yang mulai acara penyambutan, lalu Barnes muncul bersama Sofia.


MC memberikan mic kepada Barnes yang menyambutnya dengan senyuman.


"Terimakasih sudah hadir, maafkan aku tidak bisa menyapa kalian satu persatu, tapi mengatakan sangat bahagia dan berterimakasih untuk kehadiran dan doa kalian.."


Barnes menoleh pada Sofia "Terimakasih untuk istriku, yang selalu setia menemaniku," Barnes mengecup tangan Sofia "Semoga kau tak pernah bosan aku repotkan."


Sofia tersenyum dan mengecup pipi Barnes "Aku mencintaimu.."


"Aku tahu, Baby. Aku pun sangat mencintaimu." tepuk tangan mengaduh saat melihat ungkapan dari pasangan beda usia tersebut.


Alan tersenyum menyaksikan kedua orang tuanya, tak pernah sekalipun mereka bertengkar hebat hingga gaduh. semarah apapun Daddynya akan memperlakukan Mommy nya dengan lembut dan sayang, begitupun sebaliknya.


Perbedaan jarak usia tak menghalangi cinta sejati diantara mereka, mommynya yang masih muda dengan mudah menyeimbangkannya dengan Barnes yang bahkan lebih pantas di sebut ayah.


"Untuk selanjutnya istriku bilang dia akan memberikan aku hadiah.." Barnes menatap Alan, dan membuat Alan mengeryit.


Barnes bicara tentang Sofia tapi mata dan bibir tuanya tersenyum pada Alan.


Alan balas tersenyum dan beranjak saat melihat seseorang mendorong kue ulang tahun Barnes.


Alan melihat Alden dan Airin yang sudah mendampingi bahkan disana ada Isa yang tampil cantik dengan gaun putih susunya apa itu tidak berlebihan, gaun Isa terlihat mencolok diantara semuanya, karena hanya dirinya yang mengenakan gaun putih, sedangkan tema pesta sendiri mengusung warna red and black. Mereka mulai menyanyikan lagu ulang tahun dan doa untuk Barnes.


Alan melihat sekelilingnya namun tak juga menemukan Amanda, apa gadis itu benar- benar tidak hadir, bukankah tadi mereka datang bersama, apakah dia pergi lagi dan menghiraukan pesta.


"Selamat ulang tahun Dad." Alan memeluk Barnes dan memberikan hadiah berupa kotak kecil berwarna hitam yang sejak tadi di dalam saku celananya.


"Terimakasih, seharusnya kamu tak perlu repot membawa kado.." Barnes tersenyum melihat sebuah jam tangan eksklusif di tangannya, Alan memesannya langsung dan mengukir nama Barnes disana, sangat indah dan mewah.


"Mana mungkin aku datang dengan tangan kosong."


Barnes terkekeh "Aku bahkan tak sabar dengan hadiah yang nyata darimu..."


Alan mengeryit, lalu dia tertegun saat Barnes melanjutkan ucapannya. "Aku ingin kau menikah hari ini.."


Alan masih tertegun namun tatapannya kini jatuh pada Isa yang tersenyum merona, "Usiaku sudah semakin tua," Barnes menghela nafasnya yang terasa lelah "Aku bahkan sudah tak bisa bicara banyak.."


"Apa bedanya menikah hari ini atau satu bulan lagi, kamu akan tetap menikah.." Sofia menambahkan "Jadi buatlah Daddymu senang Al.. Dan ini juga akan menjadi kado terindah untuk Daddymu."


Sofia menatap penuh permohonan, dari tatapannya Alan tahu dia begitu berharap Alan akan mengabulkannya.


Alan masih terdiam hingga Isa menggandeng tangannya "Tidak masalah Bibi, Alan akan melakukannya. Benar bukan?." Alan menggeram dalam hati, namun dia tak bisa berucap, hatinya takut membuat Sofia dan Barnes kecewa.


Sofia tersenyum "Mungkin sebagian kalian tidak tahu, putra kami Alan sudah bertunangan, dan aku harap dia setuju untuk menikah hari ini..?."


"Mom, aku.." Alan belum selesai bicara namun Isa kembali menyela.


"Ada apa denganmu Alan, kamu ingin Paman kecewa?."


Alan menyingkirkan tangan Isa, dengan tatapan kecewa Alan memalingkan wajahnya, kini semua mata tamu undangan tertuju padanya, menatap penuh tanda tanya mengapa Alan seolah tak menginginkan pernikahannya, padahal dia sudah bertunangan, orang- orang mulai berbisik melihat adegan di depan mereka, beberapa perkataan bahkan terdengar jelas oleh Alan membuatnya semakin menggeram.


"Jika kamu tidak mengikutiku, kamu akan menyesal." Isa menyeringai setelah membisikkan kata- kata yang menurut Alan keterlaluan, dia sudah berjanji akan memutus hubungan mereka, lalu hari ini Isa bilang dia akan menyesal..


"Aku tahu Al, kita bicarakan ini nanti.. Tapi aku yakin setelah ini kamu akan berterimakasih padaku." seringaian Isa semakin lebar, kala menatap Alan yang tak berkutik.


"Al, lihatlah kami sudah mempersiapkan semuanya." kata Sofia lirih, tatapan matanya sungguh membuat Alan semakin tidak berdaya.


Alan melihat Altar yang terbentang, juga ada seorang pria berpakaian khas seorang pastur disana.


Sial, ternyata ini sudah di rencanakan, dan bagaimana bisa dia tidak tahu, dengan rencana Sofia dan Barnes ini.


Bagaimana dengan janjinya pada Amanda, Alan melihat sekelilingnya, tatapannya datar dan penuh amarah, mencoba menyembunyikan Alan menggenggam tangannya erat hingga buku- bukunya memutih, apakah ini alasannya mengapa Amanda tidak ingin hadir di pesta ini.


Pantas saja tingkahnya sangat aneh, sekarang Alan mengerti mengapa gadis itu ingin sekali menyerahkan dirinya, rupanya dia tahu tentang rencana ini, berharap setelah mereka bersatu tidak akan ada pernikahan ini.


"Setelah ini tidak akan ada kesempatan lagi.."


Alan mengingat tatapan kecewa dari Amanda, 'gadis itu..' geramnya dalam hati.


'Kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya.' setidaknya jika Alan tahu dia bisa mencegah ini terjadi.


Alan berjalan dengan Isa menggandengnya mesra, Alan melihat penampilannya, pantas mommynya memesankan stelan khusus untuknya, jadi ini alasannya.


Mereka berjalan di atas karpet merah menuju sebuah podium dimana pria tua dengan baju hitam menunggunya, persis seperti pengantin, Alan terkekeh melihat gaun warna putih Isa, benar ini sudah di rencanakan, jelas gaun itu adalah gaun pengantinnya.


"Kau benar- benar licik Isa..." geraman itu tertahan, Isa bahkan bisa meraskan kemarahan di dalamnya.


Isa terkekeh lalu berbisik "Katakan terimakasih nanti setelah kau menikah." Isa melepas tangan Alan dan meninggalkan Alan berdiri di depan pastur.


Dengan tatapan bingung Alan melihat ke arah Isa yang mengedipkan matanya "Karena Alan sudah setuju, jadi kita akan sambut pengantin kita!." Isa berseru hingga kini tepuk tangan riuh terdengar, lalu semua mata tertuju pada Alden yang menggandeng seorang gadis berbalut gaun pengantin di sisinya.


Menuruni tangga satu persatu dengan hati- hati, mata Alan tak berkedip melihatnya, raut itu tertutup kain tipis tapi Alan tahu itu Amanda, kekasihnya.


Alan mendesah, Astaga.. Benar- benar drama..


...


Like..


Komen..


Vote..