Make You Mine!

Make You Mine!
Bukan Pertengkaran



"Hei, kamu menangis.." Alan berjalan ke arah Amanda dan berjongkok di depan gadis cantik yang sudah menjadi istrinya itu "Ada apa..?"


Amanda menunduk menghindari tatapan Alan, hingga pria itu mengampit dagu Amanda agar melihat ke arahnya. "Kamu bersedih karena apa..?"


"Aku bingung dengan sikapmu akhir- akhir ini Amy, jika ada yang mengganjal di hatimu katakan padaku." Alan hampir kehilangan ke sabarannya, namun dengan cepat dia menghela nafasnya.


"Kita sudah menikah Amy, atau kamu tidak menginginkan ini, kamu tidak mau menikah denganku.."Alan memikirkan kemungkinan terburuknya, jika Amanda mungkin belum siap dengan pernikahan mereka yang tiba- tiba, apalagi Amanda yang masih duduk di bangku kuliah, meski mereka saling mencintai sekalipun.


"Kenapa kau berbohong padaku Uncle, apa kau merasa kasihan padaku.." Amanda berkata lirih dengan denyutan hatinya yang sakit, akibat kenyataan yang baru saja dia ketahui.


Alan mengeryitkan keningnya ketika isak tangis Amanda semakin tak tertahan dan sesegukan, membuat hati Alan terasa nyeri, apa maksud Amanda?, melihat gadis itu menangis pilu membuat Alan seolah dihantam batu besar, kesalahan apa yang dia lakukan, hingga membuat Amanda menangis.


"Aku tahu Uncle.., aku tahu apa yang sebenarnya.., aku yang bukan bagian dari keluarga ini dan bukan kau."


Degh..


Alan merasakan jantungnya berdebar kencang, ternyata Amanda sudah tahu yang sebenarnya. "Amy.."


"Kenapa harus berbohong padaku Uncle, apa karena kau merasa kasihan padaku.."


Alan menggeleng "Tidak Amy, maaf. Tapi jika kamu tahu yang sebenarnya kamu pasti bersedih, aku tidak mau kamu bersedih, bagiku kebahagiaan kamu adalah yang terpenting."


"Tapi kenyataan jika kamu berbohong juga membuat aku bersedih.. Aku merasa aku begitu menyedihkan, hingga kamu mengasihaniku.." Alan menutup mulut Amanda dengan jarinya.


"Tidak Amy, percaya padaku." Alan menggenggam tangan Amanda, "Apapun yang terjadi, entah itu kau atau aku yang bukan bagian dari keluarga ini, pada akhirnya kenyataan ini membuat kita bersatu.. Jadi aku mohon Amy, jangan bicara tentang siapa kau atau aku.. "


"Bukankah yang terpenting kita saling mencintai."


Amanda mengusap air matanya lalu mengangguk, Alan tersenyum lalu mengecup bibi Amanda.


"Aku mencintaimu.."


"Aku juga.."


Alan tersenyum lalu memeluk Amanda, "Jangan pikirkan apapun, siapapun kamu, kamu adalah orang paling berharga untukku, dan aku beruntung mendapatkan kamu."


Amanda menggeleng "Tidak aku yang beruntung bisa masuk ke keluarga ini, lalu sekarang mendapatkan kamu.


Alan terkekeh "Ya, kita sama- sama beruntung."


"Uncle.. Bagaimana jika aku bukan dari keluarga baik- baik.. Dan orang tuaku dulu sangat miskin, apa kau masih mau menerimaku."


"Dengar Amy, aku mencintaimu apapun kamu, aku menikah denganmu bukan keluargamu yang bahkan sudah tiada.." Amanda tertegun.


Alan kembali memeluk Amanda "Tanyakan kepada Alden dan kak Airin, mereka yang berhak mengatakannya."


"Tapi aku mohon jangan bersedih lagi, karena aku, Mom, Dad akan selalu menjadi keluargamu.


Bahkan Alden dan Airin mereka tetap orang tuamu, lihat betapa mereka menyayangimu, jangan pernah meragukan itu." Amanda mengangguk dia bukan tidak bersyukur dengan semua yang dia dapatkan, tapi dia hanya merasa kecewa dengan kebohongan Alan.


"Maaf karena sudah berbohong, aku tidak menyangka jika kamu lebih sedih sekarang."


Amanda mendorong Alan "Aku hanya kecewa, dan tentu saja kapanpun aku tahu aku akan merasakan sedih, tapi terimakasih Uncle.."


"Bisakah kau tidak memanggilku Uncle lagi, aku suamimu sekarang.." Alan merengut masam.


"Aku hanya belum terbiasa."


"Lalu kenapa tidak membiasakan sejak kemarin.. Malah sibuk pergi dengan Calvin."


Amanda mencebik "Itu karena aku kira kita tidak akan bersama.. Ngomong- ngomong kemana Calvin?, aku tidak melihatnya tadi." Amanda tak salah yang hadir hanya Tuan Roland dan Istrinya Anna tapi Calvin tidak terlihat.


Alan mengedikkan bahu "Tidak tahu, mungkin anak itu sudah di kirim oleh orang tuanya ke Indonesia."


"Apa?" Amanda berdiri "Dia pergi begitu saja." Alan mengerutkan keningnya.


"Dia berjanji akan mengajakku pergi ke sana.. Bagaimana bisa dia pergi begitu saj..a." perkataan Amanda terhenti saat melihat Alan mengeraskan rahangnya dengan tatapan tajam "Uncle.."


Amanda mundur saat Alan memicingkan matanya curiga. "Aku yang memaksa Calvin untuk ikut.." Amanda menutup mulutnya.


"Apa kau bilang.!" Amanda meringis sepertinya dia salah bicara,dia ingat mengatakannya saat mabuk, tapi dia juga sungguh ingin ikut dan melihat suasana disana, meski awalnya dia hanya ingin lari dari sakit hatinya, Calvin bahkan tidak benar- benar berjanji mengajaknya.


"Tidak, bukan begitu Uncle.."


"Sudah ku bilang jangan panggil aku Uncle lagi!"


Amanda mengangguk "Y..ya, Al.." Amanda menghentikan langkahnya lalu menekan pinggangnya dengan kedu tangannya."Aku tahu kamu cemburu, tapi jangan membuat aku takut dengan tatapanmu itu!"


Alan terkekeh lalu meraih pinggang Amanda "Jadi jangan coba bicara tentang pria sialan itu, bagaimana mungkin aku membiarkan mu pergi ke negara yang jauh dengan pria yang hampir menodaimu." Alan mengepalkan tangannya mengingat Calvin hampir mencium Amandanya.


Mata Alan berubah merah karena marah. Lalu dengan cepat mencium bibir Amanda dengan menggebu hingga Amanda sesak nafas.


"Al, apa yang kau lakukan." merasa Alan sangat tak terkendali Amanda berusaha mendorong Alan.


Alan menghela nafasnya "Aku rasanya terbakar mengingat pria brengsek itu akan menciummu."


"Astaga, dia baru akan dan belum.. Dia memang suka bermain wanita, tapi dia tidak melakukannya padaku."


Alan mengeram marah "Dengar Amy, aku adalah pria paling posesif dan kamu tahu itu sejak dulu, jadi jangankan kamu di cium pria itu, di sentuh sedikit saja aku akan menghajarnya."


Amanda mencebik "Lalu kau. Kamu pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan pada kak Isa. Kak Isa bilang kau pernah menciumnya." Amanda berdiri dan berkacak pinggang.


Alan tertegun, ya dia pernah melakukan itu saat meyakinkan Isa jika mereka bisa menjalani hubungan yang nyatanya ingin Alan akhiri sendiri.


Amanda memalingkan wajahnya "Itu tidak adil, kau melarangku tapi kau melakukannya."


"Amy, tapi itu terjadi sebelum aku tahu perasaanmu.." Alan mencoba mengelak.


"Tapi masa itu kamu juga melarangku ini dan itu, bahkan aku juga hanya berpegangan tangan dengan Andy.."


Alan menegakkan tubuhnya yang benar saja ini adalah hari pernikahan mereka dan mereka bertengkar, hanya karena pria dan wanita lain, yang sama sekali tak berarti.


"Dengan Uncle.. Umm maksudku Al, aku sudah menjadi milikmu sekarang, jadi jangan terlalu posesif padaku." Amanda mundur saat Alan melangkah dengan memicingkan matanya.


"Kau yakin tidak akan cemburu saat melihatku dengan wanita lain." Amanda membelalakan matanya.


"Tidak seperti itu konsepnya!, aku hanya ingin kamu tidak melarangku ini dan itu, kegiatan yang aku inginkan.."


"Baru saja kita bicara tentang pria lain, dan wanita lain."


Amanda mengerjapkan matanya "Itu benar, tapi bukan berarti kau juga boleh melakukan itu.."


Alan menyeringai "Aku hanya melarangmu pergi ke tempat yang tidak baik untukmu."


"Lalu para pengawal itu.. Kamu pikir aku tidak tercekik."


"Ini demi keamananmu, ingat dengan pria yang menculikmu."


Amanda menunduk menyadari kesalahannya, Alan menghela nafasnya, dia mengerti Amanda masih berjiwa muda, dia bahkan di besarkan dengan segala keinginan yang tercapai walau hanya satu kali bicara, dan tentu saja itu menumbuhkan ego yang tinggi.


"Masih mau berdebat?"


Amanda menggeleng "Kau benar."


"Aku selalu benar untukmu."


Amanda terdiam, lalu mendongak "Aku rasa aku memang belum siap untuk menikah."