Love In Race

Love In Race
Beda Cerita



Lokasi Pemotretan Morr


Radhi tampak luwes dalam berpose membuat sang fotografer tidak kesulitan dalam mengarahkan gaya ke pembalap formula satu itu. Charlotte yang melihat hasilnya di layar monitor MacBook tampak puas dengan hasil foto-foto Radhi yang sesuai dengan style of Morr yang elegan tapi sedikit misterius seksih.


"Nice Mr Blair" ucap fotografer itu.


"Thanks. Apa masih ada pemotretan lagi?" tanya Radhi sambil dibantu asistennya Charlotte untuk melepaskan jas nya yang dipromosikan.


"Memakai baju casual Radhi" jawab Charlotte dari balik MacBooknya.


"Maukah kamu membantu aku, Charlotte?" pinta Radhi membuat gadis bermata biru itu mendongak dan menatap pria tampan yang sudah berdiri di hadapannya.


Charlotte menatap bingung. "Bantu apa Radhi?"


"Mengganti kostum..."


Charlotte cekikikan. "Radhi, kamu bukan superhero jadi bukan kostum tapi outfit. Ayo, aku bantu." Gadis itu berdiri lalu menuju ruang ganti dan Radhi pun mengekor Charlotte. Di belakangnya ada dua asisten gadis itu untuk memberikan pakaian yang akan dibawakan Radhi di pemotretan berikutnya.


Charlotte dengan telaten dan hati-hati melepaskan dasi serta kemeja Radhi hingga menampakkan tubuh pria itu yang memang berotot layaknya atlit. Charlotte sudah biasa menghadapi banyak model pria dengan tubuh terpahat sempurna, tapi dengan Radhi, dirinya terasa gugup.


Apa harum parfumnya? Ya ampun, pria ini wangi sekali padahal sudah melakukan pemotretan hampir dua jam.


"Charlotte..." panggil Radhi sambil mengenakan kaos brand Morr.


"Hah?" jawab Charlotte sambil membenarkan kaos yang sedang dipakai Radhi.


"Mata kamu bagus banget..."


Charlotte menatap Radhi. "Mr Radhi Blair. Apakah anda sedang merayu saya... lagi?"


"Well, perpaduan antara suka, merayu dan memuji. Bagaimana?" senyum Radhi.


"Terimakasih atas pujiannya tapi soal rayuannya... Really ( yang benar saja )?" senyum Charlotte untuk menyembunyikan rasa gugupnya ditatap dengan mata abu-abu kecoklatan Radhi.


"Jadi kan kita makan malam nanti? Mumpung aku libur sebab tiga hari mendatang aku sudah harus terbang ke Monaco." Radhi menatap Charlotte yang sedang mengancingkan jaket yang dikenakan pria itu.


"Kita lihat saja nanti" jawab Charlotte.


"Aku akan minta ijin ke bang Raffa supaya kamu juga bisa bersenang-senang sedikit" senyum Radhi.


"What?"


"Hei, itulah asyiknya punya saudara yang pegang brand dan aku menjadi modelnya. Bisa nepotisme dikit lah!" kekeh Radhi.


Charlotte hanya menepuk dada Radhi gemas. "Kalian itu memang deh!"


Radhi hanya tersenyum. "Kamu tahu sendiri kan keluarga aku bagaimana?"


Setelah dirasa pas, mereka pun keluar dan Radhi memulai pemotretan lagi.



Yang jadi model


Charlotte hanya menatap bagaimana pria itu berpose lagi, membuat jantungnya berdebar-debar. Bahaya kalau aku sampai jatuh cinta sama Radhi. Apa kata dunia? Kak Charlie naksir Raine, aku dan Radhi? Aduuuh media gosip langsung ramai!


Radhi menatap Charlotte yang sedang sibuk berdiskusi dengan sang fotografer. Kamu kenapa semakin cantik sih C?


***


Ruang Kerja Raine Blair


Raine masih sibuk menyelesaikan semua pekerjaannya sedangkan Charles lebih banyak menatap gadis itu dibandingkan melihat iPadnya. Panggilan dari Adam Brown, dia acuhkan bahkan ponselnya dibuat mode silent tanpa getar karena Charles ingin menikmati waktunya bersama Raine.


Pria itu melihat Raine tampak serius bekerja bahkan menganggap dirinya tidak tampak. Gadis itu menerima telepon, video call dari para klien dan mendengarkan laporan sekretaris, Hamidah.


Menjelang jam makan siang, Raine mengambil dompet dan ponselnya lalu berdiri membuat Charles yang sedang menonton hasil balapan kemarin terkejut melihat gadisnya hendak pergi.


"Kamu mau kemana Raine?" tanya Charles sambil menyimpan airpods nya.


"Makan siang. Kamu mau ikut?" tanya Raine.


Charles tersenyum lebar. "Tentu saja! Aku yang bayarin!"


Raine tersenyum smirk. "Dear McGregor, kita tidak keluar gedung tapi kita makan di cafetaria sini. Dan kamu harus memakai kartu khusus."


"Jadi?" tanya Charles bodoh.


"Aku yang traktir, McGregor." Raine pun keluar ruang kerjanya diikuti Charles di belakangnya.


"Yup." Keduanya masuk ke dalam lift khusus dan Raine memencet tombol lift menuju cafetaria. "Kalau kamu mau makan disini, harus menggunakan kartu khusus yang kamu isi macam kartu tol. Nanti baru bisa kamu gunakan makan disini" jawab Raine bertepatan dengan pintu lift terbuka.


Tampak lantai tempat cafetaria sudah penuh dengan para pegawai yang hendak makan siang. Melihat siapa yang datang, membuat suasana disana mendadak hening karena tampak Raine berjalan bersama dengan Charles McGregor.


Para pegawai pria langsung heboh melihat pembalap terkenal yang juga saingan saudara CEO AJ Corp. Raine hanya mengacuhkan kehebohan disana apalagi Charles dikerumuni para pegawai perusahaan untuk mengajak pria itu mengobrol.


"Ini kartunya." Raine memberikan kartu khusus ke Charles yang sedang sibuk meladeni para pria - pria car enthusiast itu.


"Maafkan kami Miss Blair tapi kapan lagi bisa mengobrol dengan Mr McGregor" ucap salah satu pegawai Raine.


"Silahkan tapi jangan lupa, Mr McGregor juga butuh makan siang" balas Raine tegas.


"Baik Miss Blair."


Raine membawa nampan berisikan makan siangnya lalu duduk di pojok. Tak lama lift khusus pun berbunyi membuat semua orang bergegas bubar karena kemungkinan besar Damian atau Gasendra yang turun atau pun bisa Ayrton atau Enzo sendiri.


Tak lama keluarlah Damian Blair dan Gasendra Schumacher dari lift khusus itu membuat semua orang bergegas mencari tempat duduk untuk makan siang.


"Charlie? Ngapain kamu disini?" sapa Gasendra.


"Mau makan siang dengan Raine" jawab Charles apa adanya.


"Ayo, kita ambil makan siang sekalian. Dimana Raine?" Damian celingukan dan melihat adiknya asyik makan di pojokan sambil mendengarkan airpods nya.


"Kok bisa Raine makan duluan tapi kamu masih disini?" tanya Gasendra bingung.


"Tadi aku melayani penggemar balapan dulu dan Raine memilih makan terlebih dahulu" senyum Charles kikuk.


Gasendra dan Damian menatap ke sekeliling cafetaria dengan mata tajam. Mereka tahu pegawainya sangat penggemar acara otomotif, tapi kan tidak begini juga!


"Dasar!" umpat Damian. "Yuk kita ambil makanan. Kartunya sudah ada Charlie?"


"Sudah. Ini punya Raine."


Ketiga pria itu pun mengambil makanan lalu duduk di meja bersama Raine yang kemudian melepaskan airpods nya.


"Sudah jumpa fans nya?" sindir Raine ke Charles yang duduk di sebelahnya.


"Sudah dong!" balas Charles sombong.


"Dasar!" kekeh Damian. "Ngomong-ngomong kamu ngapain kemari Charles?"


"Aku gabut, Dam. Jadi kenapa tidak aku temani saja calon istriku yang sedang bekerja..."


Suara garpu jatuh diatas piring membuat ketiganya menoleh ke arah Raine. "Calon istri?!"


"Iyalah Raine. Aku tidak mau main-main dan aku cukup serius akan hal ini" jawab Charles sambil menatap Raine serius tapi mesra.


Damian dan Gasendra hanya menggelengkan kepalanya melihat keduanya ribut sendiri. Suara ponsel Damian berbunyi dan pria itu mengambilnya. Wajahnya berubah menjadi dingin.


"Damn it!" umpatnya.


Charles dan Raine menatap Damian yang tampak gusar dan tidak mood makan. Gasendra mengambil ponsel sepupunya dan membacanya.


"Astaghfirullah..." ucapnya.


"Apaan mas?" tanya Raine yang hanya diberikan ponsel Damian. Charles pun ikutan kepo membaca pesan di sana yang ternyata dari Direndra.


Boy, dua Minggu lagi kamu akan menikah dengan Reema. Tadi Emir Al Salman sudah mengirimkan surat resmi ke Daddy.


Raine menatap sedih ke kakak sepupu kandungnya. "Mas..."


Damian memilih pergi meninggalkan ketiga orang disana dan melupakan ponselnya.


Charles menatap Raine dan Gasendra bergantian. "Ada apa ini?" tanyanya bingung.


***


Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️