
Bahrain International Circuit
"Radhi, yellow flag dikibarkan! Kamu harus melambatkan kendaraan kamu..." ucap Jean Dupont di radio Radhi.
"Ada apa?" tanya Radhi yang tidak tahu insiden di belakangnya.
"McGregor kecelakaan."
Radhi terkejut. "Kok bisa?" Tunggu... jangan-jangan...
"Sepertinya tadi dia terganggu konsentrasinya dan setelah melewati Paddock, dia Meleng dan langsung selip hingga menabrak tembok."
Radhi tersenyum lebar. Benar-benar deh Raine. Radhi tadi memang tidak memperhatikan keadaan Paddock karena dirinya konsentrasi saat Kimi dan Gerald saling salip menyalip.
"Apakah McGregor harus dibawa ke rumah sakit?"
"Nope. Dia keluar dengan sehat dari mobilnya tapi... habis bannya ditendang sama dia. Tampak dia kesal karena marah-marah terus!" lapor Jean Dupont.
Radhi sudah kembali memutar mobilnya satu putaran dengan pelan menunggu bendera hijau dikibarkan dan melewati Paddock nya lalu melihat adiknya memakai Coat hijau sedang mengobrol dengan Damian. Tidak ada yang aneh-aneh.
Radhi langsung menggeber mobilnya begitu bendera hijau dikibarkan, pertanda perlombaan dilanjutkan kembali. Dan tanpa ampun, sulung Alaric Blair itu langsung memacu mobilnya.
***
Paddock Mercedez
"AAAARRRGGHHHH!" Charles melampiaskan semua emosinya. Bahkan dia melemparkan helm mahalnya ke dinding hingga remuk.
Adam Brown bergegas memberikan air mineral dingin ke Charles yang masih emosi. "Minum dulu Charlie. Ayo, duduk dulu."
Charles menenggak botol air mineral dingin yang diberikan manajer nya hingga habis tidak tersisa.
"Sekarang ceritakan padaku kenapa kamu bisa selip?"
"Sudah! Aku tidak mau membicarakan!" hardik Charles.
Adam terdiam karena tahu bahwa Charles sedang emosi, lebih baik membiarkan dirinya cooling down sampai benar-benar mengontrol emosinya.
Apa sih yang membuat Charles tadi seperti tidak fokus. Adam Brown keluar dari dalam ruangan pembalap menuju area tempat pitstop lalu menatap berkeliling dan melihat Raine Blair mengenakan coat bewarna hijau Jamrud yang membuatnya mencolok diantara tim berseragam merah.
Damn it! Raine mengenakan baju warna mencolok dan itu membuat si mantan playboy amburadul! Adam melirik ke arah Charles yang masih marah-marah. Pantas bubar jalan. Ternyata kamu sudah jatuh ke pesona Raine Blair.
***
Akhirnya balapan pun berakhir setelah Radhi dan Gerald menyelesaikan lapnya membuat posisi satu dua milik Ferarri.
Radhi tersenyum lebar ketika naik ke atas podium lagi apalagi juara satu dua untuk Ferarri. Dirinya dan Gerald sekali lagi berada di posisi yang sama. Juara ketiga adalah milik Kimi Yamashita. Dirinya melihat anggota keluarganya tampak heboh menyambut kemenangannya. Dan usai turun dari podium, Radhi langsung menghampiri Raine dan mencium pipinya.
"Kamu tadi ngapain?" bisik Radhi.
"Nggak ngapa-ngapain" cengir Raine.
"Dasar!" Radhi menoyor kepala adiknya.
***
Acara dilanjutkan dengan acara pesta setelah perlombaan dan Radhi tidak lepas senyum lebarnya karena Ferarri bisa juara dua race. Dua Minggu lagi akan diadakan di Silverstone dan Eagle bersama Elane sudah siap datang mensupport dirinya. Aidan dan Thara bersama dengan Arjuna dan Sekar juga akan datang.
Raine sendiri membiarkan kembarannya menikmati harinya dan memilih berjalan bersama dengan Damian.
"Kamu tadi sengaja kan membuka mantelmu" ejek Damian ke Raine saat mereka berada di halaman tempat acara diadakan yang merupakan rumah jamuan Raja Bahrain.
"Apa tho mas? Aku gerah tadi" jawab Raine polos.
"Raine Giandra Al Azzam Blair. Memangnya Mas Damian tidak lihat apa liciknya kamu?" Mata hijau Damian menatap tajam ke adiknya yang cuek meminum kopinya.
"Apaan sih mas. Aku nggak ngapa-ngapain tadi..."
Damian Blair.
"Beneran deh kalian berdua! Dari kecil sukanya bikin onar!" gerutu Damian.
Raine lalu merangkul lengan kakaknya. "Tapi mas Dam sayang sama kita kan?" kerlingnya manja.
"Lho Ogan dan Opa usil satu sama lain? So, kalau cicitnya kelakuannya sama... Apa ya dilarang?" balas Raine.
"Raine? Itu kamu?"
Sebuah suara feminin membuat dua sepupu itu menoleh. Raine tersenyum lebar melihat siapa yang datang.
"Reema!" seru Raine sambil meletakkan gelas kopinya dan langsung memeluk gadis cantik yang rambutnya dicat ombre blonde dan coklat itu.
"Beneran datang ternyata. Kata Paman Alaric, kamu datang, hanya saja dari tadi aku cari-cari" ucap gadis yang bernama Reema itu.
"Reema ingat mas..."
"Damian Blair. Apa kabar?" sapa Reema Al Salman, putri Raja Bahrain itu sambil mengulurkan tangannya.
Damian melongo melihat gadis itu. "Kemana rambut coklat kamu?" tanya Damian sambil menerima uluran tangan Reema.
Introducing Reema Al Salman
"Aku ingin sesuatu berbeda. Bagus nggak?"
Damian hanya mendengus. "Jelek!"
Raine melongo. "Mas Dam! Jelek dari mana? Ya Allah mas, Reema cantik banget ini!"
"Tetap tidak suka cewek blonde! Bikin rusak rambut, tahu nggak!" balas Damian judes.
Reema hanya tersenyum sedih. "Tidak pernah berubah ya kakakmu itu" ucapnya ke Raine.
"Kagak pernah! Sudah, kita tinggalkan saja si manusia unta itu!" Raine menggamit Reema meninggalkan Damian yang masih berdiri disana.
***
Raine dan Reema lalu duduk di sebuah meja taman yang terletak agak jauh dari para tamu undangan. Gadis itu tahu Reema datang bermaksud untuk beramah tamah dengan semua orang termasuk Damian tapi dirinya tidak menduga jika kakaknya akan berkata pedas seperti itu.
"Reem, maafkan mas Damian ya. Dia memang menyebalkan..." Raine memberikan sapu tangannya ke Reema yang tampak menitikkan air matanya.
"Aku masih saja cengeng jika berhadapan dengan Damian." Reema tertawa kecil sambil mengelap air matanya dengan saputangan milik Raine.
"Kamu masih naksir kakakku itu? Ya Allah Reema, cari cowok lain kenapa! Mengcapek kamu sama dia!" omel Raine.
"Tapi aku sudah suka dengan Damian dari Junior high school... Dia cowok yang keren..."
"Mas Damian nggak keren! Mas Damian super nyebelin!" potong Raine.
"Dia keren lho Raine."
"Ya Allah Reema, hampir sepuluh tahun kamu mengharapkan kakakku satu itu tapi dia tidak pernah mau sama kamu! Yang ada malah kata-kata pedas bikin kamu mewek!" Raine memegang tangan Reema. "Reema, kamu cantik, cerdas, spoke person di PBB, advokat lulusan Princeton University, salah satu Ivy league. Kamu pantas mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari mas Damian. Masa kamu harus berubah jadi unta buat disayang - sayang?"
Reema tertawa. "Astaghfirullah Raine. Masa aku harus jadi unta?"
"Daripada kamu mengharap - harap mas Damian mau menoleh ke kamu."
Reema hanya tersenyum. "Kali ini, aku akan bisa mendapatkan Damian, Raine dan dia tidak bisa menolaknya."
Raine melongo. "Jangan bilang.... No, Reem. Nanti kamu menyesal karena membuat mas Damian terikat sama kamu..."
"Desperate times, desperate measures ( quotes ini berarti tindakan yang mungkin tampak ekstrim dalam keadaan normal sesuai selama kesulitan )." Reema tersenyum smirk ke Raine.
"Stop ambil kalimat dari mission impossible rogue nation! Ini serius!"
"Aku juga serius Raine!" jawab Reema tegas.
Raine hanya memegang pelipisnya. Astaghfirullah.
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️