Love In Race

Love In Race
Radhi di Rumah



Istana Al Azzam Seminggu sebelum balapan ...


Radhi pulang ke Dubai sebelum balapan dimulai karena dirinya sudah rindu dengan rumah. Kehidupan sebagai pembalap yang memungkinkan untuk pulang setiap saat itu tidak memungkinkan. Radhi bahkan beberapa kali melewatkan acara pernikahan sepupunya. Bisa pulang ke rumah itu merupakan kemewahan tersendiri bagi sulung Alaric Blair itu.


"Moooommmm! Assalamualaikum!" teriak Radhi di istana mewah itu dengan cueknya. Semenjak Opa dan Omanya memutuskan tinggal di London, istana itu hanya dihuni Direndra dan Alaric.


"Wa'alaikum salam. Astaghfirullah! Radhi! Ini bukan hutan!" balas Nura gemas dengan putranya yang sama saja dengan suaminya kalau pulang dari perjalanan bisnis.


"Ada yang dicontoh..." kekeh Radhi yang didampingi oleh Bassam, pengawalnya. Alaric memang mengirimkan pengawal karena tidak mau kejadian gegeran dengan Charles terulang lagi hingga adu jotos yang membuatnya sakit kepala. ( Pak Al lupa seperti nya saat pertandingan polo dulu seperti apa ).


Nura mengeplak bahu putranya yang mirip dengan ayahnya itu. "Contoh itu yang baik! Bukan kelakuan minusnya Daddymu!"


Radhi tertawa lalu merangkul dan mencium pipi serta pelipis sang mommy yang tertutup hijab. "Lha aku anaknya pak Alaric jadi kalau mirip ya wajar dong mom."


"Nggak yang jelek, Radhiiii!" ucap Nura gemas.


"Mommy masak apa?" tanya Radhi sambil menggandeng ibunya. Jika jam-jam segini, semua orang masih berada di perusahaan jadi Radhi bisa leluasa mengompeni Nura sebelum nanti rebutan dengan Alaric.


"Masak kesuakaan kamu. Lontong opor lengkap."


Wajah Radhi langsung sumringah mendengar masakan favoritnya. Entah kenapa, pria itu paling suka lontong opor ayam lengkap dan jika sudah makan itu bisa tambah dua kali.



"Asyiiik!"


Kedua ibu dan anak itu menuju ruang makan yang sudah disiapkan oleh pelayan. Nura dan Radhi pun makan siang bersama sembari bercerita berbagai macam hal.


***


"Jadi Charles naksir Raine terus ada rencana jodohin kamu sama adiknya?" tanya Nura yang selalu takjub dengan cerita aneh-aneh keluarga nya.


"Hu um. Raine dan Charlotte berteman baik dan sering kontak-kontakan tapi kakaknya Charlotte memang durjana!" jawab Radhi sambil memasukkan lontong ke dalam mulutnya. "Ya ampun, paling enak itu masakan mommy."


"Memang Raine nggak buatin waktu di Itali?"


"Kan aku lagi balapan jadi aku minta dibuatkan menu sehat."


"Yang namanya Charlotte, cantik nggak Rad?" goda Nura.


"Cantik, baik dan pintar."


"Mommy boleh tahu seperti apa sih mukanya?" tanya Nura. Sebenarnya Nura sudah tahu dari Raine cerita tentang rencana Charles McGregor tapi dirinya juga lebih suka mendengar dari putranya.


Radhi mencari foto Charlotte saat makan bertiga dengan Raine sehari sebelum kembarannya pulang.



Charlotte McGregor


"Ini foto diambil oleh Raine" jawab Radhi sambil menunjukkan ke Nura.


"Cantik Rad. Mommy suka matanya, bagus" puji Nura. "Lulusan mana?"


"Sekolah desain London kalau tidak salah. Raine dan Charlotte kompak banget. Kan Raine fashion enthusiast dan Charlotte adalah manager di butik Morr punya bang Ale di London. Jadi dua cewek, pecinta fashion dan barang branded, kompak lah!"


"Tapi kamu tidak kompak dengan kakaknya Charlotte?" goda Nura sambil tersenyum.


"Nope! McGregor itu rival!" sahut Radhi judes.


"Sayang, jangan judes-judes." Nura memegang tangan putranya yang terasa kapalan akibat memegang setir mobil.


"Mommy, semua pembalap di formula satu itu semua rival tapi McGregor adalah rival utama aku."


"Gara-gara dua tahun lalu? Tapi kamu kan sudah meninjunya Rad. Sudahlah, jangan bikin masalah lagi ya nak" bujuk Nura. Wanita berhijab hijau itu hanya bisa mengelus dadanya jika suami dan putranya sama - sama kumat keras kepalanya.


"Rasanya kok masih kurang ya. Cuma mengingat ucapan mas Shin, do it in elegant, jadi kepaksa deh aku sok elegant padahal masih pengen main hajar!"


"Siapa yang mau kamu hajar?"


Radhi memutar matanya sebal. Kenapa daddy harus pulang sih?


***


"Lha anaknya pulang malah ditanya seperti itu? Ya ditanya lah, gimana kabarnya Rad? Sudah berapa poin mu? Kira-kira Ferrari juara dunia lagi nggak? Bukan langsung dijulid macam begini."


"Kalau pulang itu makanya kasih tahu! Biar Daddy bisa pulang cepat!"


"Sengaja biar bisa kompeni mommy. Kan aku jarang pulang, jadi wajar dong sengaja pulang gak bilang-bilang demi bersama dengan wanita yang melahirkan aku" jawab Radhi judes. Dirinya dan Raine tidak habis pikir, Alaric sangat bucin dan egois kalau soal Nura. Bahkan sama anaknya sendiri juga tidak mau berbagi? Bapak macam apa itu!


"Heh! Kalau tidak ada andil dari Daddy mu yang ganteng ini, perut mommymu gak bakalan melendung isi kamu sama Raine!" sahut Alaric songong.


"Astaghfirullah... Kalian berdua!" bentak Nura yang merasa pusing dengan kerusuhan antara suami dan putranya yang mirip kembar beda usia.


"Radhi yang mulai!" ucap Alaric.


Radhi melongo. "Whaaattt? Mom! Daddy pitenah!"


"Lama-lama ya kalian berdua mommy kirim ke Aokigahara! Bikin pusing saja !" Nura pun melanjutkan makannya.


***


Raine yang pulang untuk makan siang karena tahu saudara kembarnya datang, melihat suasana ruang makan tampak dingin. Gadis itu menatap wajah ibunya yang makan sambil diam dan berarti super duper marah. Raine menghela nafas panjang karena tahu kalau Alaric dan Radhi pasti membuat Nura marah.


Heran ! Berdua itu tidak pernah belajar! Dasar kembar beda usia! Sebenarnya yang kembar itu siapa?! Raine pun menghampiri saudara kembarnya.


"Hai ganteng!" sapanya sambil merangkul dan mencium pipi Radhi.


"Halo cantik!" balas Radhi membalas dengan mencium pipi adiknya.


"Halo Daddy. Pasti ribut lagi. Lihat tuh mommy ngambeknya sampai kayak gitu" goda Raine sembari mencium kening Alaric. "Alamat Daddy tidur di luar."


"Raiiiinnneeee..." rengek Alaric memelas.


"Makanya jangan ribut sama Radhi" balas Raine sambil tersenyum usil.


Alaric menyipitkan mata hazelnya ke arah putrinya.


"Dad, ada yang naksir Raine." Radhi menatap ayahnya.


"Siapa? Si Marcopolo?" balas Alaric yang tahu teman SD putrinya masih naksir Raine. Marco, putra duta besar Spanyol di UAE, memang terang-terangan suka dengan bungsunya.


"Bukan Marco. Charles McGregor."


Klontang!


Alaric menjatuhkan sendok garpunya lalu menatap ke ketiga anggota keluarganya. "McGregor?"


"Iya. Gimana?" kerling Radhi ke Raine yang menatapnya judes.


"Nggak gimana-gimana" balas Alaric cuek lalu memegang sendok dan garpunya lagi.


Radhi dan Raine melongo. "Whaaattt?"


"Look, cuma naksir kan? Belum main lamar kan? Jadi, santai saja lah!" jawab Alaric cuek.


"Kalau dia datang melamar Raine, bagaimana Mas?" tanya Nura.


"Hadapi aku, Mas Rendra dan Damian!"


Radhi terbahak. Bakalan berat dah!



Pak Alaric ... siapa yang kangen?


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️