
Acara After Race Party Bahrain...
Damian menatap tajam ke Raine yang masih saja cuek makan makanannya sedangkan Charles berusaha merangkum ada apa antara Damian dan princess Reema.
"Dam, apakah kamu ada hubungan spesial dengan putri Reema?" tanya Charles.
"Tidak ada. Hanya kenalan keluarga saja. Sama denganmu Charlie" jawab Damian dingin membuat Charles terdiam. "Aku permisi dulu, harus menemui Emir dari Arab Saudi yang memanggilku."
Charles dan Raine melihat seorang pria dengan pakaian mewah melambaikan tangannya ke arah Damian dan putra Direndra itu tersenyum lalu menghampiri pria itu.
Pasti ada story antara Damian dan putri Reema.
"Raine, apakah kamu mengenal pria yang dihampiri Damian?" tanya Charles saat melihat Raine juga melambaikan tangannya.
"Pangeran Zayyan. Dulu sih ngejar mbak Vita tapi mbak Vita tidak mau. Habis itu beberapa tahun kemudian Pangeran Zayyan menikah dengan gadis yang dijodohkan oleh keluarganya." Raine menyesap coke nya.
"Raine, apa kamu datang besok perlombaan di Silverstone?" tanya Charles mengalihkan pembicaraan.
"Sudah pasti tidak, McGregor. Aku juga ada pekerjaan."
"Jadi, jika Radhi kalah di Silverstone olehku, tidak masalah kan?" Mata biru Charles McGregor menatap licik ke Raine.
Gadis itu memajukan tubuhnya dan mata hazelnya menatap dingin ke Charles. "Tidak mungkin Radhi akan mengalah begitu saja. Dua kali juara, adalah salah satu pemicu Radhi untuk tetap konsisten menjaga poin."
Charles memajukan tubuhnya juga hingga keduanya cukup dekat. "Aku tidak akan mengalah di negaraku sendiri Raine."
"Apa kamu lupa? Aku juga memiliki darah Skotlandia dan Inggris? Begitu juga Radhi. Tentu saja saudara kembar ku tidak akan mengalah di tanah kelahiran opa buyut Edward Blair." Raine tersenyum mencibir Charles.
"Kamu tidak mirip gadis Inggris."
"Karena aku sudah campuran. Andaikan ada test DNA soal ancestors detik ini juga, kamu bisa tahu nenek moyangku adalah seorang Blair, Giandra, dan Al Azzam. Inggris, Skotlandia, Jawa Solo, dan Arab. Perlu diperjelas lagi? Ngomong - ngomong, aku bukan gadis Inggris karena terlalu santun." Raine melirik jam tangannya bermerk Rolex. "Sudah lebih dari sepuluh menit."
"So? Aku masih ingin berbincang dengan mu Raine."
"Well I'm not. Apalagi makananku sudah habis." Raine menunjukkan piringnya yang kosong membuat Charles melongo.
Kapan makannya kok cepat banget habisnya?
"Aku harus kembali ke keluarga aku. Good luck!" Raine pun berdiri lalu berjalan menuju Radhi yang masih asyik mengobrol dengan Reema dan Gasendra.
Mata Charles tidak lepas dari gadis bergaun hijau itu.
Aku kok curiga, kamu tiba-tiba bakalan datang ke Silverstone.
***
Dubai UAE, Kantor AJ Corp beberapa hari kemudian..
Raine masih menatap layar monitornya untuk mulai melakukan draft rancangan anggaran sekolah milik Raana Blair untuk tahun ajaran baru. Gadis itu memang bertanggung jawab atas keuangan semua yayasan dan sekolah yang dibangun Raana. Ibu Damian itu tahu Raine sangat teliti seperti Jayde dan Oomnya Haris Lexington meskipun bukan lulusan akuntansi.
"Dana nya masih ada sisa banyak. Bisa disimpan buat anggaran tahun depan" gumam Raine. Suara ponselnya membuat Rania mengalihkan perhatiannya dari layar monitor.
"Assalamualaikum" sapanya.
"Wa'alaikum salam. Raine, kamu ada waktu nggak? Aku lagi di Dubai. Menginap di Burj Khalifa."
"Wah, ada angin apa putri Reema ke Dubai?" kekeh Raine.
"Ayah ada pertemuan dengan Oom Direndra. Aku sendirian di hotel, bingung mau ngapain."
"Oke lah. Aku kesana sekarang karena kebetulan bertepatan dengan jam makan siang."
***
Restauran Armani Hashi Burj Khalifa
Raine dan Reema sudah berada di sebuah restauran yang menyediakan masakan Jepang yang berada di Burj Khalifa. Karena keduanya adalah putri Emir, maka tidak heran mendapatkan tempat yang strategis tanpa harus reservasi terlebih dahulu.
Raine dan Reema memesan sushi dan sashimi untuk acara makan siang ini sembari menikmati sparkling water dan minuman lainnya.
"Ya ampun, untung aku menelpon dirimu. Bisa bingung aku di kamar sendirian meskipun ada pengawal" kekeh Reema sambil mengambil sepotong sushi.
"Kenapa tidak bilang kalau kamu mau ke Dubai? Aku kira malah kamu kembali ke New York untuk menyelesaikan urusan kamu di PBB." Raine menatap Reema bingung.
"Sudah aku selesaikan setelah kalian pulang ke Dubai, Seninnya aku kembali ke New York dan segera menyelesaikan semuanya. Lalu aku pulang ke Bahrain."
"Lalu di Bahrain, kamu beraktivitas apa?"
"Menjadi mentor para wanita di sana untuk lebih bisa berdikari dan kuat sebagai penopang suami. Tidak ragu untuk speak up, mengungkapkan pendapat..."
"Kesannya kok jadi miris denganmu ya Reema..."
"Apa maksudmu Raine?"
"Kamu tidak berani bilang pada mas Damian kalau kamu tidak nyaman dengan perlakuan bendungan satu itu!" balas Raine gemas. "Speak up dong Reema."
"Ini aku sudah speak up" senyum misterius Reema terbit di wajahnya.
Raine melotot. "Jangan bilang kamu ke Dubai meminta ayahmu untuk menjodohkan kamu dengan mas bendungan itu?"
Reema tersenyum membenarkan.
"Astaghfirullah... " Raine memegang kepalanya. "Nekad kamu!"
"Desperate times, desperate measures..."
"Shut up Reema! Kamu cari penyakit! Mas Damian itu tidak suka dipaksakan!"
"Aku yakin Oom Direndra tidak akan menolak kan? Mengingat kasus Emily? Aku yakin, pasti Oom Direndra dan Tante Raana lebih memilih aku yang sudah jelas asal usulnya" jawab Reema yakin.
Raine hanya menatap horor. "Aku harap tidak ada yang banting barang karena mendengar berita ini."
***
Silverstone Circuit Inggris
BRRAAAKKK! Sekali lagi Helm mahal Charles menjadi korban kebiadaban lemparan tolak peluru dari pemiliknya. Entah apa yang membuatnya kesal karena sejak pagi latihan, ada saja kesalahan hingga dirinya sampai selip beberapa kali padahal cuaca Silverstone sangatlah cerah dan tidak kacau seperti biasanya.
"Kalian bisa nggak sih menyetel mesinnya? Aku rem selalu terlambat!" omel Charles ke semua teknisi mobil balapnya.
"Setelan mobilmu sudah sempurna, Charlie. Tapi memang tikungan ketiga itu kamu harus berhati-hati! Tapi kamu tadi main geber jadinya kamu terlambat mengerem! Bukan salah mobilnya, bukan salah teknisi nya tapi salah kamu!" bentak Adam Brown yang sudah tidak tahan mendengar Omelan Charles beberapa hari ini.
"Huuuhhh!" Charles mendengus mendengar bentakan Adam.
Adam menggelengkan kepalanya lalu menemui para teknisi yang juga kesal dengan kelakuan diva Charles. "Maafkan Charles, mates. Dia lagi PMS. Kalian tenang saja, nanti aku traktir minum. Charles yang bayar. Kan besok kita harus istirahat."
Beberapa teknisi tersenyum. "Kita ke pub nanti!"
"Deal! Nanti aku bawa kartu kredit Charles. Kan dia paling anti alkohol selama lomba" seringai Adam demi membuat para teknisi tidak mogok kerja.
Charles sendiri mengambil ponselnya dan manyun. Bodoh! Kok aku tidak tanya nomor ponsel Raine ya?
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️