
Istana Al Azzam Dubai UAE
Raine menatap layar ponselnya yang sudah kembali ke wallpaper gambar dirinya dan Radhi. Dirinya hanya bisa menepuk dadanya yang sedikit sesak. Obsesi Reema mengingatkan dirinya dengan mantan suami kakaknya, Gemintang. Iya, Gemintang dulu juga menikah terpaksa dengan Krisna Rao, pria yang sudah terobsesi dengannya sejak kuliah. ( Baca Gemini dan Gemintang Love Stories ).
Dan akhirnya, mereka bercerai setelah Gemintang pergi meninggalkan Krisna. Raine bersyukur jika akhirnya sang kakak sudah menemukan kebahagiaannya dengan saudara kembar Krisna. Memang kacau tapi melihat bagaimana Raj Rao bisa membuat Gemintang bahagia, keluarga pun menerima akhirnya.
Sekarang mereka sudah dikaruniai tiga anak kembar atau triplets yang dikenal sebagai trio ABC dari nama mereka Ararya, Benoit dan Charusmita. Raine menatap langit Dubai dan berharap agar terjadi keajaiban agar tidak terlaksana pernikahan paksa antara Damian dan Reema.
"Bodoh kamu Reema! Aku tidak tahu ke depannya kalian bagaimana tapi aku harap apa yang terjadi dengan mbak Mintang dan Krisna, tidak terjadi diantara kalian." Entah mengapa dada Raine terasa sesak dan akhirnya gadis itu menangis.
***
Radhi yang sedang membaca buku di kamarnya, merasakan sesak di dadanya dan sedih yang luar biasa.
"Raine..." bisiknya. Bergegas pria itu menuju kamar Raine yang berada di seberangnya. Pria itu mengetuk pintu kamar kembarannya dan berusaha membukanya. "Alhamdulillah nggak dikunci."
Radhi bergegas masuk ke dalam kamar dan melihat adiknya menangis di balkon. Pria yang memiliki wajah mirip Alaric sang Daddy, langsung memeluk Raine.
"Kamu kenapa? Kok nangis?" tanya Radhi sambil mengelus rambut Raine.
"Aku kesal... kesal dengan Reema..." isak Raine.
"Kamu menelpon Reema?" Raine mengangguk di pelukan Radhi. Keduanya duduk di lantai balkon kamar Raine.
"Aku kasih tahu ke dia kalau apa yang dia lakukan itu salah! Aku hanya ingin menyelamatkan mereka berdua, Mas Dam dan Reema. Aku tidak mau terjadi macam mbak Mintang sama bang Krisna dulu..." ucap Raine sambil menangis.
Di balik kelakuannya yang bar-bar, usil, bermulut pedas, Raine adalah gadis sensitif. Bahkan dia bisa menangis hanya hal sepele dan Radhi paham bahwa masalah Damian dan Reema, membuat saudara kembarnya kesal.
"Raine, mereka sudah dewasa dan Reema sudah tahu konsekuensinya jika tetap memaksakan keinginannya menikah dengan Mas Dam. Memang dikira mudah membuat Mas Dam luluh? Apa kamu ingat mas Dam berantem dengan mas Bayu gara-gara tender proyek? Mereka sampai berkelahi dan harus dipisahkan oleh bang Gabriel dan mas Gasendra? Berbaikannya juga lama lho... Mana berdua juga sama-sama panasan kan?" senyum Radhi sambil memegang wajah Raine.
Raine mengangguk.
"Reema memang cari penyakit, tapi biarkan dia menghadapinya. Aku dan kamu belum menemukan pasangan yang bisa membuat otak mu tidak bisa berpikir rasional dan mungkin jika kita mengalaminya, pasti akan mirip si McGregor yang menabrak bolak balik..."
Raine tertawa kecil. "Mungkin seperti itu ya Rad?"
"Mungkin seperti itu. Tidak bisa sinkron antara logika dan emosi... Macam ayah kita yang bucin akut yang tidak mau berbagi mommy dengan kita, anak kandungnya! Bukankah seharusnya kita yang diprioritaskan! " omel Radhi yang sejak remaja bersama Raine sudah mulai ribut dengan Alaric untuk mendapatkan perhatian Nura.
Raine tersenyum. "Thanks Rad. Selalu ada disaat aku butuh teman berbagi."
"Kita kan kembar, dan aku bisa merasakan jika kamu tidak sedang baik-baik saja." Radhi menowel hidung Raine. "Sudah, kamu tidur. Istirahat. Kita doakan saja besok soal mas Dam dan Reema agar diberikan jalan yang terbaik. Oke?" Radhi pun berdiri dan berjalan keluar kamar adiknya.
Raine hanya bisa menghela nafas panjang. "What happened will be happen ( apa yang akan terjadi, terjadilah )."
***
Pagi ini di meja makan semua sarapan dengan tenang sampai Direndra bertanya pada Radhi soal persiapan perlombaan. Radhi pun bercerita Dengan semangat apalagi dirinya dan Gerald sudah juara satu dua di empat race terakhir.
"Apakah kans Ferarri menjadi juara dunia lagi bisa terwujud?" tanya Direndra.
"Insyaallah Oom. Kalau aku dan Gerald stabil ditambah dengan kompaknya tim, kita bisa juara dunia lagi. Bikin hattrick lah."
"Jamannya Opa Senna dan Enzo tuh Ferarri sering hattrick juara dunia. Tapi habis itu biasanya kalian kalah satu dua musim lalu baru Hattrick lagi" kekeh Alaric.
"Iya ya Dad? Mereka berdua hattrick lalu habis itu kesalip?" tanya Radhi.
"Iya kalau nggak Mercedez ya Red Bull. Saingan terdekatnya Ferarri kan itu" sambung Alaric.
"Berarti ada kemungkinan tahun depan McGregor juara dunia, Rad" goda Nura ke putranya.
Radhi cemberut. "Akan aku patahkan kutukannya."
"Short of... Akan aku buktikan bahwa Ferarri bisa juara empat kali berturut-turut. "
"Semangat Rad!" senyum Raine.
"Absolutely!"
***
Dubai Autodrome Circuit
Pagi ini Radhi bersama Bassam menuju arena balap untuk memulai latihan. Jean Dupont menyambut pembalapnya yang tampaknya sudah mendapatkan mood booster karena wajah Radhi hari ini tampak cerah.
"Senang pulang Rad?" tanya Jean Dupont.
"Senanglah! Tidur di kamarku sendiri, dimasakan makanan favorit aku oleh mommy, bertemu dengan keluarga aku... Nikmat mana yang kamu dusta kan..." kekeh Radhi sambil membuka jaketnya untuk bersiap memakai suit pembalap nya.
"Raine nggak ikut?" tanya Gerald yang sudah berganti suit pembalapnya.
"No, Raine bekerja Gerald. Kan masih hari kerja dan mas Damian tidak mungkin kasih cuti terus" kekeh Radhi.
"Raine nggak ikut?"
Radhi langsung melengos mendengar suara yang paling dia sebal. "No McGregor. Raine kerja." Radhi pun berbalik menghadap Charlie McGregor. "Seriously, ini dock Ferrari bukan Mercedes mister. Anda salah rumah!"
"What?" goda Charles.
Radhi menyipitkan matanya sebal lalu berbalik meninggalkan Charlie yang tertawa kecil.
***
Raine pagi ini melakukan briefing dengan para pegawai di divisinya untuk pembangunan sekolah khusus siswa wanita. Raana dan Nura ingin agar ada sekolah khusus wanita yang biayanya tidak mahal jadi semua anak perempuan bisa masuk dan bersekolah disana.
"Miss Blair, proses pembangunan nya akan dimulai bulan Juni besok?" tanya salah seorang pegawainya.
"Yes. Groundbreaking dimulai Juni setelah hasil penelitian divisi research and development menunjukkan lokasi yang kita ambil, cocok untuk pembangunan sekolah..."
Suara ketukan di pintu membuat semuanya yang di ruang meeting menoleh
"Maaf Miss Blair. Ada tamu untuk anda."
"Tolong tunggu sebentar... Setengah jam?" pinta Raine.
"Tidak bisa, Miss. Tamu ini... berbeda..."
Raine menatap bingung. "Siapa?"
"Your Highness Queen Zinnia of Belgium."
Raine melongo. "Mbak Zee?"
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️