Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 09



..."Walaupun cuma tersisa dia di bumi ini, gue tetap nggak bakalan mau sama manusia tiang listrik itu"...


...----------------...


.......


Lorong kelas dipadati oleh para siswa siswi yang baru saja keluar dari kelas. Mereka tentu sudah tak sabar untuk pulang setelah lama mengisi otak mereka dengan semua materi yang disampaikan oleh para guru.


"Cieee,, yang pake hoodie nya cogan..!"


"Gimana, Sya, rasanya? Wanginya Nando aja masih nempel di ni hoodie, lho!!"


Itulah yang diucapkan oleh Vivi di sepanjang jalan. Membuat Syasya jenuh setiap kali mendengarnya.


"Kek nya lo itu emang jodoh sama Nando deh, Sya. Waktu itu lo cerita kan, kalo kalian itu ketemu di salah satu restoran, terus lo nabrak dia, makanya kaki lo jadi kek gitu? Nah, terus kalian ketemu lagi waktu hari pertama lo sekolah disini. Nah, dan sekarang-"


"Vi, bisa diem nggak sih! Jodoh bapak lo! Walaupun cuma tersisa dia di bumi ini, gue tetap nggak bakalan mau sama manusia tiang listrik itu! Gue? Sama dia? Hoeekkk!!" ujar Syasya merasa jijik.


Vivi langsung terkekeh. "Sya, biasanya nih ya, kalo di novel-novel yang gue baca, yang awalnya benci nanti jadi cinta loh, Sya.." goda Vivi lagi.


Syasya geleng-geleng kepala mendengar ocehan sahabatnya itu. Kini mereka berdua sudah di depan gerbang sekolah. Keduanya sama-sama menunggu jemputan.


"Eh, Sya. Itu kakak gue udah dateng. Lo udah minta jemput kakak lo belom?" tanya Vivi.


"Udah lah.." jawab Syasya. Syasya menatap mobil berwarna kuning yang melaju ke arah mereka.


Mobil itu pun berhenti di depan Syasya dan Vivi. Tampak seorang wanita cantik yang duduk di kursi pengemudi.


"Vi, ayo!" ucap wanita itu lembut, memanggil Vivi, adiknya.


"Eh, Kak Nabila?" ucap Syasya terkejut saat melihat kakaknya Vivi yang tak lain adalah Nabila.


Nabila tampak terkejut melihat Syasya. Ia pun langsung turun dari mobilnya. Alhasil, mereka bertiga memilih untuk mengobrol, sembari menemani Syasya menunggu kakaknya.


Beberapa menit kemudian, barulah mobil Dito sampai di sekolah Syasya. Baru saja ia turun dari mobilnya, ia langsung terkejut saat melihat orang yang disukainya ada disana.


"Bil, kok kamu ada disini?" tanya Dito bingung menghampiri mereka.


"Iya, aku jemput adik aku soalnya.." jawab Nabila tersenyum malu.


Melihat senyuman Nabila membuat Dito senyum-senyum sendiri. "Dunia emang sempit ya.."


Nabila kembali tersenyum dan menundukkan kepalanya malu.


"Iya, dunia emang sempittt ba-" belum selesai Vivi bicara, Nabila langsung membungkam mulutnya.


"Kalau gitu kita duluan ya.. Assalamu'alaikum!" Nabila langsung menarik Vivi untuk masuk ke dalam mobil.


"Wa'alaikumsalam!"


Mobil Nabila langsung melaju meninggalkan Dito dan Syasya. Setelah mobil Nabila sudah tak terlihat lagi, Dito pun segera mengajak Syasya untuk pulang.


.


.


Syasya berdiam diri di kamarnya. Sore-sore begini paling enak adalah nyantai, memandang langit jingga sambil meminum coklat hangat.


Tatapannya beralih ke sebuah hoodie yang sedang ia jemur di balkon. Tentu saja itu adalah hoodie-nya si tiang listrik. Syasya berencana untuk mengembalikannya besok setelah kering. Ia tidak mau lama-lama menyimpan barang milik orang menyebalkan itu.


Ting..


Sebuah notifikasi masuk di ponsel Syasya. Ia pun segera meraih ponselnya. Notifikasi dari instagram rupanya.


@Raditya_Daffa mulai mengikuti Anda.


Kedua mata Syasya langsung melebar. Ia mengucek matanya berulang kali, barangkali ia salah melihat. Ia bahkan menampar pipinya. Ini nyata! Bukan mimpi!


Syasya langsung mem-follback akun milik Radit tersebut. Mendadak ia jadi stalker, melihat-lihat postingan di IG-nya Radit.


"Kayaknya dia suka muncak deh," gumam Syasya menyimpulkan setelah melihat postingan-postingan Radit yang kebanyakan sedang mendaki.


"Ganteng.." ucap Syasya tersipu saat melihat salah satu foto Radit.


Saat ia sedang asyik melihat-lihat postingan Radit, tiba-tiba sebuah DM masuk. Syasya langsung membuka DM yang ternyata pengirim nya adalah Radit.


Bermenit-menit mereka saling mengirim pesan. Syasya seakan lupa waktu, hingga akhirnya adzan magrib berhasil mengingatkannya untuk segera melaksanakan kewajibannya.


...@Raditya_Daffa...


^^^Udah dulu kak,^^^


^^^Udah magrib^^^


Oke👌


Gue juga mau


sholat dulu


Eh, Sya


Boleh minta WA lo?


Biar kalo mau ngobrol


lebih enak aja..


^^^085848******^^^


Thanks😁


^^^👌👌^^^


......................


*Di rumah Nando*


Ia segera melipat sajadah dan sarungnya kembali. Tiba-tiba terlintas sesuatu di pikirannya. Ia pun meraih ponselnya dan membuka instagram. Jemarinya tampak mengetikkan sesuatu di kolom pencarian.


🔍Adira Syaqilla Malik


--Tidak ada hasil--


🔍Adira Syaqilla


--Adira_Kayla--


🔍Syasya


--Syasyaqilla_MalikA--


--Syasyadwiesta--


Jari Nando langsung meng-klik akun @Syasyaqilla_MalikA itu. Tampak foto Syasya yang menjadi photo profil nya.


"Banyak juga followers nya nih kurcaci," ucap Nando tersenyum sinis saat melihat jumlah followers Syasya mencapai 4,8 ribu.


*Diikuti oleh bngSattmv_n, Raditya_Daffa, dan 2 lainnya.*


Dahi Nando langsung mengernyit saat melihat akun teman-temannya, termasuk Radit juga mengikuti Syasya.


Ia lantas menyecroll, melihat-lihat postingan Syasya. Mayoritas isinya video-video basket. Setelah Nando tonton rupanya video itu adalah cuplikan pertandingan Syasya sewaktu SMP dulu.


Nando sedikit tercengang melihat permainan Syasya yang menurutnya tidak biasa. Tanpa ia sadari ada perasaan kagum pada sosok Syasya.


Ia lagi-lagi menyecroll, dan menemukan sebuah foto. Foto Syasya memakai seragam basket dengan medali emas yang ia gigit. Dari ekspresi wajahnya, Syasya tampak sangat senang.


"Imut," kata itu keluar tanpa Nando sadari.


"Iya imut. Cantik lagi."


Kalimat itu seketika menyadarkan Nando. Ia langsung membalikkan ponselnya. Menatap Kirana yang tiba-tiba sudah ada di sebelahnya.


"Ck! Bunda kalo masuk ketuk pintu dulu bisa kan?" decak Nando merajuk.


Kirana langsung terkekeh melihat tingkah putranya yang sangat menggemaskan itu.


"Nanti kalo bunda ketuk pintu dulu, nggak bisa liat pacarnya Nando dong.." ledek Kirana.


"Pacar? Siapa bun?" tanya Ahmad yang tiba-tiba masuk ke kamar Nando.


Ahmad Muchtar (53 th), ayahnya Nando. Tegas namun menyayangi keluarganya.


"Bukan pacarnya Nando! Orang dia itu musuhnya Nando kok!" sungut Nando semakin merajuk.


Kirana dan Ahmad langsung tergelak melihat putra semata wayang mereka yang sangat lucu itu.


"Iya iya.. Bukan pacarnya Nando.. Bunda cuma mau ngasih tau Nando, besok Minggu ikut ke Bandung ya, anaknya temen ayah sama bunda mau nikah soalnya.." jelas Kirana.


"Eits! Harus ikut lho. Nggak boleh nolak!" tambah Ahmad.


Nando hanya menjawabnya dengan deheman saja.


"Udah sana, ayah sama bunda keluar aja.." ucap Nando meminta mereka keluar.


"Ya udah yuk, yah. Kita keluar aja! Biar Nando bisa puas ngeliatin foto musuhnya, hehe!" Kirana langsung mendorong tubuh suaminya itu agar keluar dari kamar Nando.


"Bundaaa!!" teriak Nando makin kesal.


.


.


.


Tak terasa hari ini sudah Hari Sabtu. Dan pada hari ini tentunya Syasya libur. Saat ini ia tengah di kamarnya, asyik dengan ponselnya.


Senyuman beberapa kali terbit di wajah Syasya, menandakan suasana hatinya sedang senang. Bagaimana tidak senang? Saat ini ia tengah berkirim pesan dengan cowok yang berhasil membuatnya terpana.


Disaat Syasya tengah asyik chatingan dengan Radit, tiba-tiba Dito datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Kalo masuk ngetuk pintu dulu bisa kan?" kesal Syasya.


Namun Dito tak mendengarkan Syasya sama sekali, ia malah langsung mengambil tas Syasya dan memasukkan beberapa baju Syasya ke dalamnya.


"Kakak ngapain sih!?" tanya Syasya bingung melihat Dito.


"Ikut kakak!" Dito langsung menarik tangan Syasya agar ikut dengannya.


"Kemana?!" heran Syasya. Terpaksa ia mengikuti tarikan Dito.


"Bandung."


Pyarr..


Seketika ponsel yang ada di tangan Syasya langsung terjatuh. Ia langsung berusaha melepas tangan kakaknya yang sedari tadi menariknya.


"Nggak! Syasya nggak mau ke Bandung! Syasya udah nurutin perintah kakak buat pake gips, dan Syasya juga nggak lepasin gips nya! Tapi kenapa kakak masih mau bawa Syasya ke Bandung?!" teriak Syasya ingin menangis.


Ia merasa dibohongi oleh kakak yang sangat ia percayai itu. Ia langsung berlutut, memeluk kaki kakaknya itu.


"Syasya maunya disini sama kakak. Syasya nggak mau di pesantren! Kak??" mohon Syasya.


Dito menggeleng. Membantu adiknya agar lekas berdiri.


"Kita berangkat sekarang."


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...