Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 12



..."Gue nggak akan mundur. Gue akan terus ngejar elo, apapun rintangannya"...


...----------------...


.......


Senin pukul 11.25. Syasya dan Dito telah kembali dari Bandung. Mereka berdua berangkat pagi tadi. Karena mereka baru sampai, tentu saja Syasya jadi izin hari ini.


'Acara keluarga' itulah alasan yang ia berikan kepada gurunya. Benar bukan? Syasya tidak berbohong. Ia tidak berangkat hari ini karena baru pulang dari Bandung. Dan ia ke Bandung karena acara pernikahan kakaknya yang belum ia ketahui sebelumnya.


Mobil Dito telah pergi ke rumah sakit beberapa menit yang lalu. Kini Syasya sendirian di rumah. Sungguh terasa membosankan bagi Syasya. Biasanya sekarang ia sedang bercanda bersama Vivi di sekolah mereka.


"Telpon Vivi ah!" Syasya hendak mengambil ponselnya. "Oh iya! Ini kan bukan HP gue! HP gue kan ketuker sama punya tiang listrik! Ah nyebelin deh!" kesal Syasya.


Ting


Sebuah pesan WhatsApp masuk. Syasya mencoba membuka ponsel Nando. Ternyata tidak di sandi. Ia pun membuka pesan tadi yang ternyata berasal dari nomernya.


...📱085848******...


HP mau dituker kapan?


^^^Ya hari ini lah!^^^


^^^Masa tahun depan!^^^


Iya, gue tahu


Tapi kapan kurcan?!?


^^^Nanti habis lo^^^


^^^pulang sekolah^^^


Oke, di mana?


^^^Serah lo^^^


Kalo gitu kafe xx


depan sekolah


^^^Hm^^^


Syasya kemudian memutuskan untuk tidur siang sembari menunggu jam sekolah usai.


......................


Tett.. tett.. tett..


Para siswa siswi langsung berhamburan begitu bel pulang sekolah berbunyi. Begitupun dengan Vivi yang saat ini sedang bersama Satria.


"Kenapa sih?" tanya Satria bingung melihat Vivi yang sedari tadi tampak khawatir.


"Syasya kok nggak masuk kenapa sih? Dari tadi gue WA juga nggak di bales. Gue telpon juga nggak diangkat-angkat." ujar Vivi.


"Lagi ada urusan kali, makanya nggak berangkat.." balas Satria santai.


"Gue juga tau bang Sat.. Cuma urusan apa kok nggak ngabarin kita!" kesal Vivi.


"Ya mana gue tau!" ucap Satria spontan.


"Tau ah! Cape ngomong sama orang kelewat tolol!" Vivi langsung berjalan mendahului Satria dengan perasaan kesal.


"Eh, Vi! Mau gue boncengin nggak!?" tawar Satria.


Sontak Vivi langsung menghentikan langkahnya. "Gue? Bonceng elo?" ucapnya menunjuk dirinya juga Satria bergantian.


Satria langsung mengangguk-anggukkan kepalanya antusias.


"OGAH!!" Vivi kembali melanjutkan langkahnya meninggalkan Satria.


Sementara itu di sebuah kafe depan sekolah mereka, tampak seorang cowok masih dengan seragam SMA sedang duduk di salah satu bangku kafe tersebut. Cowok itu tak lain adalah Nando.


Karena Syasya belum juga datang, ia pun memutuskan untuk memesan minuman terlebih dahulu.


Bermenit-menit Nando menunggu, namun yang ditunggu tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Ia pun memutuskan untuk menelpon Syasya.


Suara dering ponsel yang begitu nyaring berhasil mengusik Syasya yang tengah ada di alam mimpinya. Dengan sangat terpaksa ia meraih ponsel yang ada di sampingnya. Menempelkan ponsel itu di telinganya.


📞Halo..


Ucap Syasya dengan suara serak khas orang bangun tidur.


📞Woii kurcan!! Lama banget sih, lo! Gue udah nunggu dari tadi tapi mana lo?! Nggak dateng-dateng juga!


Suara dari ujung sana yang terdengar sangat kesal, membuat Syasya langsung menjauhkan ponsel dari telinganya.


📞Lo baru bangun tidur ya?!


Sontak Syasya langsung beranjak dari kasurnya. Melirik jam yang ternyata sudah menunjukkan pukul setengah tiga sore.


📞Enggak! Gue lagi otw!


Bohong Syasya. Tanpa mematikan sambungan telepon, ia langsung berlari untuk mencuci wajahnya.


Nando yang tahu jika Syasya berbohong hanya tersenyum sinis. Mendengarkan grusak-grusuk keributan Syasya di telepon.


📞Gedubrak!


Aduh! Dasar meja kampret!


Teriakan dan umpatan Syasya terdengar di telepon. Nando menduga pasti Syasya baru saja menabrak meja.


📞Lama amat sih lo? Katanya otw.. Nyatanya lo lagi siap-siap kan? Tukang ngibul lo..


📞Ini gue lagi mau otw, bege! Sabar napa sih?!


📞Buruan! Gue juga sibuk!


Balas Nando pura-pura sibuk. Ia pun langsung memutuskan sambungan telepon.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Syasya sampai di kafe depan sekolahnya. Setelah membayar ongkos taksi, ia pun segera masuk ke dalam kafe.


Kedua maniknya menelisik seisi kafe, mencari sosok tiang listrik yang tadi menelponnya. Maniknya menangkap sosok tinggi yang duduk di sudut kafe, tengah menikmati minumannya sambil menatap keluar jendela. Syasya pun melangkah menghampirinya.


"Mana HP gue?!" Syasya langsung meletakkan ponsel milik Nando di depan Nando.


Nando sontak menatap Syasya yang baru saja datang. Ia lantas mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya dan langsung direbut oleh Syasya.


Baru saja Syasya hendak keluar dari kafe tersebut, namun langkahnya langsung terhenti saat sebuah panggilan masuk.


"Halo Kak Radit.."


Nando langsung menatap Syasya tajam. Namun yang ditatap tidak menyadarinya. Nando terus menatap Syasya yang tampak senyum-senyum sendiri.


Syasya lantas melangkah hendak keluar. Namun karena tak memperhatikan jalannya, ia tak sengaja menabrak seseorang.


"Loh, Sya?"


"Kak Radit?"


Ucap Syasya dan Radit bersamaan. Keduanya tampak terkejut melihat satu sama lain.


"Kok lo bisa disini?"


Ucap keduanya lagi-lagi bersamaan. Keduanya langsung tertawa. Nando yang melihat interaksi antara Syasya dan Radit tentu saja merasa jengah.


"Ekhem!" Nando sengaja berdehem, membuat keduanya langsung tersadar.


"Eh, lo juga disini, Ndo?" tanya Radit. "Kalo gitu kita nongkrong bareng disini aja, gimana?" ucapnya lantas menoleh pada Syasya, meminta jawaban.


"Oke!" Syasya langsung setuju dengan ajakan Radit.


Alhasil mereka bertiga nongkrong di kafe tersebut. Nando sebenarnya senang, namun kehadiran Radit membuat mood nya seketika hilang.


......................


Hari-hari Syasya berlalu. Ia kini sudah nyaman dengan sekolah barunya itu. Terlebih sahabatnya, Vivi juga Satria, membuat Syasya betah di sekolah tersebut.


Sepulang sekolah, seperti biasa Syasya dan Vivi berjalan bersama untuk menunggu kakak mereka menjemput.


Saat mereka berdua sedang berjalan melewati lapangan basket, tiba-tiba langkah mereka langsung terhenti. Seseorang mencegat mereka. Orang itu tak lain adalah Radit.


"Kenapa ya, Kak?" tanya Vivi heran.


Radit tampak diam saja. Wajahnya menunduk. Baru kali ini Radit tampak seperti itu. Ia lantas menghirup napas dalam-dalam.


Tiba-tiba datang seseorang menarik Vivi secara paksa untuk menjauh dari Syasya. Orang itu tak lain adalah Satria.


"Apa-apaan lo, bang Sat?!" seru Vivi marah. Ia langsung berontak, melepaskan dirinya dari cekalan Satria.


Vivi langsung melangkahkan kakinya kembali menghampiri Syasya yang tadi tengah dicegat oleh Radit. Saat ini Vivi benar-benar marah, batinnya bertanya-tanya apa maksud Radit dan Satria tadi.


"Vi!" panggil Satria mencoba menghentikan Vivi.


Vivi langsung berhenti. Kedua matanya membola saat melihat pemandangan di hadapannya itu.


"Sebenarnya gue suka sama lo, Sya.." ungkap Radit.


Tiba-tiba Anton muncul entah dari mana. Memberikan sebuah buket bunga mawar kepada Radit.


Radit langsung berlutut dengan satu kakinya, menyodorkan buket tersebut pada Syasya yang masih mematung.


"Lo mau nggak jadi pacar gue?"


Seketika semua siswa siswi langsung berkerumun disana. Tak percaya dengan apa yang mereka lihat. Radit sang idola para cewek menyatakan cinta pada murid baru?


Sontak para penggemar Radit tak terima. Terutama Vira yang saat ini sudah mengepal erat. Sorot matanya sangat tajam menatap Syasya.


Sementara itu disisi lain, tampak Nando dan Davin sedang berjalan bersama. Namun mereka berdua merasa agak aneh melihat keadaan sekitar yang biasanya ramai mendadak sangat sepi seperti saat ini.


"Sepi amat ya, Ndo?" ucap Davin bingung.


Nando menelisik sekitar. Tatapannya kini menangkap kerumunan di lapangan basket. Ia pun langsung melangkahkan kakinya ke sana, diikuti oleh Davin.


Langkah Nando langsung terhenti saat melihat Vira di kerumunan itu yang tiba-tiba murka.


"Nggak! Lo nggak boleh jadian sama dia! Lo itu punya gue, Dit! Lo nggak boleh jadian sama dia!!" seru Vira langsung memeluk Radit dari belakang.


Anton langsung berusaha melepaskan pelukan Vira pada Radit. Ia segera membawa Vira pergi dari sana agar tidak mengacau.


Tatapan Nando langsung teralih menatap Radit yang masih setia menyodorkan sebuah buket pada sosok yang baru-baru ini kerap membuat hatinya bergetar. Syasya. Padahal nama itu sudah terukir di hatinya.


Syasya masih mematung. Entahlah, ia merasa ini hanyalah mimpi belaka.


"Sya.."


Suara itu berhasil menyadarkannya. Ia langsung menatap pemilik suara itu. Wajah yang sangat Syasya inginkan selama ini. Tangan Syasya terulur.


Melihat itu Nando langsung berbalik. Menjauh dari pemandangan menyebalkan itu. Begitu pula Davin, ia langsung mengikuti Nando.


'Gue nggak akan mundur. Gue akan terus ngejar elo, apapun rintangannya..' batin Nando pergi dari sana.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...