Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 23



..."Nggak ada kata patah hati dalam kamus hidup gue"...


...----------------...


.......


Setelah selesai menjalani hukumannya, Syasya memutuskan untuk pergi ke toilet untuk membasuh wajahnya. Saat ia keluar dari toilet, ia bertemu dengan Nando yang ternyata baru dari toilet juga.


Syasya pun cepat-cepat pergi dari sana, namun ternyata Nando membuntutinya.


"Jodoh emang nggak kemana. Ya nggak?" ujar Nando mensejajarkan langkahnya dengan Syasya.


Syasya hanya diam, tak mendengarkan omong kosong Nando. Ia terus melangkah menuju ke kelasnya.


"Btw, gimana? Udah dipikirin belum tawaran gue? Lo mau nggak jadi pacar gue..?" ucap Nando.


Syasya langsung menghentikan langkah kakinya. Menatap Nando dengan tatapan heran.


"Ogah!" tolak Syasya dengan penuh penekanan. Ia kembali melangkahkan kakinya.


Namun lagi-lagi Nando masih terus mengikutinya. Bahkan kali ini tangan kanannya sudah ada di pundak Syasya. Merangkul Syasya tanpa permisi.


"Kenapa? Belum bisa move on? Masih patah hati?" terka Nando.


Syasya kembali menghentikan langkah kakinya. Namun kali ini bukan karena perkataan Nando, melainkan karena sosok yang saat ini berjalan dari arah yang berlawanan dengan mereka.


"Sorry. Nggak ada kata patah hati dalam kamus hidup gue. Dan, oke. Gue mau jadi pacar lo!" ucap Syasya dengan suara yang mengeras di kalimat terakhirnya.


Tangannya lantas langsung meraih tangan Nando yang semula merangkulnya. Ia langsung menggenggam tangan Nando. Mereka berdua lantas kembali melangkah, melewati Radit yang hendak menuju ke toilet.


Tatapan Syasya juga Radit bertemu sekilas, namun dengan cepat Syasya langsung mengalihkan pandangannya ke depan.


Setelah mereka berdua telah jauh dari Radit, Syasya langsung melepaskan tangannya dari genggaman Nando.


"Sorry," singkat Syasya hendak melangkah pergi.


Namun baru saja Syasya melangkah, tiba-tiba saja langkahnya langsung terhenti karena Nando memegangi rambutnya.


"Aw! Sakit kamprett!!" seru Syasya reflek.


Namun bukannya dilepas, Nando malah menarik rambut Syasya. Membuat si empunya otomatis melangkah mundur.


"Sakit woy! Lepasin bege!!" seru Syasya semakin kesal.


Nando pun melepaskan rambut Syasya. Ia lalu mengusap lembut kepala Syasya. Hal ini tentu saja membuat Syasya kebingungan. Nando pun menatap wajah Syasya yang tampak bingung.


"Sorry sorry.. Abis tadi lo mau pergi. Masa pacar sendiri ditinggalin," ucap Nando seperti anak kecil.


Sontak kedua mata Syasya langsung membulat. What's this? Is this really Nando? Benarkah ini Nando si manusia kutub itu? Syasya masih ternganga tak percaya.


"Woi! Kok lo malah bengong sih? Baru sadar kalo ternyata gue itu ganteng?" goda Nando menyadarkan Syasya.


Syasya bergidik ngeri melihat tingkah Nando. Ia langsung berlari menuju ke kelasnya, meninggalkan Nando disana.


"Jangan lupa, entar pulang bareng gue ya, pacar?!!" seru Nando pada Syasya yang terus berlari itu.


Senyuman terukir tipis di bibir Nando. Ia pun segera kembali ke kelasnya, karena ia merasa sudah terlalu lama melewatkan jam pelajaran.


.


Sepulang sekolah, seperti biasa Syasya dan Vivi kini tengah menunggu kakak mereka. Keduanya saat ini tampak sedang asyik mengobrol, hingga akhirnya mobil Nabila datang.


"Bareng nggak, Sya?" tanya Vivi menawarkan.


Syasya menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. Ia lantas melambaikan tangannya pada Vivi juga Nabila, sebelum akhirnya mobil itu melaju pergi meninggalkan sekolah tersebut.


Syasya mencoba menghubungi kakaknya yang tak kunjung datang. Namun kakaknya tak juga menjawab. Mungkin karena sedang sibuk menangani pasiennya.


"Haishh! Pesen ojol aja deh!" Syasya membuka salah satu aplikasi ojol langganannya di ponselnya.


Namun tiba-tiba saja sebuah ninja berhenti di depannya. Ya, dia tak lain adalah Nando. Melihat kedatangan Nando, Syasya langsung memutar mata malas.


"Ayo naik..!" ucap Nando menyodorkan helm cadangannya.


Syasya hanya berdecih. Ia kembali menatap ponselnya, hendak memesan ojol.


"Yakin nggak mau naik? Nanti dimarahin sama kakak lo lho.." ucap Nando lagi.


Dahi Syasya mengernyit, bingung dengan perkataan Nando. Manik Syasya menatap jemari Nando yang seperti sedang menghitung mundur. Dan tepat saat jari Nando menunjukkan angka satu, sebuah pesan langsung masuk di ponsel Syasya. Syasya langsung membuka pesan yang ternyata dari kakaknya.


📩Sya, kamu pulangnya bareng sama Nando ya.. Kakak lagi ada urusan. Harus mau, nggak boleh nolak.


Nando mengedikkan bahunya. "Gue cuma bilang mau nge-date sama lo.."


Ctakk


Syasya langsung memukul helm yang dipakai oleh Nando. Karena tak mau di omeli oleh kakaknya, Syasya pun memilih untuk pulang bersama Nando. Setelah Syasya siap, Nando segera melajukan motornya.


Namun tanpa mereka berdua sadari, tak jauh dari sana terdapat dua pasang mata yang mengintai mereka berdua.


"Dasar jala*g murahan! Kemarin lo ngerebut Kak Radit dari kakak gue! Dan sekarang lo mau rebut Nando dari gue? Jangan harap gue bakal diem aja!" kesal Dira mengepalkan tangannya.


"Bener lo, Dir. Itu cewek nggak ada malu emang!" sambung Santi menambahkan.


......................


Nando menghentikan motornya di sebuah kafe. Kafe yang tak begitu luas, namun terkesan estetik. Pengunjungnya pun tak begitu ramai.


"Gue kan udah bilang balik, ngapain kesini sih?!" kesal Syasya.


"Udah, ikut aja napa sih..?" balas Nando kaku turun dari motornya.


Terpaksa Syasya mengikuti langkah Nando memasuki kafe tersebut. Setelah mendapatkan tempat duduk yang nyaman, mereka pun segera duduk.


Tak lama setelah mereka duduk, seorang cowok berpakaian seperti pelayan menghampiri mereka.


"Dateng juga lo..!" ujar cowok tersebut menyambut Nando.


"Hm." Nando hanya menanggapi cowok itu dengan deheman.


Mata cowok tadi baru menyadari keberadaan Syasya disana. Ia pun langsung menyapa Syasya dengan ramah.


"Wihh,, siapa nih?? Pacarnya Nando ya?" tebak cowok itu menatap Syasya.


"Bukan!" ucap Syasya cepat.


"Oo.. Temennya?" tebaknya lagi.


"Bukan!" ucap Syasya lagi.


"Lah, terus??" bingung cowok itu.


"Gue Syasya-"


"Calon pacar gue," potong Nando datar.


Sontak Syasya dan cowok itu langsung ternganga. Terlebih Syasya, ia langsung mendengus kesal. Sesaat kemudian, cowok itu mengembalikan kesadarannya.


"Gue Rayn Wijayanto, pemilik kafe ini sekaligus temennya Nando," ucap Rayn memperkenalkan dirinya pada Syasya.


"Kalo gitu, gue bikinin kalian minum dulu.." sambung Rayn lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Nando lantas mengeluarkan beberapa buku tulis dari dalam tasnya. Meletakkannya di hadapan Syasya. Hal ini tentu membuat Syasya bingung.


Syasya langsung menatap Nando penuh tanya. Nando yang mengerti dengan arti tatapan Syasya pun langsung membuka salah satu buku tulisnya itu.


"Buruan catat!" ucap Nando.


Syasya yang mendengar itu tentunya kembali melongo tak percaya. Oke, setidaknya kini ia tahu alasan kakaknya ngotot agar ia pulang dengan Nando.


"Kenapa? Lo ngiranya kita bakalan nge-date beneran? Sans habis lo selesai, kita jalan," tutur Nando percaya diri.


"Iyuh! Pede!" balas Syasya jijik.


Karena malas berlama-lama dengan Nando, Syasya lebih memilih untuk segea mencatat apa yang diperintahkan. Saat sudah selesai, ia berencana untuk langsung pulang.


Namun semuanya tak berjalan sesuai rencana Syasya. Baru beberapa menit ia mencatat, kedua matanya kini sudah terasa berat. Hingga lama-kelamaan ia pun tertidur di atas bukunya.


"Minuman spesial udah dat-" Rayn tak melanjutkan kalimatnya disaat Nando menyuruhnya untuk diam.


Nando memberikan isyarat pada Rayn agar meletakkan minuman mereka di meja sebelah yang kosong. Rayn pun segera meletakkan minuman tersebut sesuai perintah Nando. Setelah itu, ia pergi untuk melayani pengunjung lainnya.


Nando berpindah duduk di sebelah Syasya. Ia juga menyandarkan kepalanya di atas meja, menghadap Syasya.


"Manis," ucapnya memandangi wajah Syasya.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...