Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 34



*Beberapa bulan kemudian.


Tin..tin!


Terdengar bunyi klakson motor dari depan rumah. Syasya segera meraih ranselnya yang semula duduk manis di kursi sampingnya.


"Assalamu'alaikum!" ucapnya dengan mulut yang dipenuhi roti. Tanpa menunggu balasan dari kakaknya, ia langsung berlari keluar rumah.


"Wa'alaikumsalam.." balas Dito geleng-geleng kepala melihat kelakuan adiknya yang dari dulu tidak berubah.


Sementara itu diluar rumah Dito, tampak Nando yang masih senantiasa duduk di atas motornya. Sudah 7 bulan lebih ia berangkat ke sekolah selalu bersama Syasya. Jika diingat-ingat lagi, mungkin semenjak kepergian Radit ke luar negeri.


Tak lama, yang ditunggu oleh Nando akhirnya muncul dari balik pintu. Gadis mungil berseragam putih abu-abu yang dirindukan olehnya. Memang selama libur kenaikan kelas mereka tetap sering bertemu, tapi rasanya tetap saja berbeda apabila mengenakan seragam sekolah. Serasa mereka benar-benar murid SMA. (Eh.. kalian kan emang masih SMA. Gimana sih Nando😆)


Syasya segera menghampiri Nando. Menengadahkan tangan kanannya, tanda meminta helm.


Nando menghela napasnya malas. Ia lantas menunjuk pipi kanannya sendiri. Mengisyaratkan sesuatu pada Syasya.


"Paan?" bingung Syasya melihat tingkah Nando.


"Huh.. Ini!" Nando lagi-lagi menunjuk pipi kanannya.


Plak!


Tiba-tiba Syasya memukul kepala Nando. Membuat si empunya langsung meringis merasakan pukulan tersebut.


"Aduh! Kok malah mukul gue sih?!" kesal Nando mengelus bekas pukulan Syasya tadi.


"Lagian, lo ngapain nunjuk pipi lo kayak gitu??" elak Syasya


"Hah?" bingung Nando.


Beberapa saat kemudian, ia pun baru mengerti dengan maksud Syasya.


"Maksud gue ini, kurcann..." ucapnya lagi menjulurkan tangannya ke wajah Syasya. Memungut sisa roti yang sedari tadi menempel di pipi kanan Syasya.


"Ini lhoo.. Ini.." ulang Nando sambil menunjukkan sisa roti itu di depan mata Syasya.


Melihat itu, dengan cepat Syasya langsung membersihkan wajahnya menggunakan kedua tangannya. Sungguh memalukan bila sampai wajahnya belepotan makanan lagi. Apalagi jika itu terjadi di depan Nando.


"Sya! Kok muka lo jadi merah, sih? Hayo ngaku.. Tadi lo mikir apa??" ucap Nando menggoda Syasya.


Sontak Syasya langsung memalingkan wajahnya yang terasa panas itu. Mencoba menghindar dari tatapan Nando.


"Mana ada merah! Udah ah! Buruan keburu telat!" balas Syasya mengalihkan pembicaraan.


Bagi Nando menggoda Syasya adalah satu hal yang terasa sangat menyenangkan. Baru saja ia hendak kembali menggoda Syasya, namun seketika Syasya melemparkan tatapan tajam. Membuat Nando membatalkan niatnya itu.


"Iya iya.. Nggak merah, cuma merona. Hehe!" ucap Nando diiringi tawa.


Namun yang diledeknya tidak memberikan respon. Takut Syasya marah, Nando pun segera memberikan helm cadangannya yang memang ia sediakan khusus untuk Syasya. Setelah Syasya memakai helm dan naik ke atas motor, tanpa menunggu lama Nando langsung melajukan motor ninjanya.


................


Seperti biasa, begitu bel tanda istirahat berbunyi, Syasya dan sahabatnya yang tak lain adalah Vivi juga Satria langsung pergi ke kantin. Baik itu kelas 11 maupun kelas 12 tak mengubah mereka sedikitpun. Kebiasaan mereka masih sama, terlebih kebiasaan buruk yang masih saja menempel pada diri mereka meskipun mereka telah menduduki kelas 12.


Satria yang masih dengan sifat konyol dan bodohnya, Vivi yang masih hobi toxic, dan Syasya yang masih saja malas belajar. Bahkan kenaikan kelas 11 kemarin, Syasya mendapat peringkat ke 105 di sekolah, dan peringkat 15 di kelasnya.


Saat mereka sedang menikmati makanan mereka, tak lama kemudian datanglah Nando dan Davin dengan kaos olahraga yang menempel di tubuh mereka. Yap, karena tadi kelas Nando adalah kelas olahraga. Mereka berdua tentunya langsung bergabung dan duduk dengan Syasya dkk.


Pemandangan itu tentu saja membuat semua siswi perempuan iri pada Syasya juga Vivi. Bisa duduk dengan ketiga most wanted yang super ganteng and cool, adalah mimpi mereka.


Termasuk Dira yang saat ini tengah duduk tak jauh dari mereka. Kedua matanya sedari tadi tak berhenti menatap penuh iri dan benci pada Syasya. Bahkan makanan yang ada di depannya itu ia jadikan sebagai pelampiasan.


Santi, yang duduk di hadapannya tentu saja tau betapa emosinya Dira saat ini. Terbukti dengan makanan yang sedari tadi hanya di aduk-aduk oleh Dira.


"Marah, marah aja kali. Tapi jangan lampiasin ke makanan juga. Mubazir itu jadinya.." ucap Santi sambil terus melahap makanannya.


Santi tak bergeming, enggan menanggapi Dira. Ia memilih untuk diam dan menghabiskan makanannya.


"Kok lo diem aja sih?! Lo denger kan gue ngomong apa?" kesal Dira karena tak ditanggapi.


"Denger. Cuma gue males aja nanggapin opini lo itu. Gini ya Dira, gue cuma mau ngasih saran sebagai sahabat lo. Menurut gue, mending lo lupain Nando deh. Nggak cape apa? Lo itu cuma buang-buang waktu tau nggak sih? Ngejar-ngejar Nando yang emang nggak suka ama lo, sedikitpun. Dan menurut gue, Syasya bukannya kegatelan, Nando aja yang mepetin dia terus." ucap Santi panjang lebar.


"Kok lo malah belain dia sih, San?! Jangan bilang lo temenan lagi sama dia? Dapet apaan lo dari dia?!" sinis Dira meremehkan.


Santi langsung menghentikan makannya. Ya, keluarga dia memang tak sekaya keluarga Dira, juga tak sebanding dengan keluarga Syasya. Ia akui, Dira memang sering mentraktirnya jika mereka berdua pergi hangout. Tapi ia tak pernah meminta itu. Sedikit pun tak pernah terlintas dalam hatinya berteman hanya demi uang.


"Maksud lo apa?" Santi berusaha tetap tenang.


"Ya.. Lo dikasih apaan sampe bisa belain cewek gatel itu?" jawab Dira.


Seketika Santi langsung berdiri sambil menggebrak meja cukup keras. Membuat Dira yang ada di depannya terkejut, juga murid yang ada di dekat mereka.


"Kayaknya otak lo perlu di servis deh. Apa pernah gue minta-minta sama lo? Nggak kan? Lo yang maksa mau beliin gue inilah, itulah.. Gue nggak pernah minta!" kesal Santi namun masih ia tahan.


Ia pun mengangkat baki berisi makanannya, hendak pergi meninggalkan Dira. "Oh ya, perlu lo tau. Gue itu tulus jadi sahabat lo. Bukan karena duit lo maupun status lo."


Setelah mengucapkan hal itu, Santi langsung pergi meninggalkan Dira sendiri di sana. Bisik-bisik mulai terdengar. Mereka yang melihat itu, tentu tak menyangka Dira akan menganggap Santi cewek seperti itu. Semua orang tentu tau, betapa tulus dan setianya Santi dalam berteman.


......................


Sepulang sekolah, Nando tak langsung mengantar Syasya pulang. Ia kini menghentikan motornya di pinggir jalan, tepatnya di sebuah warteg. Maklum, lapar dianya.


Syasya mengernyitkan keningnya, menatap Nando. Nando yang ditatap Syasya langsung mengelus perutnya yang sedang berbunyi. Mereka berdua pun segera masuk ke warteg tersebut untuk mengisi perut mereka.


"Makan apa?" tanya Nando.


"Samain punya lo aja," jawab Syasya.


Nando pun langsung memesan apa yang ingin ia makan, tentunya dalam dua porsi. Untuk dirinya dan Syasya. Setelah pesanan mereka siap, keduanya pun langsung makan dengan lahap.


Syasya selesai makan lebih cepat dari Nando. Ia memilih untuk menatap keluar jendela, melihat ramainya kendaraan yang berlalu lalang. Tak sedikit pula pejalan kaki yang berlalu lalang di depan warteg.


Seketika kedua mata Syasya melebar. Entah apa yang dilihatnya di luar jendela hingga membuatnya langsung berlari keluar. Melihat itu, tentu saja Nando langsung terkejut. Bahkan saking terkejutnya, ia sampai tersedak makanannya.


"Uhuk! Mau kemana?!" seru Nando, namun Syasya sudah berlari keluar warteg.


Dengan sangat terpaksa, Nando pun meninggalkan makanannya yang belum habis itu. Ia langsung mengejar Syasya.


"Sya!" teriak Nando berharap Syasya berhenti.


Namun Syasya masih berlari seakan tak mendengar teriakan Nando. Nando terus mengejar Syasya sambil memanggil namanya.


"Woii KURCANN!!!" teriak Nando selantang-lantangnya. Ia kini sudah tak sanggup lagi berlari. Napasnya tersengal-sengal kelelahan.


Mendengar itu, Syasya sontak menghentikan kedua kakinya. Ia baru sadar jika sedari tadi Nando mengejarnya di belakang. Dengan langkah gontai Nando langsung menghampiri Syasya.


"Lo liat kan?" tanya Syasya tiba-tiba.


"Iya, liat. Liat lo tiba-tiba lari ninggalin gue yang lagi makan. Jahat banget sih lo, kurcan?!" ujar Nando tak percaya.


"Bukan itu maksud gue. Emang lo tadi nggak liat Radit jalan lewat sini?" tanya Syasya.


"Radit?"


Seketika raut wajah Nando berubah. "Lo, belum move on? Inget, Sya. Move on itu hukumnya wajib, bagi orang yang ditinggalkan."


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...