
Syasya pulang sekolah dengan naik taksi. Sesampainya di rumah, ia sedikit terkejut saat melihat ada dua mobil di depan rumah. Mobil yang sangat familiar dan dia rindukan. Dengan terburu-buru ia segera masuk rumah.
"Aaa.. Umi abi! Kangenn!!!" rengek Syasya dan langsung berhambur memeluk umi dan abinya yang sangat ia rindukan itu.
Kedua orang tuanya itu membalas pelukan Syasya. Namun karena Syasya terlalu bersemangat ia sampai tidak sadar jika pelukannya terlalu kuat sehingga membuat sang umi merasa sesak.
"Udah ah, Sya.. Kamu nggak liat umi nggak bisa napas gara-gara kamu peluk kayak gitu. Kasian umi ah!" tegur Dito.
Syasya langsung cemberut, mengerucutkan bibirnya. "Lagian abi sama umi kesininya lamaaaa banget! Emang nggak mau liat keadaan anaknya apa? Syasya kan udah kangen banget sama abi umi.." oceh Syasya sedikit menggerutu.
Aisyah tersenyum dan mencubit pipi putri bungsunya itu. "Abi sama umi juga kangenn banget sama Syasya, makanya kita dateng ke sini. Ya kan, bi?" melirik Malik yang berdiri di sampingnya.
"Iya dong.. Kalo kita nggak kangen, kita nggak akan kesini."
Aisyah langsung mencubit perut Malik. Membuat Malik seketika mengaduh, memegangi perutnya yang terasa nyut-nyutan.
"Pfttt!" Syasya menahan tawanya. Melihat tingkah laku kedua orang tuanya yang sangat ia rindukan.
"Ya udah, kita makan sekarang yuk! Keburu dingin masakan umi."
Dengan senang hati mereka segera menuju ruang makan, terutama Syasya. Sudah cukup lama ia tidak memakan masakan uminya, yang memang menurutnya tidak ada tandingannya.
.
Tepat jam setengah delapan malam, Nando sampai di rumah Syasya. Seperti hari-hari sebelumnya, kedatangannya itu bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan Syasya. Sama seperti Syasya tadi, Nando juga terheran saat melihat ada dua mobil yang terparkir di depan rumah. Bedanya, ia tidak tahu siapa pemilik mobil itu.
Tok.. tok.. tokk
Tak ada jawaban. Namun dari luar Nando bisa mendengar gelak tawa beberapa orang, menandakan penghuni rumah sedang ada di rumah. Ia pun mencoba mengetuk pintu lagi. Dan ya, kesabaran pasti akan berbuah manis. Setelah beberapa saat menunggu, akhirnya pintu terbuka.
"Lam-Eh?! Tante?!"
"Eh? Nando ya? Duh, lama nggak liat kok keliatan tambah ganteng. Cari Syasya ya? Ayo masuk dulu!" Aisyah langsung mengajak Nando masuk ke dalam rumah.
Disaat Syasya sedang asyik menonton TV bersama abi dan kakaknya, tiba-tiba saja uminya datang bersama seseorang. Wajah yang dari tadi tertawa, seketika langsung suram saat melihat Nando yang datang bersama uminya. Ia langsung memalingkan wajahnya, kembali fokus pada acara TV yang sedang mereka tonton.
"Sya, ada Nando kok malah dicuekin sih?" tanya Aisyah.
"Biarin. Syasya masih pengen nonton TV juga!" ucap Syasya bersungut-sungut.
Tuk!
"Aw!! Ihh sakit kakk!!!!" rengek Syasya saat Dito memukul kepalanya menggunakan buku.
"Nggak usah ngeyel! Udah sana belajar! Bentar lagi kamu ujian!" menarik Syasya agar berdiri dari sofa dan lekas belajar.
"Umi.." rengek Syasya dengan wajah memelasnya.
"Bener kata kakak kamu, belajar dulu ya, sayang? Nontonnta nanti lagi?" balas Aisyah selembut mungkin.
"Abi.. Hmm?"
Kini Syasya memohon kepada Malik agar membelanya. Namun sayang, percuma saja ia memohon meskipun menggunakan wajah memelasnya, karena abinya itu malah langsung membuang muka seperti tak melihat Syasya.
"Hishh!"
Dengan langkah besar Syasya menuju ke kamarnya. Diambilnya buku-buku pelajaran dan catatannya. Dengan malas ia menuju ruang tamu. Tampak Nando sudah duduk menunggunya di sana.
"Biasa aja kali mukanya, nggak usah ditekuk kek gitu. Kalo belajar itu yang ikhlas, biar berkah ilmunya.." ucap Nando sedikit meledek.
"Lagian lo ganggu gue lagi nonton aja! Mana dateng nggak konfirmasi dulu lagi! Gara-gara lo gue jadi ketinggalan episode RM hari ini kan?!" Syasya langsung menjatuhkan dirinya di sofa.
"Yaelah, Sya.. Cuma satu episode juga.. Lagian kan lo bisa liat lagi di youtube atau apalah yang lainnya. Belajar itu lebih penting lo, Sya. Lo mau apa kalo nilai ujian lo minim-minim kayak lo, kecil like kurcaci,"
Lagi-lagi Nando meledeknya. Membuat Syasya merasa makin kesal dan malas belajar. Saat ia hendak kabur dari sana, Nando dengan cepat langsung menyeretnya kembali ke sofa.
"Oke, kita mulai pelajaran kali ini! Sekarang buka buku paket halaman 218. Lo kerjain semua soal itu," perintah Nando.
Kedua mata Syasya membulat sempurna menatap 100 soal yang tercetak di buku tersebut. "Seratus soal?? Lo mau bikin gue OD soal apa gimana?!!" seru Syasya tak percaya. *OD \= overdosis
"Wahh.. Emang dasar maniak soal!" gumam Syasya lirih.
Ia langsung memulai mengerjakan soal-soal tadi agar lebih cepat selesai. Beruntung mayoritas soal yang ada disana sudah diajarkan oleh Nando. Ya, walaupun ada beberapa soal yang ia masih kurang paham, tapi its okay lah menurutnya.
Sekitar hampir 2 jam Syasya berkutik dengan soal-soal matematika tadi. Setelah mengecek dan menelitinya lagi, ia pun segera menyerahkan hasil pekerjaannya kepada Nando agar dikoreksi.
"Hmm..."
Nando tampak sangat serius mengoreksi. Tangan kanannya yang memegang pena beberapa kali membuat coretan-coretan di jawaban Syasya. Entah itu karena jawaban Syasya salah atau ia sedang menghitung kembali untuk memastikan apakah jawaban Syasya benar.
Sekitar selama 30 menit, Nando selesai mengoreksi 100 soal yang tadi dikerjakan oleh Syasya. "Bagus, lo udah banyak peningkatan. Tapi jawaban lo masih ada beberapa yang sal-" "Kenapa ngliatin gue gitu? Baru sadar kalo gue itu ganteng?" Nando mengganti pembicaraannya saat menyadari Syasya menatapnya aneh dari tadi.
"Kok bisa ya?" Syasya berucap.
"Bisa lah! Allah itu kan Maha Adil, dia ciptakan manusia seganteng gue, itu gampang. Tinggal kun fa-"
"Apaan sih?!" potong Syasya.
"Maksud gue kok bisa lo ngoreksinya cepet banget?! Sedangkan gue aja ngerjainnya butuh 2 jam-an! Ganteng pala lo apa?!" beo Syasya sewot. "Susah emang ngomong sama lo!"
"Ya udah sih.. Galak amat." balas Nando.
Usai keributan kecil itu, Nando pun memutuskan untuk berkemas, karena memang sudah waktunya dia pulang. Tak lupa ia berpamitan dengan orang tua Syasya dan Kak Dito. Seperti biasa Syasya mengantarnya ke depan.
"Jangan lupa belajar lagi!" Tiba-tiba Nando mengacak rambut Syasya.
Membuat sang empu seketika merengut. Ia hendak membalas, namun ia harus mengurungkan niatnya itu mengingat tinggi mereka yang jauh berbeda, membuat ia tak sampai untuk menyentuh kepala Nando.
"Ckk! Iya! Dasar tiang listrik bawel!!" gerutu Syasya lirih.
"Apaa?? Lo panggil gue apa? Coba ulang kalo berani?"
"DASAR TIANG LISTRIK BAWELL!!" seru Syasya kesal.
Nando menahan tawanya. Ia lalu naik ke atas motornya. "Oke, bye, kurcan!"
...🍀🍀🍀...
Hari-hari paling mengerikan telah tiba. Dimana saat ujian-ujian mulai menerpa kelas 12. Materi demi materi yang selama ini mereka pelajari akan berbuah menjadi soal-soal yang membuat saraf otak menjadi kusut.
Hal itulah yang dirasakan oleh murid 12 IPA 4. Mereka yang notabene-nya lebih mementingkan kesenangan daripada pelajaran, tentu saja akan merasa otak mereka sedang dipaksa untuk kerja rodi. Memikirkan segala jawaban yang sekiranya benar, meskipun menggunakan sistem pengawuran.
Vivi, yang biasanya peringkat satu, dan yaa kadang belajar di waktu senggangnya, pelan-pelan mencerna tiap soal dan menjawabnya berdasarkan logika.
Syasya yang kerap kali diajar langsung oleh Nando, mencoba mengingat-ingat kembali semua catatan dan hal yang pernah Nando terangkan.
Sedangkan Satria, ia bertarung melawan soal-soal tersebut dengan berdasarkan instingnya. Karena menurutnya, insting tidak akan salah jika itu benar.
Sedangkan di kelas 12 IPA 1, Nando tampak tenang mengerjakan soal-soal ujiannya. Begitu juga Davin. Keduanya sama-sama seperti robot yang tak pernah berhenti menulis di lembar jawab ataupun kertas coret-coretan mereka.
Tettt... tettt
Nando dan Davin langsung berdiri, mengumpulkan lembar jawab mereka tepat saat bel berbunyi, diikuti oleh murid-murid lainnya. Berbeda dengan murid 12 IPA 4, yang tampak masih menuliskan jawaban mereka hingga akhirnya pengawas harus memintanya sendiri agar segera dikumpulkan.
.......
>>In the next chapter
"Will you marry me?"
.......
.......
...Maaf baru up sekarang🙏. Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...