
..."Gue akan selalu menepati semua ucapan gue"...
...----------------...
.......
Sekitar pukul lima sore, Syasya baru terbangun dari tidurnya. Ia baru ingat bahwa saat ini ia masih ada di kafe. Syasya pun melihat sekelilingnya yang tampak sepi.
"Nyenyak tidurnya??" cibir Nando yang duduk di depan Syasya.
Syasya yang melihat Nando seketika langsung memutar mata malas. "Nyenyak enggak, nightmare iya!" kesal Syasya.
Nando terkekeh melihat wajah kesal Syasya. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Syasya lebih dekat.
"Masa sih nightmare? Kok bisa sampe ngiler gitu..?" ucap Nando menjahili Syasya.
Sontak Syasya langsung mengusap sekitar bibirnya. Akan sangat memalukan jika memang ia sampai ngiler. Namun tangannya tak merasakan basah. Nando yang melihat tingkah Syasya langsung terkekeh. Hal ini membuat Syasya langsung sadar bahwa ia sedang dibodohi.
"Sialan!" umpat Syasya kesal.
Syasya lantas mengemas buku-bukunya ke dalam tas. Membuat Nando yang melihatnya tentu langsung menghentikan Syasya.
"Eits! Mau kabur ya? Nggak bisa! Lo belum selesai nyatetnya!" cegah Nando langsung memegang tangan Syasya.
Syasya menarik tangannya agar terlepas dari pegangan tangan Nando. Ia pun menghela napasnya, mencoba mempertahankan kesabarannya.
"Mata lo nggak bermasalah kan? Lo liat, udah sore, udah mau magrib.. Ya kali gue nggak balik. Emang mau nginep disini..?" ucap Syasya sehalus mungkin.
Nando melihat keluar jendela. Tampak langit dengan warna jingga yang mendominasi. Karena dari tadi terlalu asyik menatap wajah Syasya yang sedang tertidur, membuat Nando sampai lupa waktu.
Akhirnya ia pun setuju dengan ucapan Syasya. Ia lantas meminjamkan buku-bukunya tadi pada Syasya agar mencatatnya dirumah.
"Nih, lo catet di rumah sampai selesai. Besok jangan lupa balikin ke gue.." ucap Nando berdiri dari duduknya.
Bertepatan saat mereka berdua hendak keluar dari kafe tersebut, Rayn datang menghampiri mereka.
"Wait! Kok udah mau balik aja sih?!" tanya Rayn menghentikan mereka. "Minumnya aja masih utuh!" sambung Rayn menunjuk dua gelas minuman yang ia buat untuk mereka.
Syasya langsung kembali ke kursinya tadi. Ia langsung meminum minuman tadi hingga habis. "Oke, udah habis. Thanks ya.."
Rayn menganggukkan kepalanya. Tak lupa ia melambaikan tangannya pada Nando dan Syasya. Syasya dan Nando pun bergegas pulang.
.
Malam harinya, Syasya mulai mencatat materi-materi yang tertulis rapi di buku catatan Nando. Selama beberapa saat, Syasya sempat terkagum dengan catatan Nando yang sangat rapi itu.
Namun dengan cepat ia langsung menghapus pikiran kagumnya itu. Ia pun segera mencatat materi tersebut agar cepat selesai.
Setelah beberapa jam mencatat, akhirnya Syasya selesai.
"Fyuhh.. Akhirnya selesai juga!" ucap Syasya lega.
Setelah ia membereskan buku-bukunya, ia pun beranjak tidur.
Keesokan harinya, seperti biasa Syasya berangkat ke sekolah dengan diantar oleh Dito. Namun sesampainya di sekolah, ia tidak langsung menuju ke kelasnya, melainkan ke kelas 11 IPA 1.
Syasya berdiri di depan pintu, mencari keberadaan Nando. Namun entah mengapa ia tidak melihat sosok Nando di seluruh sudut kelas.
Dira dan Santi yang melihat kedatangan Syasya langsung menghampirinya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Dira dengan angkuh.
Namun Syasya hanya diam, tak menanggapi pertanyaan Dira. Ia bahkan tak menganggap keberadaan Dira dan Santi. Hal ini tentu saja membuat keduanya kesal.
"Woi! Lo budeg ya?!" seru Santi kesal.
Mendengar itu, Syasya langsung menatap Dira dan Santi yang masih tampak kesal.
"Sorry, gue nggak ada urusan sama kalian..!" balas Syasya datar.
Mendengar balasan Syasya yang terdengar sombong, tentu saja Dira dan Santi semakin kesal. Dira langsung melayangkan tangannya hendak menampar Syasya. Syasya tampak tak mempedulikan Dira yang hendak menamparnya. Namun belum sempat tamparan itu mendarat, tangan Dira langsung dicekal oleh seseorang dari belakang Syasya.
Ya, orang itu tak lain adalah Nando. Ia dan Davin baru saja kembali dari kantin untuk membeli minum. Nando langsung mempercepat langkahnya saat melihat Syasya yang hendak ditampar namun malah diam saja.
Nando menatap Dira dengan tatapan tajamnya. Membuat Dira tak berkutik sedikitpun. Nando lantas langsung menghempaskan tangan Dira.
Tahu di belakangnya ada orang lain, Syasya langsung memutar tubuhnya. Ia mendongak, menatap Nando yang sudah menolongnya. Selama beberapa saat keduanya saling bertatapan.
"Ekhem!"
Deheman dari Davin berhasil menyadarkan keduanya. Keduanya langsung bertingkah seolah tak terjadi apapun.
"Gue mau balikin buku lo. Thanks." Syasya langsung memberikan beberapa buku yang ia pinjam pada Nando.
Nando pun menerimanya. Entah mengapa suasana di sana mendadak menjadi canggung. Dira yang sudah jengah melihat mereka berdua langsung mengajak Santi untuk pergi dari sana.
"Stop!" ucap Syasya saat melihat kedua orang itu hendak pergi. "Gue masih ada utang sama lo, San."
Senyuman sinis terukir di wajah Syasya. Dengan gerakan kilat, ia langsung merampas air mineral yang ada di tangan Davin.
Byurr
Syasya menyiramkan air tersebut pada Santi. Membuat semua orang yang melihat itu langsung menatap tak percaya.
"Maksud lo apaan kampret?!!" seru Santi marah karena ulah Syasya itu.
Syasya kembali tersenyum. Namun kali ini senyuman itu ia buat semanis mungkin.
"Lo lupa? Gue waktu itu kan pernah bilang kalo gue bakal nyiram lo karena lo udah ngeremehin gue. Tapi waktu itu nggak jadi karena gue nggak bawa air. Nah, berhubung sekarang ada air, mending gue siram sekarang aja kan?" ucap Syasya santai.
"Perlu lo inget, kalo gue akan selalu menepati semua ucapan gue.." sambung Syasya dan langsung melangkah pergi menuju ke kelasnya.
Melihat perilaku Syasya, Nando langsung tersenyum puas. Sungguh sifat pemberani Syasya lah yang sangat Nando sukai.
......................
"Sya, entar malem jadi ke pasar malam kan?" tanya Vivi memastikan.
"Harus lo, Sya. Lo tadi udah bilang bisa, nggak boleh ingkar janji, entar lo dosa!" tambah Satria.
"Iya.." balas Syasya.
Malam ini mereka bertiga berencana untuk pergi ke pasar malam. Terlebih besok adalah hari libur, jadi tak perlu khawatir terlambat masuk sekolah lagi.
Sesuai janjinya pada kedua sahabatnya, Syasya kini tengah bersiap-siap untuk ke pasar malam. Sebelumnya ia sudah meminta izin pada kakaknya, dan ia langsung mendapatkan izin.
Tepat pukul setengah delapan malam, Vivi datang menjemput Syasya menggunakan mobil milik Nabila. Tanpa menunggu lama lagi, Vivi langsung melajukan mobilnya menuju ke pasar malam.
Setelah menempuh perjalanan selama beberapa menit, akhirnya meraka sampai di tempat tujuan mereka.
Mereka pun segera turun dari mobil dan menunggu kedatangan Satria.
"Hish! Si bang Sat lama amat sih?!" kesal Vivi karena Satria tak kunjung datang.
"Sabar kali, Vi.." ucap Syasya.
Tak lama kemudian, yang mereka tunggu akhirnya datang. Namun Satria tampak tak sendiri. Ia tentu saja mengajak kedua sahabatnya, Nando dan Davin.
"Sorry, udah dari tadi ya?" ucap Satria menghampiri Vivi dan Syasya.
"Nggak, baru aja. Ya iyalah udah dari tadi!! Lama amat sih lo?!" kesal Vivi.
"Hehe.. Ya sorry, Vi. Habis mereka berdua dandannya lama banget sih!" Satria menyalahkan Nando dan Davin.
"Eh, gue ngajak mereka nggak papa kan ya? Kan kalo makin rame makin seru..!" sambung Satria.
"Hmm." balas Vivi.
Ia pun langsung mengajak Syasya untuk berkeliling. Sedangkan ketiga cogan, mereka tentu saja mengikuti Syasya dan Vivi.
"Sya, kita naik itu!!" seru Satria antusias saat melewati wahana bianglala.
Syasya tentu saja langsung menolak ajakan Satria. Namun, karena Vivi juga memaksanya, ia kini hanya bisa pasrah.
"Bukannya lo nggak suka beginian ya, Vi?" Syasya merasa curiga dengan perubahan Vivi.
"Em.. Lagi pengen naik aja!" balas Vivi santai.
Setelah mengantre cukup lama, akhirnya kini giliran mereka untuk naik.
"Yah.. cuma muat empat orang.." ucap Satria saat ia tidak kebagian tempat duduk. Sedangkan Syasya, Vivi, Nando, dan Davin sudah duduk di dalamnya.
"Gue gimana??" ucap Satria memelas.
Vivi dan Davin pun keluar dari sana, menyisakan Syasya dan Nando.
"Loh, kok kalian malah keluar?" heran Syasya.
"Masa Satria naik sendiri sih, Sya.." balas Vivi.
"Terus kenapa harus dia? Kenapa gue nggak bareng lo aja, Vi?" tanya Syasya menunjuk Nando.
Vivi tak menjawab Syasya. Ia malah langsung menutup pintunya. Bianglala pun mulai berputar. Tak ada percakapan antara Syasya dengan Nando.
"Lo mau nggak jadi pacar gue?" ucap Nando tiba-tiba membuat Syasya terkejut.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...