Love, 35 Cm

Love, 35 Cm
Chapter 30



..."Terlalu percaya diri adalah musuh terbesar lo"...


...----------------...


.......


Prittt


Waktu time out telah habis. Kedua tim kembali memasuki area lapangan.


"Awas aja lo kalo nyerah!" ancam Santi saat berjalan melewati Lita.


Syasya yang melihat itu langsung tersenyum. Ia tahu, bahwa Santi tidak akan benar-benar menonjok Lita. Ia melakukan itu pasti hanya untuk menggertak agar Lita tidak menyerah.


Lita sudah berjalan menuju garis tengah lapangan untuk bersiap merebut jump ball.


'Semangat!!' batin Lita sambil menepuk kedua pipinya.


Bola dilambungkan oleh seorang wasit. Setelah mencapai titik tertingginya, Lita dan lawannya langsung melompat.


'Gue harus bisa!!!'


Bola berhasil direbut Lita. Ia pun langsung mengoperkannya pada Syasya. Dan Syasya segera menggiring bola ke daerah lawan.


Namun lawan dengan cepat kembali menghadangnya. Ia pun langsung mengoperkan bola ke Santi yang ada di dekat ring lawan.


Santi terus mendribble bola, mencoba mencari kesempatan disaat lawan di depannya itu lengah.


Namun karena terlalu fokus mendribble, ia malah tidak menyadari bahwa ada lawan di belakangnya yang hendak merebut bola darinya.


"San!" teriak Syasya hendak memberi tahu Santi.


Namun terlambat, bola kini berhasil direbut oleh lawan. Dalam sekejap mereka langsung melakukan serangan balik.


"Sialan!" umpat Santi langsung berlari kembali menyusul lawan yang sedang mendribble bola itu.


Lawan itu langsung melompat hendak memasukkan bola ke dalam ring, namun Lita tak tinggal diam. Ia juga melompat untuk melakukan blocking.


Blaakkk!!


Lita berhasil memblock bola tersebut sehingga menggagalkan tim lawan untuk mencetak poin.


"Masih belum, bego!!" ternyata Leni berhasil mendapatkan bola tadi dan hendak mencetak poin.


"Nggak bakal gue biarin!!" seru Santi yang tiba-tiba sudah ada disana.


Blaakkk!!!


Bola langsung terlempar jauh sebelum menyentuh ring karena blocking dari Santi.


Bola berhasil dikuasai Syasya. Ia kembali mendribble menuju ring lawan. Namun kini ia dihadang oleh salah satu lawannya. Ia pun langsung mengoperkannya pada Santi.


Plung


Tembakan dari Santi akhirnya berhasil menghasilkan poin. Kedudukan saat ini menjadi 40-39, atau tim Syasya unggul satu poin.


Rebound berhasil dimenangkan oleh lawan. Dalam sekejap mereka kembali menyerang.


Plung


Three point dari tim lawan berhasil membalikkan keadaan. Kedudukan saat ini menjadi 40-42. Sedangkan waktu hanya tersisa sepuluh detik.


Syasya segera mendribble bolanya dan kembali dihadang oleh lawan yang tadi.


"Udah, terima aja kalo kalah. Lo liat? Waktunya udah abis bege! Udah pasti tim gue yang bakal menang!" ucap lawan di depannya itu tersenyum mengejek.


"Sorry. Nggak ada kata kalah dalam kamus gue.." balas Syasya tak kalah sinis.


Ia langsung melompat. Memposisikan dirinya hendak melakukan shooting. Melihat itu, lawannya yang ada di depannya langsung melompat dengan mengangkat kedua tangannya.


"Three point dari jarak sejauh ini nggak bakalan masuk bego!" ejek lawannya mengingat saat ini mereka jauh di luar garis three point.


Syasya hanya tersenyum sinis menghadapinya. Ia teguh dengan pendiriannya, dan yakin bahwa ia pasti akan berhasil melakukannya seperti kali terakhir.


Bola sudah ia tembakkan ke arah ring. Dan..


Plung


Priiittt


Waktu habis dengan akhir yang manis. Sorakan para penonton langsung bergemuruh memenuhi lapangan indoor tersebut.


Dea, Lita, Cika, Vivi, bahkan Santi pun langsung berhamburan memeluk Syasya.


"Kita menangg!!!" sorak mereka semua senang.


"Gimana? Lo nggak habis pikir kan? Makanya jangan terlalu percaya diri. Karena terlalu percaya diri adalah musuh terbesar lo," ucap Syasya lantas kembali bergabung dengan rekan-rekannya.


......................


Hari mulai petang. Setelah pertandingan Syasya berakhir, mereka langsung pulang. Mereka tidak mengadakan perayaan karena tubuh Dea dkk sudah sangat lelah karena pertandingan yang panjang tadi.


Mereka memilih untuk langsung kembali ke sekolah mereka dengan menaiki bus yang memang sudah disewakan oleh pihak sekolah. Sesampainya di sekolah, mereka pun segera pulang ke rumah masing-masing.


Lagi-lagi Syasya diantar oleh Nando. Entah sudah berapa kali ia diantar pulang menggunakan motor Nando. Padahal dulu ia sama sekali tidak dekat dengan Nando. Namun ia juga tidak tahu kenapa sekarang ia malah selalu bersama Nando?


Sejak kapan mereka mulai saling mengobrol dan sejak kapan mereka jadi semakin dekat, Syasya bahkan tidak yakin kapan hal itu terjadi.


Motor Nando sudah setengah perjalanan menuju ke rumah Syasya. Namun sedari tadi ia tak mendengar suara dari yang ia bonceng. Padahal biasanya Syasya selalu mengoceh saat ia bonceng.


Nando sungguh bingung dengan tingkah Syasya kali ini. Lagi-lagi ia dibuat semakin bingung dan terkejut saat tiba-tiba tangan Syasya memeluknya. Tak hanya itu, ia bahkan merasakan kepala Syasya menyender di punggungnya.


"Ekhem ekhem!! Main peluk-peluk aja. Nggak pake ijin lagi!" cibir Nando tersenyum dibalik helmnya.


Tak ada balasan dari Syasya. Ia bahkan tak bergerak sedikitpun dan masih senantiasa pada posisinya sambil memeluk Nando.


Nyes


Tiba-tiba Nando merasakan basah di punggungnya. Sontak ia langsung menepikan motornya ke tepian jalan. Ia menoleh ke belakang, tepatnya menengok apa yang terjadi pada Syasya. Betapa terkejutnya ia saat melihat Syasya.


"What the hell??! Jadi dari tadi dia tidur?! Emang dasar nih bocah nggak ada akhlak dah!" gerutu Nando kesal.


"Sya.." panggil Nando lembut.


Nando berniat untuk membangunkan Syasya. Namun niatnya itu langsung ia urungkan saat melihat wajah Syasya yang tampak sangat kelelahan itu.


Alhasil Nando kembali melajukan motornya dengan tangan kanan yang mengegas motor dan tangan kiri memegangi tangan Syasya agar tetap memeluknya. Takutnya nanti jika sampai Syasya melepas pelukannya, bisa-bisa ia akan terjatuh.


.


Kini Nando sudah sampai di depan rumah Syasya. Tampak mobil Dito sudah terparkir disana, menandakan Dito sudah ada di rumah.


"Gimana cara bawa nih kurcan?"


"Apa bangunin aja??"


"Ah, enggak ah. Kasian."


Nando terus beradu dengan argumennya sendiri. Setelah beberapa saat berpikir, ia pun akhirnya menggendong tubuh mungil Syasya di punggungnya.


"Assalamu'alaikum!!" seru Nando di depan pintu sambil menggendong Syasya.


"Assalamu'alaikum!!" serunya lagi karena tak ada yang menjawab.


"Assalamu-"


"Wa'alaikumsalam!" balas Dito dari dalam rumah.


Pintu pun terbuka. Betapa terkejutnya Dito saat melihat Syasya yang memejamkan kedua matanya dan digendong oleh Nando.


"Ya Allah.. Syasya kenapa? Pingsan? Kenapa? Cepetan bawa masuk!" heboh Dito langsung menyuruh Nando masuk.


"Sini sini! Bawa kesini!" Dito merapikan sofa yang agak panjang.


Nando pun segera membaringkan Syasya di atas sofa tersebut. "Bukan pingsan Kak,"


"Lah terus??" Dito menatap Nando heran.


"Tapi tidur,"


Seketika Dito ternganga mendengarnya. Namun setelahnya ia langsung bernapas lega.


"Ya Allah.. Bikin panik aja kamu, Sya! Kecapekan kamu ya.." ucap Dito sambil mengelus puncak kepala Syasya.


"Iya kali, Kak. Soalnya tadi itu lawannya nggak bisa dianggap remeh," ucap Nando.


"Kalo gitu gue pulang dulu, Kak. Assalamu'alaikum!" pamit Nando.


"Wa'alaikumsalam. Thanks lo udah nganterin Syasya pulang!" Dito mengantar Nando keluar.


Nando pun segera melajukan motornya untuk pulang.


.......


.......


...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...