
..."Kebahagiaan nggak akan sempurna jika tanpa keluarga"...
...----------------...
.......
Kuarter ketiga telah dimulai. Sesuai dengan rencana mereka, bahwa Syasya dan Santi yang akan menghadapi Sinta.
Seperti biasa, Sinta menguasai bola. Dan Santi pun langsung menghadangnya. Duel antara dua power forward.
Sinta bergerak ke kanan, Santi pun juga bergerak ke kanan. Sinta bergerak ke kiri, dan Santi juga melakukan hal yang sama. Membuat Sinta sedikit kesulitan untuk lolos dari penjagaan Santi.
"Lo pikir kita bakal diem aja dengan lo yang udah ngremehin kita??" ucap Santi.
"Emangnya kalian bisa apa?? Kalian pikir bisa ngalahin gue? Cih! Nggak usah mim-"
Sinta langsung tercengang saat bola yang semula ada di tangannya tiba-tiba saja menghilang. Ia langsung menoleh, dan ternyata bola itu sudah berhasil direbut oleh Cika.
Santi langsung meninggalkan Sinta. Ia langsung berlari dan menangkap operan dari Cika.
Plung
Shoot dari Santi berhasil menambah poin untuk timnya.
"Mimpi boleh. Tapi jangan ketinggian, entar kalo jatuh sakit lhoo.." ledek Santi langsung berlalu melewati Sinta.
Kini Syasya sedang mendribble bola yang ada di tangannya. Namun tentu saja Sinta langsung menghadangnya. Hal ini tak membuat Syasya gentar sedikit pun.
"Masih nggak nyerah juga lo? Lo duel sama gue jelas kalah lah.. Liat. Lo aja udah kalah body sama gue! Secara tinggi gue aja 169, lah lo? Emm.. Mungkin sekitar 14 cm bedanya, ya nggak?" ucap Sinta meremehkan.
Syasya hanya menanggapi ejekan Sinta dengan senyuman manisnya. Sembari terus mendribble bola, ia pun membalas ejekan Sinta tersebut.
"Khem! Tapi, ada baiknya juga loh, gue pendek begini.." tutur Syasya membuat Sinta mengernyitkan dahinya.
"Dengan gue yang pendek begini, lo bakal terus nunduk sama gue kan??" sambung Syasya tak kalah sombong.
Sinta langsung terdiam. Bila dipikir lagi, memang benar yang diucapkan oleh Syasya. Ia selalu menunduk bila berbicara dengan Syasya, karena perbedaan tinggi mereka yang lumayan jauh.
Melihat Sinta yang mulai lengah, Syasya langsung berlari melewatinya.
Plung
Poin kembali mereka cetak. Betapa senangnya Syasya dan rekan-rekannya ketika strategi yang mereka susun berhasil.
Sinta yang sudah mulai terbawa emosi, kini mulai tak terkendali. Setiap operan juga tembakan yang ia lakukan selalu saja tak berhasil.
Kesempatan tersebut dimanfaatkan oleh Dea beserta timnya untuk terus mencetak poin sebanyak-banyaknya. Menit demi menit, akhirnya Dea dan timnya berhasil memperkecil selisih poin mereka menjadi 37:39, selisih dua poin dengan tim Sinta.
Kuarter ketiga berakhir. Kedua tim kini sedang beristirahat di bangku pemain.
"Sin! Lo bisa fokus nggak sih?! Dari tadi operan bahkan tembakan lo itu nggak ada yang berhasil!" sentak salah satu rekan setimnya.
"Udah.. Nggak usah emosi. Tenang. Dan buat lo, Sinta. Gue mohon, lo jangan egois. Kalo sekiranya lo nggak bisa ngelawan mereka sendiri, biarin kita bantu lo lah.. Kita itu tim-"
"Berisik!! Banyak bacot kalian! Gue bisa nanganin semua curut itu sendiri! Justru karena kalian! Kalian itu cuma beban buat gue! Kalian itu cuma bisa ngrepotin gue!!" seru Sinta memotong ucapan Adel.
Dengan amarah yang masih di puncak ubun-ubun, Sinta memilih kembali masuk ke lapangan. Ia sungguh tak suka dinasihati. Mereka pikir mereka siapa? Berani-beraninya mereka menasihatinya. Itulah menurut pendapat Sinta.
Setelah beberapa menit, akhirnya kuarter keempat, atau kuarter terakhir dimulai. Sinta yang sedari tadi sudah di lapangan, menatap kedatangan Syasya juga timnya dengan tatapan penuh kebencian.
Sinta merasa bahwa Syasya dan timnya pasti sengaja ingin membuatnya emosi agar ia selalu gagal baik saat mengoper maupun menembak.
Pertandingan dimulai. Kali ini jump ball berhasil dimenangkan oleh Lita. Timnya tentu saja langsung bersemangat, namun lain dengan Sinta yang wajahnya tampak semakin suram itu.
Seketika senyuman licik terbit di wajahnya. 'Kalian yang udah nuang bensin ke api,' batin Sinta tersenyum licik.
"Kalian pikir rencana kalian berhasil? Jangan terlalu seneng dulu. Gue tau, kalian sengaja manas-manasin gue kan? Gue akui, rencana kalian tadi emang berhasil. Tapi kalo sekarang, gue nggak yakin rencana kalian bakal berhasil lagi.." ucap Sinta terus menghadang Syasya.
"Gue nggak nyangka, lo bisa pake cara licik gini. Gue kira lo itu cewek polos, nyatanya lo cuma cewek licik!" sambung Sinta.
"Terserah lo, lo mau ngomong apa tentang gue. Gue nggak peduli! Lagipula salah lo juga kalo nganggep gue cuma cewek polos yang gampang dikibulin.. Sorry, gue nggak sepolos itu!" balas Syasya.
Ia lalu mengoperkan bola ke Santi. Setelah menangkap operan dari Syasya, Santi langsung mendribble menuju ring.
Plung
Kedudukan kini seri di menit ke empat kuarter terakhir.
"Nice," puji Syasya dan langsung tos dengan Santi.
Semenjak pertandingan pertama hari itu, Santi seperti lupa jika ia tidak suka dengan Syasya. Bisa dikatakan saat ini hubungan antara keduanya seperti teman, walaupun kadang Santi masih berbicara kasar.
"Jangan senang dulu, karena gue pasti bakal bales dua kali lipat dari ini!" ucap Sinta berjalan melewati Syasya dan Santi.
Bola kini berada di tangan Sinta. Langkahnya terhenti saat Santi ada di depannya. Namun ia kali ini tak akan terpengaruh lagi dengan omong kosong yang akan dikatakan oleh siapa pun, termasuk Santi.
Sinta terus mendribble bola. Semakin cepat dan terus semakin cepat. Santi yang melihat itu sempat melongo tak percaya. Ia akui, mungkin Sinta memang lebih hebat darinya. Namun ia tidak akan menyerah hanya karena lawannya itu lebih hebat darinya.
Sinta berhasil melewati Santi. Namun kini Syasya menghadangnya. Senyuman licik langsung mengembang di bibir Sinta.
"Nggak nyerah juga lo. Eh, btw, gue tadi nggak liat keluarga lo. Apa mereka nggak nonton lagi??" ucap Sinta mengecoh Syasya.
"Mau keluarga gue nonton, mau enggak nonton. Apa urusannya sama lo?" balas Syasya tetap tenang.
"Emang nggak ada urusannya sih sama gue. Tapi, gue cuma kasian aja sama lo. Dari dulu lo tanding, mereka nggak pernah dateng buat nonton lo. Liat arah jam 12, keluarga gue selalu sempatin waktu buat nonton gue tanding." ucap Sinta tetap mendribble.
Syasya terdiam. Benar yang dikatakan Sinta. Dari dulu keluarganya tidak pernah hadir sekali pun untuk menonton ia tanding. Bahkan kejuaraan nasional SMP pun, mereka tidak hadir waktu itu. Jujur, Syasya sempat iri dengan Sinta yang selalu mendapat dukungan dari keluarganya.
Plung
Sorakan dari penonton langsung menyadarkan Syasya dari lamunannya. Ia langsung menoleh saat seseorang menepuk pundak kanannya. Ya, dia adalah Santi. Santi tentu mendengar semua perkataan Sinta dan Syasya tadi.
"Nggak usah dengerin omong kosongnya. Fokus!" ucap Santi berlalu.
"Bener! Nggak usah dengerin dia! Fokus! Fokus!!" ucap Syasya menepuk kedua pipinya.
Bola kini ditangan Syasya. Lagi-lagi ia berhadapan dengan Sinta. Syasya tetap fokus, meskipun Sinta terus mempengaruhinya dengan berbagai omong kosong.
"Gue cuma kasian sama lo. Menurut gue ya, Sya. Kayaknya keluarga lo itu nggak setuju kalo lo main basket deh. Kenapa lo nggak berhenti main aja?" ucap Sinta mempengaruhi.
"Lo tau nggak? Kemenangan emang membuat kita bahagia. Tapi apa gunanya kebahagiaan tanpa ada keluarga?" sambung Sinta.
Selama beberapa saat Syasya sempat terpengaruh dengan hasutan Sinta. Hingga sebuah teriakan dari seseorang berhasil menyadarkannya.
"Kurcan!!"
Syasya melirik ke arah teriakan tersebut. Tampak Nando berdiri sambil menunjuk beberapa orang yang sedang duduk di bangku sebelahnya.
Melihat mereka semua yang tak lain adalah keluarga yang dari tadi Syasya nanti, membuat senyuman Syasya langsung mengembang di bibirnya.
"Lo bener, kebahagiaan nggak akan sempurna jika tanpa keluarga. Tapi nyatanya, sekarang kebahagiaan gue udah sangat sempurna dengan kehadiran mereka.." ucap Syasya menatap Sinta sinis.
.......
.......
...Makasih udah baca cerita ini. Jangan lupa kasih dukungan ya..🤗...